Stupid Wife

Stupid Wife
Bi Narsi oh Bi Narsi.



Bye !


Naqia melambaikan tangan nya di saat mobil Yuga akan meninggalkan pekarangan rumah nya sepulang dari kantor.


Hari ini adalah hari yang penat untuk Naqia, fisik dan otak nya sangat terkuras banyak akan ulah Yuga yang terus menjejelinya macam macam ilmu tentang perkantoran, Sumpah... Naqia lebih ingin menjadi anak kecil saja dari pada menjadi orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab.


Tapi apa mau di kata ? Hidup manusia itu bermetamorfosa, semua sudah ada jalan nya, dan itu pun kembali lagi ke kita bagiamana sikap kita menanggapi nya. Baik buruk nya hanya kita yang tahu dan hanya kita pun yang menjalankan nya, orang-orang di luar sana hanya bisa menonton jalan hidup kita tanpa mengetahui asas nya.


" Non !" Sapa Bi Narsi saat mata nya melihat majikannya yang sudah berada di hadapan kulkas untuk mengambil air dingin di dapur.


Naqia belum menyahut, air di tangan nya seakan-akan meneriakinya untuk segera di tekuk masuk ke tenggorokan kering nya.


Naqia bernafas segar di kala air dingin nya sudah tandas, ia baru menyahuti sapaan Bi Narsi seraya duduk di kursi makan.


" Bi, lapar." Pinta nya manja, seakan-akan bukan ke Art nya melainkan ke Ibu nya sendiri. " Sudah masak kan, Bi ?"


" Sudah dong !"


Senyum tulus Bi Narsi mengembang dengan tangan cekatan nya sigap melayani 'perut' Naqia.


Zaki yang berdiri di belokan dapur, Tersenyum jumawa. Yes ! Riang nya dalam hati melihat Naqia memakan masakan Bi Narsi yang sudah di beri racikan khusus oleh nya.


" Ayo, Bi ! Kita makan bersama." Naqia memaksa ART nya untuk duduk di sisi nya, Bahkan Naqia pun membalikkan piring bersih yang memang sudah tengkurap sedia di atas meja untuk Bi Narsi gunakan.


Air muka Zaki yang tadinya semberinga kini memasang wajah was was nya, jangan sampai salah sasaran, batin nya komat kamit.


Sudut mata Bi Narsi mendapati bayangan Zaki, terbit senyum misterius di bibir menghitam.


" Lho, kok makannya cuma sedikit sih Non ? Katanya lapar ?" Bi Narsi membesarkan suaranya, hingga membuat telinga Naqia berdengung.


" Aku sudah kenyang Bi, Ngantuk juga jadinya, aku duluan tidak apa kan ?"


Bi Narsi mengangguk dengan ucapan selamat malam. Zaki yang mendengar Naqia akan istirahat dan pasti berjalan ke arah nya, Segera berlari indip indip agar tidak menimbulkan suara tanya di telinga Naqia. Belum saat nya munjul di hadapan Naqia, batin nya yang percuma karena obat suguhan nya tidak lah merespon begitu cepat, butuh satu jam-an baru akan ada efeknya.


Kini Naqia sudah berada di dalam kamar nyaman nya. Dalam hati nya bersyukur...ia tidak bertatap muka dengan Zaki seawal pulang dari kantor yang memang sudah malam ini. Ia malas untuk beragumen alot bersama Zaki. Waktunya tidur !


Zaki sendiri sibuk terus menatap jam di hadapan nya seraya duduk di sofa ruang keluarga itu. Jam seakan-akan benda seksi di mata Zaki saat ini karena terus di perhatikan. Menunggu hal menyebalkan. Dumel nya mendengus.


" Ayo cepat berputar, bodoh !" Umpat nya menghardik jam yang notabene nya benda mati, bila mana jam mempunyai mulut, maka si jam lah yang terbahak bahak menertawakan orang bodoh, Uda tahu jam malah di ajak gulet hardik. Siapa yang bodoh ?


Arrrrr glek


" Ah, kenyang nya ! Non Naqia memang beses beses."


Dari lorong dapur, Bi Narsi berjalan menuju kamarnya, mulut itu bersendawa keras, saking kerasnya...Zaki sampai ingin muntah, Zaki geli jijik sendiri, tidak sopan. gumam nya.


Bi Narsi juga sengaja memuji Naqia dengan lantang nan tegas agar Zaki mendengar nya, pujian nya ke Naqia dengan kata beses beses terdengar jenaka, padahal Bi Narsi itu mau berucap the best tapi dengan sengaja di plesetin, beses beses !


" Owalah, jangan sampai Bi Narsi yang menggila malam ini, Naqia juga bisa bisa nya memperlakukan seorang pembantu seperti keluarga sendiri, aku suami nya malah di jadikan nya tukang kebun. sialan !"


Zaki jadi kesal sendiri bila mana mengingat penghinaan Naqia. Ia tidak introspeksi diri, kalau Naqia hanya ingin mengembalikan penghinaan demi penghinaan nya yang bahkan melebihi di luar nalar itu.


