
Yuga memasang wajah harap-harap cemas, menunggu jawaban Naqia.
Sebenarnya, ia telah keceplosan akan ungkapan hatinya, ia gemas sendiri, bisa-bisanya Naqia menyamaratakan semua laki-laki mempunyai sifat seperti Zaki biadab itu.
Hay, Lihat dalam-dalam bola matanya, ada binar penuh ketulusan di sana, bila perlu belah juga dadanya kalau di dalam sana hanya ada dua nama wanita yang amat ia cintainya, dan nama itu adalah almarhuma Istrinya dan nama Naqia yang sudah merajai seluruh dunianya saat ini.
Hani? orang tua Yuga itu pun telah memasang wajah ketidaksabarannya, namun tidak mau ikut campur bersuara, ini adalah soal hati, tidak boleh di paksakan ataupun di munipulasi sebuah kata drama, bukannya ada pepatah mengatakan.... Kebahagian akan tercipta dengan adanya hati yang tulus tanpa adanya rasa keterpaksaan.
"Naqia." Lirih Yuga, Naqia telah menatapnya intens dengan air muka susah di tebak.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud lancang dengan ungkapan hati ku yang kamu dengar barusan, aku hanya ingin kamu tahu kalau benar adanya, aku mencintaimu, bukan karena aku iba ataupun kasihan melihat kemalangan mu selama ini, tapi di dalam hati ku, itu real sebuah rasa kasih sayang penuh ketulusan."
Naqia masih rapat-rapat membungkam mulutnya, berpikir keras saat ini, keheningan pun terjadi di meja makan itu.
"Bahkan aku masih dalam proses masa iddah." Naqia berucap lirih ke dirinya sendiri, Yuga dan Hani mendengar gumaman itu.
"Kamu pantas berbahagia Naqia, aku tidak memaksa mu untuk menerima ku hari ini juga, aku paham betul hukum perceraian itu akan adanya masa iddah." Yuga menyahut membuat Naqia yang larut dalam pikirannya, terhentak.
Naqia kebingungan dengan perasaannya sendiri.
"Aku hanya ingin kamu membuka hati mu, jangan berpikir kalau kamu seorang diri di dunia ini, jangan berpikir kalau kamu wanita yang tidak di harapkan oleh siapapun, aku di sini menantimu sampai kapan pun itu."
Author pun meleleh di buat bujukan manis mu, Yuga. tapi sayang...hati dingin Naqia masih tidak bergeming.
"Kamu mau 'kan membuka hati mu untuk ku?" Tanyanya.
Naqia belum sempat menjawab, sudah di potong oleh suara yang amat mereka kenal, Naima.
"Wah, ternyata sudah ramai sekali!"
Shiiit...Yuga mengumpat kasar dalam hati, kedatangan wanita yang tidak di undang ini membuat suasana menjadi ambyar.
Yuga pun menatap selidik Mamanya yang tiba-tiba menepuk jidatnya.
Ya...Hani lah yang tadinya mengundang Naima dengan maksud ingin membuat dekat anaknya, tapi eh...Yuga sudah mempunyai wanita di apartemen ini, istimewa juga anaknya itu sudah mencintai Naqia, jadi bagaimana dong, Hani serba salah di buatnya.
Naima tersenyum anggun, menaruh plastik berisi kue itu di meja makan, berucap pun dengan nada manja, sengaja....biar Naqia tahu kalau ia sudah dekat dengan keluarga Yuga, bahkan ia pun dapat lampu hijau dari calon mertua untuk mendapatkan hati Yuga.
"Hai Naqia, kamu kok di sini?" Tanyanya sok ramah padahal dalam hati sudah busuk-busuk tai kucing.
Yuga berdecak lidah, memberi tatapan kode ke Mamanya agar cepat-cepat membawa Naima pergi dari apartemennya, tapi Hani tidak mengerti kode itu.
"Aku__"
"Naqia tinggal di sini dari kemarin dan seterusnya." Tandas Yuga cepat-cepat menjeda sahutan Naqia.
Naima tertohok, Naqia selalu menang selangkah lebih awal darinya. Sialan!
"Tante!" Naima meminta pembenaran, sekaligus pembelaan kalau ini tidak adil, "Bukannya Tante ingin menjodohkan pak Yuga bersama ku, kok begini? Kenapa ada wanita lain tinggal seatap bersama pak Yuga? ini bisa menjadi fitnah besar lho." Protesnya ke Hani.
Tebal muka! umpat Yuga dalam hati. Naqia hanya diam saja, bukan karena menerima ucapan Naima yang seakan-akan mencubit harga dirinya, tapi ia masih bersabar, ia masih menghormati Naima sebagai mantan konselingnya, toh....ia dan Yuga juga tidak berbuat apa-apa, real hanya tinggal bersama tanpa adanya adegan yang bisa menimbulkan fitnah.
"Itu bukan urusan anda Nona Naima, ini rumah saya jadi kebebasan ku untuk menyuruh siapa saja orang yang boleh tinggal di sini." Jelas Yuga tidak terima dengan ucapan 'fitnah' Naima.
"Tan!" rengeknya lagi ke Hani dengan tangan itu menggenggam manja tangan Hani.
"Begini lho Naima, kemarin saya memang menyuruh mu untuk meluluhkan hati Yuga, tapi di sini ada Naqia, saya tidak keberatan, siapapun jodoh Yuga maka saya tetap terima dengan lapang dada, saya tetap memberi mu waktu untuk meluluhkan hati Yuga sebelum ia mendapatkan jodohnya." mungkin inilah jalan tengah bagi Hani, ia sudah berjanji ke Naima kalau sebelum Yuga mempunyai istri, Naima bebas mendekati Yuga. mana tahu Hani kalau kejadian bentrokan ini akan terjadi.
"Naqia itu orang bodoh, dia tidak pantas menjadi menantu keluarga Pratama." Jati diri Naima keluar, tanpa sadar, ucapannya itu seperti orang yang tidak berpendidikan.
Mendengar hinaan itu, Naqia membulatkan matanya ke Naima.
Yuga dan Hani merapatkan mulutnya, sengaja! ingin mendengar pembelaan Naqia yang sudah di hina secara terangan terangan.
Calon mantu Pratama tidak boleh lemah, batin Hani, ini juga sebagai penilaian mantu idamannya, ia tidak suka wanita yang mudah di tindas, kata Yuga kan, Naqia itu sudah menjadi sosok kuat, tidak mudah di tindas lagi.
...****...