Stupid Wife

Stupid Wife
Demi Sang Istri



Belum juga menyentuh pohon itu, Yuga sudah di teriaki oles seorang pria berseragam satpam yang sedang berpatroli malam.


Yuga tidak ngebirit, justru dia mengembangkan senyum leganya. Berharap si bapak satpam mau membantunya.


"Bukan pak! Tapi saya the power of husband yang sedang berusaha membuat istri saya bahagia karena lagi ngidam makan itu." Yuga membanggakan diri. Suara itu amat takzim menjelaskan seraya menunjuk buah mangga yang hanya beberapa buah tergantung di atas sana.


"Benarkah?" selidik sang security.


Yuga mengangguk. "Apa saya boleh membeli beberapa buahnya?" suara Yuga sedikit memohon.


"Ambilah! Silakan bawa secara gratis tanpa membelinya." Pak satpam mengijinkan begitu saja karena menyangkut hasrat wanita ngidam. Si bapak pun memuji dalam hati sikap Yuga yang terdengar sangat mencintai istrinya sampai rela melakukan hal itu.


"Hehehe, itu dia Pak..." Yuga tertawa garing, "Saya bingung ngambilnya pakai apa? Tolong panjatkan dong! Tenang saja, ada tipsnya kok." Yuga merayu dengan dompet sudah dia keluarkan.


"Duh, maaf Pak. Saya tidak bisa membantu karena di atas sana banyak semutnya. Hehehe maaf ya! saya permisi mau patroli." Sang bapak beranjak pergi, dia lebih sayang kulitnya dari pada kantongnya.


"Semut?" Yuga menelan ludahnya. "Itu tandanya aku harus merasakan gatal-gatal setelah memanjatnya?"


Yuga menatap tajam buah mangga di atas sana, berharap buah mangga muda itu jatuh dengan sendirinya.


"Bego kamu Yuga. Sampai pagi pun tidak akan jatuh tuh buah kecuali di panjat." Yuga siap memanjat. Demi Naqia dia rela digigit semut.


Dan hap...hap.. hap.


Dia pun sudah berada di atas, sialnya benar adanya ada semut yang sudah sana sini celikit manja manja sialan menggigitnya.


"Aduh aduh aduh." ringis Yuga di atas sana dengan tangan dia kibaskan bagian leher guna mengusir serangga yang main gigit saja.


"Perjuangannya ya ampun!" Serunya sabar pakai banget, dengan tangannya terus menerus mengibas ke leher dan bagian tubuh lainnya yang terkena serangan serangga berjenis betina, karena tidak mungkin jantan kan? Masa jeruk makan jeruk.


"Ini gimana bawanya?" Yuga bingung. Tangan satu sudah berhasil memegang buah mangga muda, tapi dia tidak membawa plastik atau wadah apapun. Di lempar kebawah juga tidak mungkin karena Yuga tidak mau mangganya jadi rusak.


Ahaaa... semut betina yang berhasil menelisik masuk ke bajunya dan menggigit bagian perutnya malah membuat Yuga punya ide untuk menaruh buah mangga itu, hingga selamat sampai ke bawah.


"Begini, kan. Oke!" katanya bangga. Beberapa buah mangga dia masukkan ke dalam kemejanya hingga seperti orang hamil.


Dia pun turun berpijar ke tanah dan segera membawa pesanan istrinya penuh rasa bahagia.


***


"Naqia!"


Sampai di rumah, Yuga berseru seraya berjalan ke arah kamar. Dia tidak melihat Naqia duduk di sofa ruang keluarga.


"Di sini Bang!" sahut Naqia seraya menoleh ke arah Yuga. Jidat itu menyerinyit saat mendapati penampilan berantakan Yuga yang tidak biasanya seperti itu. Kemeja kotor dengan ujungnya kain itu di luar, rambut Yuga pun acak acak seperti korban angin badai.


"Abang habis ngapain? Kok berantakan?" tanya Naqia semakin meneliti penampilan suaminya. Tapi dia tidak melihat leher merah penuh bentol kena serangga yang mungkin betina.


"Tidak ngapain-ngapain, ini hanya efek lelah di kantor." Yuga berbohong. Dan si polos Naqia percaya saja.


"Itu pasti rujaknya?" Tebak Naqia riang menunjuk tangan Yuga yang menjinjing sebuah plastik. Dia sudah di beri tahu oleh Hani kalau Yuga akan pulang membawa keinginannya itu.


