Stupid Wife

Stupid Wife
Membuat Kesepakatan



"Nah, ini kamar Pak Yuga, semoga betah ya Pak." Naqia membukakan pintu kamar tamu untuk Yuga tempati, kamar tersebut tepat bersisian dengan kamar Naqia, dan kamar Zaki barada di sebelah kiri kamar Yuga.


"Tentu akan betah, apalagi ada kamu." lirih Yuga menyahut.


Naqia kurang jelas mendengar nya.


"Maaf, Pak. Tadi ngomong apa ?"


Yuga menggeleng dengan senyum


tipis nya, sejurus kaki nya melangkah masuk ke dalam kamar melewati Naqia yang berdiri di ambang pintu.


"Kalau begitu selamat istirahat, Pak. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk memintanya." Pamit Naqia. Yuga mengangguk, mata nya tak lepas dari punggung Naqia yang sudah menjauh.


"Naqia, sini kamu !" Zaki segera menarik Naqia menuju taman yang tadinya, Istrinya itu mau berjalan ke arah dapur.


"Apa sih, Mas ?" Naqia mencubit tangan Zaki sekeras mungkin, mehentakkan tangannya, terlepas ! Zaki meringis di cubit, tapi peduli nya hanya ketidak setujuannya akan kedatangan Yuga.


"Kamu tuh punya otak nggak sih, Naqia, hah ? Kenapa kamu ijinkan Yuga tinggal di sini ? Itu tidak baik tahu nggak ?"


"Tidak tahu, tuh !" Naqia pura pura bodoh dengan celetukan santainya. Ia suka melihat wajah kesal Zaki.


Bahkan Naqia juga tercengir bodoh.


"Ah, ternyata cengiran bodoh nya tidak bisa di hilangkan." Batin Zaki, kali ini ia sudah tidak bisa menghardik Naqia secara terang-terangan karena Naqia jelas menantangnya, lagian ia masih membutuhkan tempat tinggal.


"Uda ah, Mas. Aku mau ke dapur, Bi Narsi pasti sudah memasak, tuh 'kan...uumhh, harum bumbunya saja sampai ke sini."


Anjaknya Naqia di tempat itu, Yuga datang, sengaja menghampiri Zaki, ingin berbicara empat mata bersama Zaki.


Zaki mengeluarkan tatapan tidak suka nya ke Yuga. Pria asing pengganggu, dengusnya dalam hati.


"Laki-Laki harusnya punya urat malu."


"Kamu punya urat malu ?" Balas tegas Yuga akan ketajaman lidah Zaki.


Zaki mendengus lagi.


"Naqia masih bersuami, mana harga diri mu sebagai laki laki"


"Dan mana tanggung jawab mu sebagai laki laki." Yuga hanya membeli ketajaman Zaki kok, Zaki bukan tandingan nya untuk bermain kata-kata, istimewa diri nya adalah pengacara, mudah bagi nya untuk mengintimidasi Zaki yang notabene nya memang pendosa ke istri malang nya.


"Apa mau mu ?" Zaki menantang.


"Melindungi Naqia dari pikiran kotor mu." Tangan yang tadi nya berdecak dada, kini tangan itu masuk kedalam saku celana bahan nya, santai ! air muka Yuga yang non ekspresi memang sangat tenang tenang mematikan.


"Juga ingin meraih cinta Naqia, mencairkan hatinya yang sekarang mati karena sikap buruk mu, Apa kamu lupa ? Atau mau di jabarkan satu persatu kesalahan mu." Lanjut Yuga dengan nada merendahkan Zaki.


"Kamu !" Tunjuk nya ke hadapan wajah Yuga, Yuga masih tak bergeming, air muka nya masih sangat santai menatap datar telunjuk itu. Boleh gigit nggak sih ? Ah... yang ada nanti Ia-nya terkena rabies.


"Silahkan ! Silahkan kamu raih hati Naqia, tapi satu yang kamu ingat dalam otak mu itu, bahwa aku, Zaki Mahase tidak akan pernah mau menceraikan Naqia sampai kapan pun, sekalian....aku, kamu dan Naqia akan hidup terpaku di tanah, tidak bisa bergerak dalam poros hidup layaknya untuk memuaskan batin, andai kata kalian saling cinta, tetapi tidak bisa bersatu dalam pernikahan bahagia."


Zaki menyeringai, tanpa menceraikan Naqia, Yuga tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mendapatkan Naqia seutuhnya misalnya menikah, ia memang egois, Naqia dan Yuga tidak boleh bersatu sementara dirinya sebagai seorang suami bisa berpoligami, istri mana boleh berpoligami dalam Islam, tidak boleh !


