Stupid Wife

Stupid Wife
Meminta Maaf Dan Memaafkan



Di sebuah halte, terlihat seorang laki-laki duduk gusar dengan hati tidak menentu. Dia adalah Zaki, satu pekan lebih ini dia mengaduh nasibnya di jalan, sana sini mencari pekerjaan yang sesuai ijasah S3nya. Namun...Dewa keberuntungan masih belum mau berpihak kepadanya.


"Kenapa susah amat. Prestasi ku dulu di kantor adalah juara, tapi melihat CV ku yang pernah korupsi malah zonk. Pengumumannya saja ada lowongan, eh... ujung-ujungnya di tolak."


Zaki meninju-ninju udara kesal. Orang-orang yang menunggu bus jadi menatap aneh ke arah Zaki namun mantan suami Naqia itu tidak peduli, dia larut dalam pikirannya sendiri.


"Apa karena aku begitu pendosa?" Otak itu pun akhirnya melalang buana ke belakang, di mana dia teringat perlakuan buruknya ke Naqia, satu persatu.


"Aku bahkan tidak pernah meminta maaf ke Naqia dengan hati yang tulus." Lirihnya baru menyadari itu.


"Naima apa kabar ya?" Dia pun rindu ke wanita yang entah apa status mereka. Pacar bukan, istri apalagi dan mungkin lebih tepatnya dia dan Naima bisa di sebut hanya sebatas teman ranjang saja.


Jujur....Dia punya rasa ke wanita sombong itu. Dia pun turun ke jalan untuk mencari pekerjaan karena dia ingin membuktikan ke Naima kalau dia bisa menafkahi anaknya nanti. Tapi kalau CV-nya di tolak terus menerus mana bisa dia membuktikan ke Naima.


"Aakhhhh, nyebelin amat sih ni nasib dari kecil hanya bisa menjadi benalu orang, punya ijazah tinggi pun tidak berguna." Dumelnya. Sejurus dia naik ke bus yang baru berhenti, dia ingin menemui Naima karena rindunya sudah mengubun.


Dan Zaki baru tahu makna dari pribahasa... Berendam sesayak air, berpaut sejengkal tali.


Prak prak..


"Pak stop!" Pekik Zaki tiba-tiba ke sopir dengan tangan itu mengemprak langit langit kendaran.


Zaki berlari ke keluar dari kendaraan umum itu, dia sekilas melihat Yuga dan Naqia yang memasuki sebuah cafe yang bisa di lihat dari jalan.


"Aku pesan makanan dulu." Tanya Yuga penuh kasih sayang ke Naqia yang saat ini Naqia memilih duduk di bagian table luar cafe. Mereka berdua habis dari kantor untuk terakhir kalinya karena akan melakukan perjalanan bulan madu entah berapa lama.


"Eum." Singkat Naqia seraya tersenyum manis penuh keceriaan. Harinya tidak ada lagi tangis kepiluan saat Yuga bersamanya, yang ada hanya cinta, cinta dan cinta yang dia dapat dari Yuga serta keluarga suaminya.


"Naqia!" Panggil Zaki sudah berdiri di sisi table Naqia. Yuga sudah masuk ke dalam cafe sehingga hanya Naqia di table itu.


Lantas, Naqia mendongak. " Mas Za_Zaki." Gagap Naqia, dia langsung merasa was-was atas kehadiran Zaki yang mungkin saja ingin jahat lagi terhadapnya.


Naqia berdiri di saat Zaki duduk di kursi sebelahnya.


"Maaf, Mas! aku buru-buru." Kelit Naqia menghindar dari predator berbahaya, macam anaconda Zaki.


"Aku tidak akan melukai mu, aku hanya ingin berbicara sebentar, please!" Mohon Zaki dengan mengatupkan ke dua tangannya.


"Dari dalam lubuk hati ku, aku minta maaf sebesar-besarnya ke kamu, Naqia. Maafkan aku atas segala luka yang aku torehkan kepada mu...maaf, maaf dan maaf." Terang Zaki buru-buru karena Naqia benar benar tidak mau memberinya waktu yang mantannya itu mau pergi.


Mendengar suara Zaki yang sepertinya keluar dari dasar lubuk hati. Kaki Naqia pun bersahabat, kembali duduk ke table itu.


"Mau apa kamu di sini? mau mengganggu istri ku, hah?"


Belum sempat Naqia menjawab. Yuga datang dari dalam cafe dengan suara tidak bersahabat ke Zaki. Tangan itu pun mau mencengkram kerah baju Zaki tapi segera di tahan Naqia.


Zaki hanya pasrah.


