
Jam menunjukkan pukul 16.30 sore...
Hani dan Yugi duduk santai di ruang keluarga, Mata Hani setia menunggu terbukanya pintu kamar pasangan suami istri yang tadi siang di beri racun magic-nya.
"Berhasil nggak ya?" ucapnya sendiri, Yugi mendengarnya, lantas adik tomboi Yuga itu mendongak tanya ke Mamanya.
"Apanya yang berhasil, Ma?" Tanya Yugi seraya menaruh majalah ke meja kaca.
"Anak gadis tidak usah kepo__akhrinya keluar juga!"
Hani mengabaikan Yugi, saat Yuga sudah keluar dari kamar dengan rambut setengah basah, bokong itu lantas beranjak menghampiri Yuga yang ingin masuk ke dalam dapur.
Yuga tahu Mamanya mengikutinya, tapi ia lagi butuh air dingin untuk melepas dahaganya yang habis tawuran hot-nya bersama Naqia.
"Yuga!" Panggil Hani.
"Eum!" Singkat Yuga, seraya membuka kulkas, satu botol mineral ia teguk sampai habis.
"Wiih, haus bos, habis nganuhh ya!" Goda Hani tersenyum lebar, menarik kursi dan mendaratkan bokong lebarnya di sana.
Yuga pun menarik kursi, ia butuh bicara ke Mamanya saat ini perihal racun magic itu.
"Enak nggak?" Lagi-lagi Hani nyeleneh goda.
Yuga menatap datar Mamanya, suaranya masih enggan untuk bicara.
"Kok diam sih, jangan katakan ramuan Mama gagal ya?" Hani penasaran.
Benar ulah Mama! batinnya.
"Kenapa Mama nekat berbuat curang" Ceramahnya, Yuga tidak suka kecurangan tentang hati, istimewa pribadinya adalah seorang pengacara.
"Ya maaf, kalau bukan gitu, Naqia tidak akan mau di sentuh 'kan?" Hani berucap bangga, "Harusnya tuh ya, kamu berterima kasih ke Mama, kamu tidak akan bisa merayu seorang wanita, secara kamu itu kaku macam perangai Papa mu!!!" Ledeknya tersenyum remeh.
"Mama salah!" Yuga menoel pipi Mamanya yang kian berubah sedikit keriput itu, bibirnya tersungging tipis, "Soal hati, aku tidaklah menjadi Mr.Right, tapi Mr.Love." Yuga mengedipkan matanya ke Hani.
"alaahh, ngeles aja kamu tuh, kamu berjasa ke Mama tentang 'siang pertama mu' enak nggak belah durennya di siang bolong, pasti dong.... secara, kamu keluarnya sampai berjam-jam di dalam sana, otw cucu kan!" Hani masih meremehkan anaknya.
"Otw cucunya dari semalam kali mah, di homestay adalah tempat terindah ku, hujan badai saksinya."Yuga menarik turunkan alisnya, menggoda Hani yang seakan akan tidak percaya.
"Seriously?" Pekik Hani tersenyum senang.
"Yes!" Yuga mengangguk dua kali.
"Akhirnya, aku kira kamu Cemen, ternyata suhu."
Yuga memutar matanya malas, selalu saja Mamanya itu menganggapnya remeh.
"Terus, Naqia mana? Kok nggak keluar kamar? Harus program hamil ya, nanti Mama sama Yugi yang akan mengantar Naqia." antusias Hani, ia sudah tidak sabar menunggu waktu kelahiran cucunya yang belum ada di perut Naqia, baru juga bikin dua kali, si Mak bar-bar ini sudah berharap banyak.
"Naqia tidur... kecapean, obat yang mama berikan membuat ku kalah, lutut ku gemeteran hampir roboh, Naqia bak kuda liar, nambah terus dan terus, aku encok pinggang nih!" Dumel Yuga memegangi pinggang kanannya.
"hahahaha, Cemen kamu sayang, Uda tua sih!" Hani terbahak bahak, apalagi melihat wajah Yuga yang langsung cemberut mengatakan 'encok pinggang.'
"Hem, terus saja ketawa." Yuga beranjak meninggalkan Hani.
***
Di tempat Naima, wanita yang hamil muda itu di buat kualahan, kepala dan perut nya yang mual terus membuatnya payah.
Waktunya yang sudah di rancang untuk membuat Naqia hancur, raup sudah karena kondisinya yang lemah.
"Butuh sesuatu?" Zaki nampak perhatian, namun wanita yang masih menguras isi perutnya itu selalu cuek tidak menganggapnya.
"Tidak!" Ketus Naima, "Keluar dari kamar ku, melihat wajah mu malah semakin membuat ku mual saja." Naima menatap sinis Zaki. Menabrak pundak itu dan keluar dari kamarnya, Zaki berdecak lidah di belakang tubuh Naima, selalu saja sombong. Kesalnya
"Ok, karena aku tidak berguna, aku mau ke apartemen Mayang saja." Zaki menyeringai.
"Eeh, aku lempar kamu ke lantai satu kalau kamu berani menemui mantan lont* mu itu." Naima menarik baju Zaki yang sudah mendahuluinya.
Zaki tersenyum miring, Naima itu muna, ngakunya benci melihatnya tapi tidak membiarkan berhubungan dengan wanita lain.
"Dari pada kamu menemui Mayang yang nggak ada faedahnya, mending kamu pergi merecoki Yuga atau Naqia, bikin mereka retak." Titahnya menggebu-gebu.
"Malas!" Singkat Zaki, menjatuhkan bokongnya ke sofa.
Lantas, Naima berdecak pinggang, galak. matanya membulat sempurna.
"Selalu tidak ada gunanya."Umpatnya, berteriak di depan wajah Zaki.
Karena kaget, reflek pun Zaki menoyor jidat itu, ludah Naima ada yang muncrat ke pipinya.
"Biasa aja! Jangan berteriak seperti itu." Ketus Zaki, ia masih sabar akan ke keras kepalaan Naima, dan itu demi anaknya yang di kandung Naima.
"Ahh." Naima mendengus kasar, ia akhirnya duduk di mini barnya, menarik satu botol alkohol dan di tuang ke gelas mini.
Zaki yang melihat itu, gegas ke sisi Naima dan menepis gelas itu hingga praaang...pecah ke lantai.
"APA SIH?" Bentak Naima.
"Kamu yang kenapa, hah? kamu itu wanita terpelajar ilmu pengetahuan medis, kamu mau anak kita jadi lumpuh atau pun mati dengan alkohol sialan itu hah?" Kali ini Zaki sudah tidak bisa menahan amarahnya. Naima sudah keterlaluan.
Naima melihat binar kemarahan mata itu jadi merinding.
"Maaf, aku lupa, aku hanya ingin membuat perut ku lega dari kata mual, itu saja!" Kelitnya dengan nada bersahabat.
Zaki menghela nafas panjang, entah kenapa hatinya tidak tega melihat wajah pucat itu.
"Kita kedokter!" Ajak Zaki
Naima menggeleng, ia tidak mau ketahuan hamil oleh khalayak umum dulu saat ini.
"Belikan saja makanan yang segar-segar." Titahnya seraya berlalu ke arah kamar.
"Baiklah, tunggu di sini!" Zaki pun beranjak ke arah pintu utama.
Naima kembali berbalik ke punggung Zaki dengan senyum misteriusnya.
Ya...pergilah sana, aku pun ingin pergi menemui mantan istri bodoh mu, tunggu aku Naqia!
Naima tersenyum jahat.