Yuga tersenyum gemas melihat wajah binar istrinya. Rasa letih nan capeknya serasa menguap hanya karena satu senyum kebahagiaan Naqia. Dia juga merasa tidak sia-sia memanjat pohon mangga yang sial nya berujung gatal-gatal.


"Terimakasih ya, Bang__"


"Kenapa?" Tanya Yuga.


Naqia menggeleng pelan. Yuga yang melihat raut berbeda itu, segera menarik Naqia ke arah dapur. Dia akan membuat wajah itu terlihat binar lagi dengan cara memberikan pengertiannya.


"Duduk di sini!" titah Yuga seraya menarik kursi untuk Naqia. Dan Naqia pun menurut manis seraya menutupi raut kecewanya dengan senyum paksanya.


"Kenapa? apa kamu tidak suka mangganya?" Yuga menatap bola mata Naqia yang sedang berkaca-kaca.


"Aku maunya rujak." sahut Naqia lirih, suaranya seperti menahan tangisnya. Entah kenapa dia itu ingin sekali dan harus makan racikan asem segar itu. Ekspektasinya tentang segarnya rujak ambyar melihat buah mangga utuh di atas meja saat ini, tidak ada bumbunya.


"Naqia sayang. Aku ingin bercerita dahulu. Kamu mau dengar?" Yuga menarik sebuah pisau buah, seraya bercerita maka tangannya akan mengeksikuisi buah itu.


"Cerita apa? Apa bang Yuga bertemu hantu di jalan? Di kejar-kejar hingga berakhir berantakan seperti itu?"


Yuga menggeleng seraya tersenyum lucu. Dia terhibur dengan pola pikir sederhana istrinya.


"Bukan hantu! Tapi kamu tau tidak kenapa tukang rujak jualannya di siang hari dan bukan malam hari?" tanya Yuga penuh maksud.


Naqia menggeleng dua kali sebagai tanda tidak tahu. Tatapan matanya terlihat tidak sabaran menunggu jawaban Yuga.


"Karena kalau di malam hari, nanti tidak laku?"


"Kenapa begitu?" tanya cepat Naqia. Bibirnya semakin mengerucut sedih.


"Karena si penjual rujak takut tidak ada yang beli dan berujung rugi, karena orang orang di malam hari itu kebanyakan berburu makanan yang hangat untuk mengusir dinginnya cuaca malam. Jadi si tukang rujak kalau malam ya, hanya tidur. Dan makan rujak di malam hari itu, besoknya nanti kamu akan sakit." Yuga mengada-ngada.


"Jadi, rujaknya tidak ada?" mata Naqia semakin berkaca-kaca.


"Dengar dulu! Aku belum selesai. Kamu tau tidak sayang, kenapa janin kita ingin makan aneh aneh di dalam sana?"


Yuga mengelus perut Naqia. Dia sudah selesai mengupas dan memotong motong mangga mengkal itu.


Naqia menggeleng lagi, tidak tahu.


"Itu karena anak kita ingin menguji kesabaran calon ibunya, dan bayi kita itu ingin mendengar penjelasan ibunya kalau makan rujak asem pedas di malam hari akan sakit perut."


"Aku pikir abang mau bercerita apa."


Naqia semakin sedih, hasratnya tidak bisa terbendung tentang buah yang sedang menggodanya di atas piring itu, seakan-akan melambai... makan aku. Tapi kan Yuga tidak memperbolehkannya makan itu di malam hari, nanti sakit perut katanya. Naqia ingin mengeluarkan liurnya karena aroma asem mangga. Dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.


"Mau kemana?" Yuga menahan tangan Naqia yang ingin beranjak, "Aku belum selesai." katanya memaksa Naqia untuk duduk.


"Tapi, makan buah mengkal di malam hari, tanpa ada rasa bumbu pedasnya. Ada bagusnya juga untuk pencernaan. Ambilah!" sodor Yuga satu potong buah ke hadapan mulut Naqia.


"Aku mau ini." kata Naqia penuh semangat dan tidak kecewa lagi. Suapan itu dia sambut dengan baik.


"Terimakasih!" Lanjutnya menarik piring itu dan membawanya ke arah kamar. Naqia ingin menikmati asemnya buah seraya bersender di kasur. Itu sangat terlihat malas tapi nyaman di lakukan.


"Best, Boy!" Puji Hani mendekat ke Yuga yang lagi tersenyum menatap punggung Naqia. Hani memang sadari tadi menonton drama ala ala Yuga tentang bujuk rayunya ke Naqia.


"Anak mu memang best, Mama!" Yuga tersenyum geli melihat delikan mata malas mamanya yang seakan-akan menyesal memujinya.