"Bang! Mas Zaki hanya mau meminta maaf, dia tidak berbuat macam-macam atau mengatakan kesarkasan yang membuat hati ku sakit kok." Terang Naqia polos, mempercayai Zaki yang memang adanya hati Naqia merasa tersentuh melihat wajah Zaki yang nampak tidak semangat hidup, kantong mata itu pun menghitam seperti kurang tidur.


Sejahat-jahatnya Zaki dulu kepadanya. Naqia pernah tumbuh bersama di dalam satu keluarga, walaupun dia tidak mempunyai darah yang sama, tapi setidaknya Naqia dulu pernah menganggap Zaki adalah kakaknya sendiri. Naqia masih punya hati baik yang sudah mendarah daging.


Toh..ajaran Papanya dulu berkata...Tidak selamanya perlakuan buruk di balas perlakuan buruk pun, ada kalanya perbuatan buruk itu tidak usah di balas oleh tangan kita sendiri...Ada Tuhan yang melihatnya dan Tuhan punya cerita yang baik bagi orang yang teraniaya.


Yuga pun diam dengan mata itu membaca air muka Zaki, mencari kebohongan di sana.


"Maafkan aku sekali lagi, Naqia." Pinta Zaki dengan suara rendahnya, tidak sanggup menatap mata Naqia karena merasa malu dan tidak berhak mendapatkan maaf dari wanita yang dulu di siksanya.


"Aku permisi!" Lanjutnya di saat Naqia dan Yuga tidak ada sahutannya. Dia pun melangkah pergi.


"Bahkan aku belum mengatakan kalau aku menerima permintaan maaf mu, Mas!" Naqia bersuara membuat Zaki berbalik seratus persen tubuh itu menghadap Naqia yang di rangkul pundaknya oleh Yuga.


"Iya, aku memaafkan mu. Kata Bang Yuga dan juga ajaran Papa dulu, aku tidak boleh dendam ke orang yang menyakiti ku, walaupun jujur sempat aku mau membuat Mas Zaki hancur sehancur-hancurnya tapi tetap saja aku tidak bisa karena dasarnya aku tidak memiliki hati jahat, kalau hati ku sudah jahat...maka dari dulu mas Zaki sudah mendekam di dalam penjara karena laporan KDRT. Aku masih punya hati ke Mas Zaki sebagai kakak angkat ku...aku masih ingat pula kebaikan Mas Zaki di saat aku jatuh dari taman, Mas Zaki lah yang mengobati luka lutut ku. Di saat les private pun aku masih ingat betul, Mas Zaki pula yang membersihkan darah haid ku yang pertama kalinya di meja kelas itu, Mas Zaki memarahi anak-anak yang menertawakan ku dan mengejek ku dengan sebutan Naqia menjijikkan karena darah itu, aku selalu mengenang kebaikan mu juga."


Naqia menahan sejenak sesak di dadanya mengingat semua memorinya. Yuga dan Zaki tertunduk diam mengagumi kebaikan hati Naqia yang di miliki itu.


"Aku hanya menyayangkan, kenapa mas Zaki menerima perjodohan yang di tawarkan Papa? dan berakhir begini. Andai Mas Zaki tidak menyetujuinya maka kita masih baik baik saja dalam status kakak adik. Aku memang menyayangi Mas Zaki sebagai kakak ku bukan suami ku dulu, dan andai Mas Zaki menolak keinginan Papa...pasti Papa pun akan mengerti. Mas Zaki tentu tahu perangai papa itu aslinya orang baik yang tidak mungkin memaksakan kehendak orang." Terang Naqia.


Zaki menunduk dalam, benar adanya Almarhum Nugraha adalah orang yang baik. Dia berdiri bak orang kaya itu karena kedermawanan beliau.


"Aku memaafkan mu dengan hati tulus ku, berbahagialah mas." Kata Naqia lagi dengan sudut mata dia usap cepatnya karena air bening itu sudah beranak. Yuga kian mempererat rangkulannya di pundak Naqia. Yuga bangga memiliki istri yang hatinya sangat besar dan lugas. Tidak apa di kata Naqia-nya itu stupid, toh... buat apa kepintaran namun ujung ujungnya menyesatkan diri sendiri, dan contohnya itu Zaki.


"Terima kasih!" Zaki speechless dengan kebaikan hati mantan istrinya. Hanya dua kata itu lah yang mampu keluar dari mulutnya. Suara Zaki pun sudah berombak, dia menangis perih dalam hati mengingat kebodohannya yang salah jalan. Benar kata Naqia, harusnya dia menolak perjodohan itu, tapi dia malah mengiyakan dan berujung hancur.