
Di malam ini, Suara berisik alunan Dj di sebuah Club malam terdengar mengiringi langkah Zaki yang baru tiba di tempat para eksekutif muda.
Zaki memilih tempat ini karena ingin membunuh rasa kepelikan hati kacaunya, kata orang orang, minum air berwarna khas aroma soda beralkohol tinggi bisa membuat kegundahan hatinya akan melayang dan tergantikan keringanan beban pikiran, katanya ! itu katanya ! mari kita saksikan.
" Beri aku wine yang beralkohol tinggi." Pesan Zaki ke bartender. Tak butuh lama, pesanan nya sudah di depan mata.
Zaki menyesap wine nya perlahan, mata itu sesekali menggerlya ke seluruh ruangan yang di penuhi lautan manusia yang bergoyanh seksimak di lantai Dj.
Tidak ada yang menarik di mata Zaki, padahal wanita seksi seksi berada di depan matanya, ia lebih memilih untuk menyesap dan menyesap wine nya saja.
Tanpa Zaki sadari, ada Mayang penghuni club malam ini pun, Mayang tersenyum misterius, ia ingin merayu Zaki khusus malam ini.
"Guys, ada mangsa ku di bartender sana, aku kesana dulu, ok !"
Suara Ok pun serentak menyahuti Mayang dari tiga teman temannya yang sudah punya mangsa hidung belangnya. Hanya Mayang seorang lah yang masih sendirian.
"Apa kabar Mas Zaki, sayang." Tangan Mayang langsung melaba punggung Zaki dari samping yang tadinya main duduk di sebelah Zaki. tangan nakal itu pun membuat lingkaran sensasional demi membuat Zaki berdesir desir hangat.
Zaki masih datar, ia tidak terkejut melihat Mayang ada di tempat ini, ia malah menyesali pertemuannya bersama Mayang di awal kemarin.
"Aku rindu lho."
"Aku tidak !" Tepis ketus Zaki ke tangan Mayang yang seperti ular berbisa yang ingin membelit tubuhnya, hormon lakinya sudah mati untuk Mayang, Zaki tidak naf__su coek !
Mayang tersentak dalam hati, mengumpati Zaki yang masih sok sokan. Tapi jujur, Mayang rindu oleh servisan Zaki yang sangat gagah dalam permainan keringat, itu menurutnya.
"Oh ya, tidak percaya." Mayang masih berupaya keras, telunjuk nakal itu bergerak manja di paha Zaki.
Zaki melirik malas, masih memberi kesabaran untuk Mayang. Satu sesap wine kembali masuk ke tubuhnya.
"Singkirkan tangan mu dan pergilah, jangan memaksa ku mengeluarkan kekerasan."
"Sombong sekali !" Umpat Mayang lirih, tapi ia belum menyerah, hasrat wanitanya meronta melihat jakung Zaki naik turun karena menelan minuman, ia akan memberi jeda rayu untuk Zaki.
Lima menit saling terdiam dengan kesibukan masing-masing, Mayang kembali merayu.
" Mas tidak mau aku servis malam ini, gratis lho." kini tangan Mayang menarik tangan Zaki untuk di taruh nya di buah kembarnya. Mayang mengedipkan mata genitnya.
Zaki sama sekali tidak nafs*, menjungkitkan sebelah kiri alisnya seraya menarik tangannya yang masih di genggam oleh Mayang, tersenyum ledek dengan kefrontalan seorang Mayang yang sangat gamblang memperlihatkan kemurahannya, kenapa ia bisa tertipu dulu akan ke naifannya yang sebenarnya hanya pencitraan publik doang.
Sementara, Mayang mengeraskan wajahnya, walaupun benar apa yang di katakan Zaki kalau ia 'berjualan' tapi rasanya sakit juga di hina. Damn !
Janin ? Ya...ia mengambil resiko untuk menggugurkan kandungannya sendiri, selama meninggalkan rumah Naqia, ia terlonta lonta di jalan, hanya tempat penuh dosa ini lah yang mau menumpang nya, tapi ya itu... dengan syarat, isi perut nya harus di keluarkan.
"Kamu itu sombong, Mas ! aku sih cuma kasihan sama kamu, Kenapa ? karena pasti Naqia tidak memberi mu nafkah batin kan ? makanya aku rela memberi mu servisan gratis ku, soal pembunuh ? Ya....kita memang biadab, tapi masih biadaban kamu." Mayang ikut tertawa kecil meledek Zaki.
Sejurus, ia terbatuk batuk ulah Zaki yang menghembuskan asap rokok ke wajahnya.
Lagi, ke-dua kalinya Zaki membuang asap rokok ke wajah Mayang.
Uhuk
"Mas, ish !"
Ketiga kalinya, Zaki kembali memberi hadiah asap rokok untuk Mayang, namun asap nya kali ini terlihat berbentuk bulat bulat yang sengaja di main kan oleh bibir Zaki.
" Gila ! Nyesal aku menghampiri mu." Mayang menghentakkan kakinya, kesal. Pergi dari hadapan Zaki yang nampak kini mata itu sudah memerah mabuk.
"Ya, pergilah, aku hanya ingin di servis oleh tubuh Naqia, bukan kamu, lont* !" Zaki mulai meracau. Tangan itu menggebrak meja bartender hingga pelayanan bar di buat terkesiap.
"Hehehe, Maaf bro !" racau nya setengah sadar. " ah, nitip minuman ku ya ? aku mau ke toilet dulu, sekaligus mencari istri idiot ku."
Bartender hanya geleng-geleng kepala melihat pelanggannya meracau dan berjalan sempoyongan ke arah toilet pria...eh itu toilet wanita.
" Mungkin benar adanya mau nyusul Istri nya kali ya ?" Sang bartender di buat percaya oleh racauan Zaki.
"Aargh, sialan ! keluar kamu, dasar laki laki mabuk."
Zaki dapat pukulan dari dua wanita pengguna toilet.
"Hehehe, Naqia ? Sini Naqia, kita senang senang malam ini." Cup.. "Kok pipi kamu basah sih, pahit lagi, jangan nangis dong, ayo layani aku."
Bukan pipi Naqia lah yang di cium oleh Zaki, melainkan tong sampah penuh tissue kotor. Ulah dua wanita di hadapannya.
"Hahaha, dasar laki laki mabuk !" tawa mereka pecah di saat Zaki masih memeluk dan mencium wadah sampah itu.
" Naqia, kok kamu juga bau busuk !"