Woi ! poligami pun ada aturannya Zaki bodoh. (Author pun ngoceh)


"Hahaha, Zaki, Zaki, kamu itu sebenarnya bodoh." Yuga tertawa sumbang, tangannya mengejek Zaki dengan cara menepuk dua kali pundak Zaki yang sang empu pundak langsung berwajah masam menepis tangan nya dengan kesal.


"Tidak usa sok akrab dengan cara menyentuh ku dan apa maksud mu mengatai aku bodoh, hah ?"


Yuga mengangguk-angguk ejek, " Ya, kamu bodoh, kenapa ? karena tanpa kamu talak Naqia pun, Naqia bisa dan bebas mengajukan surat permohonan cerai ke pengadilan di bawah bantuan ku sebagai pengacara dengan alasan tertentu seperti tidak mampu menafkahi, salah satunya itu dan banyak lagi pasal pelanggaran mu__oh iya, kita belum berkenalan secara formal ya, Pak Zaki Mahesa, kenalkan....Aku, Yuga Pratama, Pengacara yang bisa di handalkan oleh kliennya."


Yuga menjulurkan tangannya seakan akan membuat imege dalam keramah-tamahannya ingin bersalaman formal ke Zaki, bibirnya tersungging di beri tatapan tajam oleh Zaki, sedikit terbaca oleh Yuga, air muka Zaki sempat menegang di saat Zaki tahu identitas sesungguhnya, tapi Zaki pintar juga berakting dengan cepat cepat menekan air mukanya itu.


"Tapi, Tidak ! Aku membebaskan Naqia untuk bertindak sendiri dalam hal cerai-menceraikan, tapi untuk masalah 'memiliki' tanpa kamu ceraikan pun aku tetap akan meluluhkannya walaupun tanpa adanya embel-embel cerai. Kamu pasti tahu rasanya keindahan hubungan terlarang bukan ? Rasa-rasanya definisi larang itu adalah keindahan dalam hubungan karena mempunyai fase tantangan tertentu, aku akan memiliki istri mu baik secara 'terlarang', lebih bagus lagi dalam kata 'halal'."


Yuga tersenyum puas dalam hati, Zaki tidak bisa berkata apa-apa, suami Naqia itu hanya speechless dengan kegigihan Yuga yang rasa-rasanya tidak becanda ingin merebut Naqia dari nya.


"Kamu itu tidak mencintai Istrimu, Zaki. Kamu hanya menginginkan kesempurnaan, coba saja Naqia sama seperti Naqia yang dulu yang kata kamu pembawa sial juga idiot, kamu tidak akan sudikan melirik nya ? jangankan melirik, kamu akui sebagai istri pun tidak pernah."


Sekali Yuga berucap panjang lebar, maka yang keluar hanyalah untaian mematikan untuk Zaki dengar.


Jelas, dalam hidup Zaki hanya memang mengutamakan kesempurnaan, tanpa mau bersusah-susah 'menyempurnakan', Orang macam inilah yang di sebut egois terhakiki dalam garis hubungan.


Kamu cantik tanpa cacat dari segi apapun, maka aku mau, kamu sudah jelek atau salah satu kesempurnaan itu luntur maka sorry goodbye. Itulah ala ala pikiran picik Zaki dalam mengartikan hubungan, hanya kesempurnan saja dan itu mustahil dalam hidup, semuanya ada batasnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, Zaki tidak pernah tahu apa itu artinya 'bersyukur'.


"Mari kita buat kesepakatan !"


Yuga menjungkitkan sebelah alisnya, kesepakatan kata si Zaki ini ?


"Maksud mu ?" Tanya Yuga.


"Kita akan bersaing untuk mendapatkan hati Naqia, dan siapapun yang keluar sebagai pemenangnya, salah satu kita harus mundur gentleman, kamu harus pergi dari kehidupan kami bila mana aku yang berhasil, begitupun sebaliknya dengan ku." Zaki sangat yakin, berbangga diri kalau Naqia mudah di luluhkan olehnya.


"Hahaha, kamu terlalu bodoh, tapi aku suka mendengar kebodohan mu."


Zaki mengeraskan rahangnya, Yuga selalu menganggapnya bodoh, dari mananya coba kebodohannya ? Batinnya bertanya. Dan itulah manusia, asyik menghardik orang tanpa berkaca terlebih dahulu.


"Ka__"


"Deal !" Yuga memotong cepat keprotesan Zaki yang marah di katain bodoh, cukup kali ini pembicaraannya, waktunya melancarkan aksinya di hadapan Naqia tanpa basa-basi lagi.