
Masih di pagi yang sama...
Naqia sudah rapih, keluar kamar menuju ruang makan, pagi hari memang waktunya mengisi energi yang terkuras semalaman.
"Pagi semuanya,"Naqia menyapa hangat Hani dan Yugi yang sudah stay di meja makan, kedua wanita tersayang Yuga memang ijin menginap di rumahnya, dan Naqia suka kehadiran mereka, rumahnya sudah tidak terlihat mati lagi, senyum ramahnya pun menyapa Bi Narsi.
"Pagi!" Balas Hani Yugi hanya tersenyum manis.
Mata Hani menatap tubuh Naqia naik turun berkali kali, apakah terjadi pertempuran otw cucu semalam?
"Yuga mana Naqia?"
Belum sempat Naqia menjawab pertanyaan mertuanya, Yuga sudah hadir dan duduk di sisi kursi Naqia.
"Morning semuanya!" Sapa Yuga datar, ia tidak berani menatap wajah Hani yang menatapnya selidik saat ini.
"Ma, apa mama percaya kalau ini gigitan nyamuk atau serangga lainnya? Coba deh lihat, aku pikir ini adalah gigitan drakula!" Polos Naqia menunjuk arah lehernya, rambut ia hela kebelakang biar Hani dan semua orang melihat lehernya.
Pecah...Tawa di meja makan pecah, Bi Narsi sampai terbatuk-batuk, membuat Naqia menatap aneh ke orang yang entah apa yang di ketawa kan.
Hanya Yuga yang menahan tawanya, namun bibir itu tersenyum tipis.
"Ada yang salah?" Wajah bodoh Naqia terpampang jelas karena kebingungan, ia betul-betul masih tabu dengan tanda sialan di lehernya
"Kak Naqia, kalau ada drakula pasti drakulanya itu__" Yugi terjeda, Mata dan kepala kakaknya sedang menggeleng, kode agar jangan memberitahukan kalau drakulanya adalah dirinya.
Hani sendiri masih tanda tanya besar? Apakah Naqia tidak sadar di anuuu-anuuu sama suami sendiri, harus di wartawanin ini namanya.
"Naqia, memangnya kamu semalam tidur jam berapa? Kok nggak tau kalau ada yang menggigit mu?"
Saat menggigit mu, mata Hani menatap selidik Yuga yang ogah ogahan meliriknya, anaknya itu hanya sibuk dengan sarapan yang baru di sediakan oleh Bi Narsi.
Awas saja kalau semalam Yuga gagal bikinin cucu untukku! Batinnya.
"Tidur jam dua belas malam kayaknya, dan pak Yuga uda tidur duluan, ah sudahlah... jangan bahas drakula lagi, mungkin memang serangga, tapi Bi Narsi... nanti beli racun serangga ya, biar drakula serangga itu mati!"
Pfufufu...
Tawa Hani dan Yugi pecah lagi, Yuga mau di beri racun serangga, geli mereka.
Bi Narsi yang dapat titah, iya iya saja dalam menjawab seraya mencuci tangannya di bak cucian piring sana.
"Ya, kasih obat saja, lagian serangganya nggak becus amat bikin cucu saja." Sindir Hani ke Yuga, kaki itu pun menginjak kaki Yuga di bawah sana.
"Cucu?" Bingung Naqia mengulang kata Hani.
"Sudah, Naqia! Ayo makan sarapan mu, aku ingin membawa mu ke suatu tempat, dan Mama sayang, Slowly but surely!" Mata Yuga berkedip diam-diam dari mata Naqia, tanda cepat atau lambat, ia akan membuat Naqia pun bucin kepadanya, dan pasti akan memberi cucu atas kehendak Tuhan pastinya yang utama.
Dan Naqia pun menurut, memakan sarapannya dalam diam dengan wajah itu masih terkesan penasaran dengan gigitan serangan atau drakula.
***
Kehangatan di rumah Naqia tidak sama di rumah Naima, wanita yang berpendidikan tinggi dalam psikologi itu sedang di serang mual hebat di pagi hari, padahal hari ini ia berencana akan merecoki hari damai Yuga dan Naqia, ia masih tidak terima dalam kekalahannya.
Zaki yang mendengar suara jijik itu, menghampiri kamar Naima yang memang tidak tertutup.
Hoek... Hoek
Zaki mempercepat langkahnya ke arah kamar mandi, suara muntah-muntah Naima kian terdengar.
"Jangan sentuh aku!" Ketusnya.
"Hemm!" Acuh Zaki, sejurus berbalik berniat meninggalkan kamar mandi itu, orang macam Naima tidak perlu di kasih hati, batinnya malas.
Gedubrak...
Mendengar suara benda terjatuh kasar, Zaki kembali berbalik.
"Naima!" Panggilnya langsung menahan tubuh Naima yang sempoyongan karena pusing, tangan lentik itu tidak sengaja menyenggol tempat tissue hingga jatuh kelantai.
"Pusing sekali." Ringisnya di papahan Zaki menuju kasur.
Hoek...
Naima tidak jadi ke kasur, wanita itu ngeberit masuk lagi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasrat mual-mualnya.
"Jangan-jangan...?"gumam curiga Zaki, ikut menyusul Naima.
Hoek..
"Kamu hamil kah?"
Deg...
Tudingan tersebut mampu membuat kaki Naima bergetar hebat, jangan sampai, tapi sebagai ahli wanita yang tahu medis, ia pun curiga seperti tudingan Zaki.
"Tidak, dan ogah aku punya anak dari laki-laki malas kerja juga bajingan seperti kamu." Cetusnya menepis anggapan Zaki, ia tidak hamil, titik.
Zaki yang di hina, memutar matanya malas, menyender santai di daun pintu itu.
"Sudah tahu aku bajingan, tapi tiap malam keenakan di 'bor' sama milikku." Zaki terkekeh, meledek Naima yang melengos saat tangan nakalnya menunjuk ke arah celananya pas di tengah-tengah itu.
"Kamu pakai pengaman tidak melakukannya dengan ku, kalau aku sih nggak pakai, enak langsung croooot nembak rahi___"
"KELUAR!"
praaat..
Usiran Naima yang terhakiki seraya tangannya menyimpatkan air ke Zaki yang menurutnya unfaeda sekali, telah di hadiahi tawa ledek Zaki.
"KELUAR, ATAU__"
"Iya! Dasar nenek lampir."
Naima kian kesal di katain lampir, "Kamu Iblis, setan jin ngepot." Naima membanting tong sampah yang tadinya di angkat untuk mengancam Zaki.
"Musibah besar! Dasar Naima Stupid! Arrghh." Kesalnya marah-marah menghardik dirinya ke cermin itu.
Naima pun bergegas ke keluar kamar mandi, sekedar mengambil alat pengecek kehamilan atau tekspek, ia penasaran, jangan sampai hamil... jangan sampai hamil, hapalnya dalam hati.
Alat tes sudah di celupkan ke urine tinggal menunggu hasilnya, jantungnya lebih dua kali bekerja di dalam sana, seperti ada guruh yang bergerumuh hebat di dalam sana.
"Alhamdulillah.... Negatif!" pekiknya riang.
"Dasar Zaki Jin ngepot, tudingan mu salah__"
Bersambung dulu...