
" Dasar Zaki jin ngepot, tudingan mu salah__"
Ocehan Naima terhenti, garis satu di tes itu kian menampakkan garis ke-duanya, tadinya samar-samar, namun kian nampak nyata saja, ada dua! itu tandanya????
"TIDAK! AAARGH! SIALAN! AKU NGGAK MAU HAMIL ANAK ZAKI!"
Zaki mendengar jeritan itu, ia berlari lagi ke arah kamar Naima.
"Ada apa sih, dari tadi uringan mulu, berisik tau nggak?"
"BERISIK!" Bentak Naima meneriaki Zaki kembali.
Zaki hanya mengerutkan keningnya, acuh dengan tangan itu terpatri nyaman di saku celananya.
"AKU HAMIL, PUAS KAMU, HAH?" Naima mengacak-acak rambutnya, prustasi.
Zaki terhenyak mendengar itu, lidahnya kelu, ini kabar baik atau buruk? ia tidak tahu harus bertingkah apa.
"Bagaimana dong?" Bingung Naima meminta pencerahan, sejurus memicingkan mata sinisnya ke Zaki, kenapa juga harus meminta pendapat ke iblis berwajah manusia itu.
Zaki belum sempat mengeluarkan suaranya, pundaknya sudah di tabrak Naima yang keluar dari kamar mandi.
"Aku terserah kamu!" kata Zaki mengikuti langkah wanita arogan itu, Naima butuh tanggung jawab darinya, ya hayo, tidak juga tidak apa apa, yang penting ia bisa menyicipi tubuh gratis Naima.
"Apanya terserah, intinya aku nggak mau punya anak dari kamu!" Punggung Naima tertabrak oleh Zaki karena ia tiba tiba berhenti, tubuh itu terjatuh ke atas kasur dengan Zaki ikut serta menempel di punggung itu.
"Sialan, turun buruan! berat tau nggak!"
"Lampir selalu saja mengoceh, cepat ubanan, nyaho!" Zaki turun dari punggung itu, dan berbaring santai di kasur Naima.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Bugh...
"HAIS!" Zaki menutup wajahnya yang menjadi korban kekesalan Naima, wajahnya empat kali terkena bantal guling.
"Mati saja kamu sekalian!" Kesal Naima, ia tidak terima nasib hidupnya seperti ini, ternyata napsu sesaat membuatnya hancur, harusnya ia tidak termakan napsu birahi tiap malamnya bersama iblis Zaki.
"Diamlah, kamu kasar sekali!" Zaki menarik tangan Naima, hingga membalikkan keadaan, tubuh Naima sudah berada di bawah kungkungannya.
"Sekali lagi kamu menyumpahi ku, aku akan memperkosa mu sampai tidak bisa berjalan" Zaki tersenyum nakal.
"Turun dari tubuh ku, aku akan menggugurkan janin ini."
"Jangan!" Entah kenapa Zaki tidak terima akan hal itu, ia terngiang dengan calon anaknya yang di bunuhnya tanpa sengaja di saat memperkosa Naqia dulu.
"Kamu tidak berhak melarang__hmmp"
kekeraskepalaan Naima langsung di bungkam bibir oleh Zaki, Naima kekurangan nafas karena pagutan Zaki yang brutal tidak membiarkan menghirup udara bebas.
Hmmp..
Aku susah bernapas bodoh...
Ingin sekali Naima berkata kasar seperti itu, tapi susah, Zaki sialan ini begitu rakus menyesap dan mengobrak abrik rongga mulutnya, berat tubuh Zaki yang menindihinya membuat nafasnya kian sesak saja.
"Kalau kamu masih berniat membunuh anak ku, maka kamu akan mendapat pelajaran lebih dari ini," Zaki melepas sesaat bibirnya hanya sekedar mengancam, karena di bawah perutnya yang terbungkus celana itu kini sudah on, ia kembali membungkam bibir Naima namun terkesan lembut penuh penghayatan.
Naima yang baru mengambil nafas sesaat kembali sesak saja, ia lagi tidak berminat untuk kuda lumpingan, perutnya kini menyiksanya, rasa mual itu datang lagi.
Jangan salakan aku kalau muntahan ini kamu telan.
Naima menyeringai, sejurus benar adanya, rasa mual itu keluar beriringan isi perutnya yang hanya air kekuningan.
Hahahaha...
"Rasain!" Naima tertawa ejek, agar tidak di jerat Zaki lagi, yang saat ini masih munta-munta di pinggir kasur, ia ngeberit masuk kedalam kamar mandi, mengunci rapat-rapat agar Zaki tidak mengganggunya, saat ini ia punya rencana licik untuk membuat Naqia spot jantung.
