
Happy reading...
Embun di pagi hari membasahi dedaunan di taman bunga Naqia, sinar matahari yang masih malu-malu nampak menerangi bumi.
Di pagi hari ini, Zaki sudah menyelesaikan tugas nya sebagai tukang kebun di rumah istri nya sendiri.
Zaki sangat bersemangat, niat hati ingin mengambil perhatian Naqia, lewat bunga bunga mawar yang di urus nya.
Di dalam rumah, di atas peraduan itu, Naqia masih bergulat dengan selimut nya, kepala dengan mata terpejam kini bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, Naqia bermimpi buruk.
Kulit wajah itu berkeringat dingin menetes ke jenjang lehernya.
" Janin ku !"
Naqia terpekik pilu di kala mengingat mimpi buruk nya. Tubuh itu langsung terduduk, mengelus perut nya yang rata.
Tes Tes
Mata itu menangis tanpa ada isak yang keluar, Entah di alam sadarnya hingga alam bawah sadarnya, perbuatan biadab Zaki selalu menghantui nya.
Naqia trauma !
Naqia bukanlah wanita tangguh yang bisa menanggung beban kesedihan nya, Ia hanya wanita rapuh yang di buat sekuat mungkin, Jujur....Dalam hati nya, ada ketakutan besar menerpa nya, ingin rasanya Naqia menyerah dalam hidup nya. Ia hanya wanita biasa yang ingin merasakan di cintai nya dari orang sekeliling nya. Tapi tidak ada orang tulus itu, Suaminya saja sangat rela membully nya hingga mengakibatkan kematian pada janin nya.
Cukup lama menangisi nasibnya, Naqia bergegas membersihkan diri, Zaki hari ini akan dapat masalah dari nya, lihat saja. Tiap hari ia akan membuat hari Zaki menjadi neraka sampai suami nya itu berlutut maaf dihadapan nya.
Setelah rapi dalam berpakaian, Naqia bergegas keluar rumah, menuju ke taman. Tidak ada Zaki.
Sempat tertohok dengan taman nya yang sudah rapi, Bunga bunga mawar nya bermekaran terawat oleh tangan Zaki.
Tapi tidak, Itu tentu saja tidak cukup untuk menyembuhkan hati nya yang sudah membeku dingin.
Praang..
Prang...
Praang..
" Aku membenci mu, Mas Zaki ! Sangat !"
Naqia mengacak-acak taman dengan sengaja, ia ingin mengerjai Zaki, Zaki harus tahu rasanya, orang yang tidak di hargai itu seperti apa.
Pot pot bunga telah pecah berserakan, Naqia sudah tidak peduli dengan bunga bunga kesayangan nya.
" Naqia !" Zaki yang baru keluar dari rumah dengan pakaian rapi nan wanginya, di buat terkejut oleh Naqia yang mengamuk tidak jelas.
" Aku sudah mengurus nya tadi, kenapa kamu malah mengacak acak nya ?" Kesal Zaki di buat tidak mengerti akan ulah Naqia.
" Bereskan lagi, aku memang sengaja !"
Bahkan Zaki melupakan niat nya yang ingin mengambil hati Naqia.
" Ini memang tugas mu, tukang kebun. lupa ?"
" Tapi__"
" Terserah kamu mau menolak, Tapi balikin dulu uang ku yang terpakai untuk membebaskan Mas dari masalah koruptor mu."
Zaki mengalah, Kesal tertahan, kali ini ia menerima penghina Naqia karena sudah mengungkit tentang uang, ia tidak punya kertas sialan itu, dan itu karena Mayang. Batin nya. Zaki selalu menyala kan orang tanpa berkaca.
Naqia tersenyum remeh, cap lah ia sebagai istri Durhaka, Ia tidak peduli itu, kaki nya melangkah pergi dengan rasa hati puas sudah membuat Zaki merasakan penderitaan nya dulu.
" Naqia, ikut aku !"
Naqia terkejut, Ada Yuga yang main tarik masuk ke mobil, Kapan datang nya ? Batin Naqia malas untuk bertanya.
Mobil itu pun melesat pergi, padahal Naqia belum sarapan, Dalam perjalanan tidak ada percakapan, Naqia masih terngiang dengan mimpi buruk nya tentang janin nya.
" Sarapan belum ?"
Naqia tidak menjawab, serba kesal.
" Cukup Naqia, ikhlaskan semua masa lalu mu, larut dalam dendam tidak lah baik juga."
Zaki menatap tajam wajah Yuga sesaat, kembali menoleh ke arah luar jendela mobil.
" Pak Yuga enteng untuk berkata... Lupakan ! Karena anda tidak berada di posisi saya !" Naqia menjawab malas.
" Sungguh, aku bukan mengasihani Zaki, Tapi aku hanya memperdulikan mu, Naqia. Kamu tidak akan bahagia bila mana terus termakan dendam. Bebaskan lah hati mu dari rasa amarah, dan percaya lah kamu pasti akan bahagia."
Naqia tidak mendengar ucapan lembut Yuga, ,dia yang merasa kan perasaan lara itu, Bukan Yuga atau pun orang lain. Ibarat kata, Naqia sudah basah, sekalian saja ia menenggelamkan kepalanya. Pokoknya, Zaki harus berdarah darah hati nya, tak apa diri nya larut dalam kata dosa.
" Saya tahu rasanya saat ingin berteriak tetapi tidak bisa, Ingin memberontak tetapi kedua kaki ku seperti terpaku di tanah, Dan di saat itu Saya hanya mampu bergelantungan pada sebuah tali kusam yang saya artikan ' Asa' "
Naqia bermain puitis yang bermakna menyayat hati.
" Apa anda tahu arti puitis itu, Pak Yuga ?"
Yuga bernafas gusar, Tentu ia paham betul dengan arti itu. Tapi ia tidak ingin menyahut, cukup tahu kalau Naqia telah jatuh ke lumpur hidup, dengan kata lain.... Naqia ingin keluar dari dendam tapi selalu perasaan sakit itu menguasai nya, hingga dendam nya ke Zaki selalu menguasai.
" Aku akan berdiri terus di belakang mu, percaya lah !" Yuga mengalah untuk saat ini dalam menasehati Naqia. Tapi ia tetap akan menasehati secara pelan pelan.
" Tapi satu, Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama, kamu hanya boleh mengitari lubang itu tanpa terjun ke bawah. Apa kamu paham dengan peribahasa ku ?"
Naqia mengangguk seraya tersenyum tipis.
" Tentu tidak akan, andai kata mas Zaki tinggal seorang pria di bumi ini, aku lebih baik bunuh diri dari pada harus hidup bersama dengan seorang pembunuh darah daging nya sendiri."