Harusnya Zaki sudah sadar diri setelah mendapatkan hinaan dari pasangan itu rasa nya 'di sayat sembilu', Namun sampai saat ini, ia belum ada kata maaf tulus untuk Naqia dengar.


Terkunci ! Tidak ada suara orang meracau di dalam sana yang Zaki dengar hanya kesunyian malam, Zaki sunyi nya hingga dentum jam terdengar jelas.


" Halo sayang !"


Tangan Zaki reflek tertahan yang ingin mengetuk pintu, ada suara Bi Narsi yang memanggil nya sayang.


" Jangan-jangan__?"


" Abang Jaja ! Sini dong, kita main kuis apaan tuh !"


Aih ding....Zaki ngebirit, Bi Narsi meracau menganggap dirinya adalah penyanyi dangdut pendek buntek berkumis tebal yang mempunyai acara game music dangdut di era nya. Jaja Mih*rj*.


" Sini dong Abang, kok lari sih ?" Bi Narsi mengejar Zaki yang lari berlawanan arah kamar . Zaki yang tersudut berkelit memutari sofa, Bi Narsi pun sama mengitari sofa. Naqia di dalam sana tidak mendengar keributan karena selain sudah tidur kelelahan, kamar Naqia pun kedap suara.


Keduanya masih mengelilingi ruang keluarga. Bi Narsi terasa encok berlari terus.


" Abang." Suara Bi Narsi terdengar merengek manja, sangat manja sampai kata Abang itu terdengar mendayu dayu mesra. Tapi di telinga Zaki mendayu dayu kampret.


" Abaaaang, Dede capek !"


Ting Ting Ting.... muuaaach.


Asyik, Bi Narsi menggoda Zaki dengan kedipan mata genitnya, serta di tambah pula kiss away.


" Naji*." Umpat Zaki jijik, masih berupaya berkelit dari kejaran Bi Narsi.


" Aaaahh, Capek tahu. Duduk aja yuk, kita main sayang sayangan !" Bi Narsi terhenti dari lari nya. Berdiri dengan gaya seksi seksi padahal mah, pinggang itu sudah encok efek samping kata 'Tua'


" Bi Narsi, Jangan kurang ajar ya, aku itu suami majikan mu, Jangan berani menggoda ku." Zaki mengancam dengan telunjuk nya menunjuk kasar Bi Narsi yang sialan nya Bi Narsi malah berdiri di mana jalan untuk menuju kamar nya.


" Hehehe, Abang Jaja memang suka becanda deh, Suami majikan ku itu tidak setampan Abang, dia mah pendek berkumis, plus perut nya buncit."


"Pembantu Durhaka"


Zaki mengumpat, Kasar ! Bodo amat dengan orang tua di hadapannya, ia tidak terima di katain perut buncit, pendek berkumis lagi. Sangat jauh dari perangai nya yang tinggi atletis, mana ada kumis lebat, Tidak ada !


" Bi Narsi, jangan memaksa ku untuk berbuat kasar lho !" Zaki jijik, membayangkan kasur nya telah di rebahin orang tua di sisi nya. iiiihh..Big no no !


" Siapa itu Bi Narsi ? Aku tuh penyanyi dangdut tahu yang punya lagu.... Gula, gula, gula gula gula gula, Kan Abang sering duet sama aku, Yuk kita duet lagi, ahhhhh.. Burung burung lepas dari celan* eh salah. Lepas dari apa ya ?"


Dalam hati, Bi Narsi juga geli melihat tingkah nya sendiri yang di buat buat genit seperti ratu dangdut itu. Saat berdendang gula gula, tangan nya itu berdecak pinggang seraya bergoyang kecil. Dan saat lepas dari celan*, Bi Narsi menunjuk ke arah celana Zaki. Jelas Zaki bergidik jijik. Bi Narsi ingin terbahak-bahak tapi akting masih on.


Ya....Bi Narsi hanya berpura pura, ia curiga dengan sikap Zaki yang tiba tiba ramah kepada nya dengan sok menanyakan makanan Naqia. Bi Narsi dan Naqia memang makan menu persis yang sudah di racik oleh Zaki, tapi Bi Narsi sudah mengganti nya dengan menu yang sama, Bi Narsi sudah menyisah kan makanan tiga macam itu di lemari khusus penyimpanan lauk, sisa nya yang cuma sedikit di tatanya di atas meja dengan tutup saji yang menghalangi. itu lah yang Zaki racik di depan mata Bi Narsi yang pura pura meninggalkan dapur saat itu.


" Ratu dang, itu ada tikus di kakimu." Bohong Zaki ingin mengelabui.


Bi Narsi yang juga sudah terasa encok karena meladeni kekonyolan Zaki, akhirnya berpura-pura percaya dan mencak mencak akting, Zaki menggunakan kesempatan itu untuk ngebirit masuk ke arah kamar nya.


" Hihihi, emang enak aku kerjain."


Bi Narsi tersenyum puas, kaki itu pun melangkah tertatih tatih memegangi pinggang nya. Tidur nyaman, saatnya.