
"TOLONG !"
Naqia terus menjerit minta bantuan, ****...ia baru sadar, kamarnya itu telah di desain lengkap dengan kedap suara, sampai pital suaranya putus pun, Bi Narsi tidak akan mendengarnya.
"Jangan memberontak terus Naqia, aku rindu__"
Bugh.
Saat Zaki melonggarkan tindihannya yang berniat melepas kancing celananya, Naqia bergegas menendang Zaki jatuh tepat di bawah perut itu.
"Aww." Ringis Zaki terjatuh ke lantai, Naqia pun segera menjauh dari kasur.
Zaki bangkit, menyeringai lebar melihat Naqia tidak bisa keluar dari kamar karena kunci sudah di pegangnya.
"Kamu tidak akan bisa kabur, Naqia. Diam dan ikuti saja mau ku, ayo kita senang-senang." Zaki mendekat ke arah Naqia yang masih mencoba membuka pintu dengan kepanikan dan ketakutan terhakikinya.
"Mas, ku mohon jangan !"
Inilah yang di inginkan Zaki, mendengar suara permohonan Naqia yang nampak tak berdaya.
"Ayo, berteriaklah, Mas suka mendengarnya, bagi mas itu adalah panggilan yang menggairahkan."
Zaki sudah menangkap Naqia yang ingin lari darinya, menyudutkan tubuh Naqia ke dinding, hingga punggung Naqia beradu dengan tembok.
"Harum mu sangat manis !" Zaki mengecup leher putih itu, Naqia ingin memukul, tapi Zaki lebih duluan mencengkeram tangannya. "Mata ketakutan mu masih sama dengan Naqia yang bodoh, kamu tetaplah Naqia yang bodoh di mata ku."
Cuih..
Naqia geram, saat Zaki ingin melamut paksa bibirnya, ia meludahi wajah itu.
"Bahkan rasa ludahmu pun terasa manis untuk ku, hahah__"
Plak..
"Gila kamu, Mas !" Maki Naqia berteriak tepat di wajah Zaki, tangannya sangat puas sudah menampar wajah Zaki yang sudah sangat keterlaluan.
"Kamu memang tidak bisa di kasih hati, Naqia."
Plak, Plak
Breekk
Zaki naik pitam, ia tidak terima di tampar oleh seorang wanita, baginya... posisi wanita itu harus di bawah kaki seorang laki-laki, wanita tidak lain halnya sebagai sampah.
Dengan itu, tangan kasar Zaki sudah mengabsen pipi Naqia dua kali dan dengan kasar pun, Naqia di lempar ke arah kasur, baju bagian leher ke dada sudah terkoyak oleh tangan biadab Zaki.
"Menjauh dari ku, bajingan, aku bersumpah akan membunuh mu kalau kamu masih melanjutkan niat busuk mu !" Ancam Naqia, Zaki tidak peduli.
"Bunuh ? bergerak pun kamu tidak bisa." Remeh Zaki meledek kelemahan seorang wanita. ia sudah berhasil mengikat tangan Naqia hingga tidak berdaya, mulut Naqia pun sudah ia sumpal seperti dulu.
Time to play sweat ! Zaki menyeringai puas, tak sabaran untuk memulai dan merasakan kelegitan tubuh Naqia.
" Aku suka ini, sayang !" Ujarnya tanpa dosa, tangannya perlahan meremas nakal bongkahan buah itu yang masih terbungkus kain kacamata pink.
"Jangan takut, ini enak kok, aku akan bermain lembut kali ini, tidak seperti dulu."
Air mata ketakutan Naqia semakin membanjiri pipinya, Ketakutannya memuncak, ia sudah trauma dengan sentuhan seorang laki laki, sakit dan perih yang akan menjadi kenangan hati bekunya.
Zaki menepati janjinya yang katanya ingin bermain lembut, ia memberikan kecupan demi kecupan kecil di leher Naqia supaya Naqia merasakan setrum percintaan itu seperti apa, tapi...Zaki salah, Naqia bukannya terbawa suasana permainan, malah terus menerus menetaskan air mata pilunya.
" Hai, ini enak kok, dan ah... lebih pentingnya kamu nanti akan punya bayi lagi." Bisik Zaki di telinga Naqia, tidak ada jarak lagi di antara mereka. Zaki sudah menindihi Naqia seraya mencoba melepaskan seluruh pakaian Naqia secara paksa.
Demi Tuhan, kalau sampai tubuh ku kembali di kotori oleh laki laki biadab ini, maka aku bersumpah akan ada kematian di antara kami, aku atau mas Zaki yang merenggang nyawa.
Begitulah kata batin Naqia yang sudah pasrah saat ini.
Beberapa menit yang lalu...
Di luar ruangan, Bi Narsi yang tadinya sudah tidur, merasa tidak nyaman, ia haus, ingin ke dapur sekedar membuang dahaga, namun entah kenapa, kakinya malah menuju ke arah kamar Naqia, ia ingin memastikan keadaan majikannya sekali lagi.
Tapi apa yang ia dapatkan, kamar Naqia terkunci rapat rapat dengan suara sangat-sangat kecil terdengar keributan di dalam sana, dengan itu Bi Narsis bergegas menghubungi Yuga.
Dan di sini lah Yuga, dan Bi Narsi. Di hadapan kamar Naqia sedang berusaha mendobrak pintu kamar Naqia yang berdiri sangat kokoh.
Sudah dua kali dobrakan, pintu kokoh itu belum berhasil terbuka, di dalam sana, Zaki masih berupaya meningkatkan hormon wanita Naqia agar merasakan candu pun.
Tubuh atas Naqia sudah polos separuh di buat kenakalan tangan Zaki.
Brakk..
Tiga dan keempat kalinya, Yuga masih mengadu tubuh besarnya ke daun pintu itu, masih belum berhasil. Wajah Yuga sudah menggelap, sangat murka, tangannya sangat gatal untuk memetakan tulang Zaki bila mana Naqia di dalam sana di apa-apakan.
Pintu sialan !
Maki Yuga akan kekokohan rumah alamarhum Nugraha. Ingat ! ini bukan film film fiksi itu yang sekali tendang tuh pintu maka akan roboh sudah, itu fiksi ya ! tapi di sini nyata halunya, Yuga ingin memaki author yang bernama Tata karena membuka pintu pun sangat di buat bertele-tele.
Yuk, pending lagi...
"Yuga Cemen !" Umpat author Tata balik.
"Dasar author gendeng, sini kamu ! aku ingatkan satu pasal perundang-undangan."
Kaburrr !!!