"Tunggu saja Naqia, kamu akan mendapatkan kejutan dari ku." Naima tersenyum jahat di balik cermin itu.
...****...
Di sisi Yuga, seperti janjinya ke Naqia yang ingin membawa istrinya itu ke suatu tempat, kini telah sampai di sebuah pemakaman yang Naqia kenal betul.
TPU, tempat orang tuanya di kebumikan.
"Ini__"
"Iya, aku belum sempat ke sini untuk meminta restu ke-dua orang tua mu!" Yuga menggenggam lembut tangan Naqia, mesra. wanita itu terpesona akan perlakuan Yuga yang tidak pernah didapatkan sebelumnya.
"Ayo! atau kamu mau aku gendong agar sepatu mu tidak kotor?" Godanya tersenyum manis di hadapan wajah Naqia yang tidak berkedip menatapnya, Yuga akan setia selalu berprilaku manis nan lembut, ingin membuka mata hati Naqia kalau ia benar-benar tulus mencintai dan menyayanginya.
"Hei, Naqia?" Yuga menatap aneh Naqia, apakah istrinya diam karena kesambet atau memang dalam memuji wajah rupawannya dalam diamnya.
"Diam dan jangan bergerak pak Yuga." Naqia melarang Yuga untuk bergerak di depan mobil itu, ia semakin mendekat ke arah Yuga hingga menyisakan satu jengkal jarak, Naqia berjinjit membuat Yuga menahan nafas geer-nya, air muka Naqia amat lah serius
Asyik, aku mau di cium di depan banyaknya makam sebagai saksinya, Pak Nugraha, anakmu sekarang menjadi milik ku.
Yuga sudah berjingkrak riang dalam hatinya, sejurus...plak.... tangan Naqia memukul lehernya begitu kuat.
"Kok__?" Yuga meringis dengan penuh tanya air mukanya.
"Ada nyamuk berjenis perempuan, Nanti kayak leher ku lagi merah-merah." Terang Naqia masih mempermasalahkan bekas gigitan drakula rasa bibir maling Yuga.
"Hm!" Yuga menggaruk lehernya yang sudah di gigit nyamuk di tambah dapat pukulan pun dari tangan Naqia.
"Coba lihat!" Penasaran, Naqia menarik tangan Yuga dari leher itu, ingin melihat bekas gigitan itu, "Tuh kan, beda sama yang di leher ku, ini cuma bentol merah sedikit." Keluhnya.
Yuga yang tidak mau ketahuan, memasang wajah datar-datar tidak berdosanya, "Ayo Naqia, kita ke makam orang tua mu, awan lagi mendung, takut kehujanan." Jelas Yuga benar adanya, bibir itu tersenyum tipis
Dan mereka pun berjalan ke arah makam kedua orang tua Naqia.
...****...
Di rumah...
Demi cucu dan demi membuat Naqia membuang jauh-jauh pikiran traumanya akan nama hubungan suami-istri di atas kasur, Hani merencanakan sesuatu agar Naqia dan Yuga malam ini bisa menghabiskan malam panjang tanpa ada jarak lagi.
Entah, berhasilkah nanti rencana cerdiknya itu, biarkan waktu malam ini yang menjawabnya.
"Mana makanan khusus untuk Naqia Bi Narsi?"
"Ini, Nyonya! tapi buat apa?" Bi Narsi menaruh satu porsi udang saos tomat di hadapan Hani yang duduk di table makan.
Tidak menjawab, Hani menaruh entah obat cair bening apa, Bi Narsi tidak tahu.
"Astaghfirullah, Nyonya mau meracuni non Naqia? jangan atuh Nya! dosa lho menganiaya mantu sendiri, anak yatim-piatu lagi, Nya! jangan khilaf ya, Nya!"
Bi Narsi membujuk takzim Hani.
"Ish, Apa yang ada di otak Bibi itu salah, ini tuh ramuan cinta, biar Naqia dan Yuga Nganuuuh nanti malam!" Terang Hani.
"Hehehehe," Bi Narsi tertawa renyah, "Nganuhh itu apa Nya?" Goda-nya berani ke Hani.
"Mau di jabarkan, Bi?" Tantang Hani tersenyum misterius ke ART rasa keluarganya.
"Hehehe, jangan Nya, becanda, nanti kalau aku mau Nganuhh sama siapa coba, masa sama__"
"Bantal, hahahaha!" Hani menyela cepat ucapan Bi Narsi, sejurus tawanya menggema di dalam dapur, ke-dua wanita itu terbahak-bahak sendiri menyadari kalau mereka ternyata janda tua.