
Naqia masih dalam posisi yang sama, yaitu membuat tubuh besar Yuga sebagai bantalan guling.
Penyiksaan buat Yuga ini mah, lebih tepatnya menyiksa adiknya yang sudah karatan lama, tidak dihasa lagi setelah menjadi duda di tinggal mati.
Adik yang sudah berdenyut dari tadi, kini kian sesak saja di kala paha Naqia menekannya, beeeh... Naqia semakin membuatnya menegang on di mana kini Naqia mendusel-duselkan wajah polos cantik itu ke arah dadanya, mungkin mencari kehangatan seperti kucing ke induknya.
"Naqia, jangan menyiksaku!" Gusar Yuga dalam hatinya, ia jadi bingung mau melakukan apa? mau bangkit berpaduan solo di kamar mandi dengan Tante Lux pelicinnya, eh... Naqia semakin erat memeluknya, mau menghantam body Naqia, nanti di bilang cab*l karena melanggar janji, dan mungkin traumanya semakin menguasai kejernihan otak nan hatinya.
Gimana readers, beri solusi dong? Yuga kian menahan nafas sesak gusarnya, begini amat sih hidup, punya istri tapi masih kayak duda lumutan. dumelnya mengejek dirinya sendiri.
Pendingin ruangan on di sudut atas sana, tapi kenapa Yuga berkeringat kegerahan, mungkin akibat menahan ikan koi yang ingin lepas di dalam pembungkus segitiga Bermuda itu eh.. segitiga kain ding, masih kurang paham? itu lho...kain semvaaak.
Tahan? it's ok! batin Yuga, mencoba memejamkan matanya dengan posisi enak-enak menyiksa si ikan koi, mungkin dengan cara di bawah tidur, lama-lama si ikan koi akan tidur pun, semoga saja.
Dan detik demi detik berganti menit, hingga berganti ke jam pun, tetap saja seorang Yuga tidak bisa tidur, Naqia semakin gila dalam ketidaksadarannya, tangan Naqia tidak sengaja berposisi di atas ikan koi-nya, paha sih memang di turunkan, tapi oh ternyata....ini lebih menyiksa, auto si koi jadi semakin ingin keluar dari jalan kain.
Tidak bisa di biarkan begini terus, kalau di tahan bisa jadi penyakit untuknya, Yuga nekat! ia butuh pelepasan, jangan sampai bangun! doanya kenceng-kenceng dalam hati karena ia berniat mengrep*-rep* istri sendiri, tak masalah 'kan, udah halal dong.
Dengan itu, Yuga nakal, tangan Naqia yang di atas koi, ia gerak-gerakan naik turun, berfantasi liar, seakan-akan Naqia sendirilah yang menggerakkan tangan itu, di atas sana ia membuka dua kancing piayama Naqia tepat di ehm..Dada!
"Mulus!" gumam Yuga, matanya kian menggelap karena libidonya sudah di ubun, padahal hanya melihat belahan berdaging empuk itu, bagaimana rasanya saat minum tutu, dahaganya lezat kali ya? walaupun tidak memproduksi air khusus tapi kenapa dahaganya terobati, Entahlah...tanyakan pada Yuga, jangan tanya ke Naqia karena ia belum ngerasain nikmatnya surga dunia itu apa, makanya ia trauma di sentuh.
"Jangan bangun ya, istri pintar ku!" Mantranya lagi dalam hati, dan sejurus Yuga mengecup sana sini leher itu, meninggalkan beberapa bekas gigitan nyamuk beracun.
Belum puas di bagian dada dan leher, Yuga mendongak sedikit ke wajah Naqia yang masih terpulas, tidak ada tanda-tanda terbangun.
Bagus, pokoknya jangan bangun!
Saat ini, Yuga ingin mencari keberuntungan di bibir itu, di kecupnya pelan bibir itu dua kali, belum puas, ia gemas sendiri... Boleh lamuuuttt nggak ya? boleh kayaknya sih. Dengan itu, Yuga sedikit bermain di bibir itu, ah.. Shiiit, Naqia merasa terganggu, wanitanya itu melenguh, dan bergerak menarik tangannya yang ada di ikan koi.
Yaakh, di beri punggung! Yuga mengelus dadanya sabar, punggung Naqia terasah musuh karena ia belum puas bermain di tubuh itu.
(Yuga maling)
"Aku dengar ya, dasar otor nggak punya rasa kasihan ke aku!"
Masih merasa sesak di bawah sana, Yuga akhirnya nyari aman, masuk ke dalam kamar mandi mencari keberadaan Tante Lux, itulah satu-satunya agar ia tidak terkena vertigo akut.
Aaargh.. Dan beberapa menit di dalam sana, suara lolongan laknat itu terdengar sayup-sayup oleh telinga cicak-cicak di dinding sebagai saksinya.
Akhirnya lega... Yuga sudah selesai dari ketersiksaannya malam ini, ia pun naik ke kasur, menaruh bantal guling dua di tengah-tengah biar Naqia tidak bergerak sesuka hati lagi, jangan sampai si ikan koi yang sudah tidur loyo mau kabur lagi dari jalanya, ribet lagi nanti urusannya.
Dan seperkian detik, mata Yuga terpejam, menikmati malam indahnya, hanyut melalang buana di alam bawa sadarnya.