Stupid Wife

Stupid Wife
Terbongkar



Tidak terima benihnya di lempar tanggung jawab ke Yuga, Zaki pun menerobos masuk ke unit.


Naqia yang berada di depan pintu yang terbuka sedikit itu menjadi terkesiap hebat, sisi lengannya di tabrak oleh Zaki.


Lantas, Naima dan Yuga kompak menoleh ke asal pintu yang terbuka kasar.


"Naqia." Ujar Yuga menghampiri Naqia yang hanya diam dengan iris mata itu seakan-akan tidak mau meliriknya. Apakah Naqia marah karena melihat ku ada di sini? Ya Tuhan... semoga tidak salah paham. Yuga komat-kamit di dalam hatinya.


"Zaki, Naqia!" Lirih Naima pun dengan hati kesal. Kenapa harus datang sekarang? Batinnya mengumpati Naqia dan Zaki sebagai pengganggu.


"Coba katakan sekali lagi? siapa janin yang kamu kandung, hah?" Zaki menghampiri Naima dengan suara tegas nan lantangnya.


Yuga yang membaca air muka yang seperti tidak terima Zaki akan pengakuan Naima, menjadi curiga.


Jangan-jangan, janin itu...?


"Janin Yuga! masih kurang jelas?" Naima berteriak di depan wajah Zaki, mantan suami Naqia itu sampai memejamkan matanya karena gerimis alami Naima yang nyimprat saking terhakikinya suara dua oktaf itu.


"Bukan, sayang! Naima mengada-ngada, sumpah demi Tuhan atau apapun itu, aku tidak pernah menyentuh kulit dia barang sedikit pun, ku mohon... percayalah!" Seru Yuga dengan suara memohon ke Naqia, dia segera saja menggeleng geleng di hadapan Naqia, menepis pengakuan Naima saat mata istri tercintanya itu menatapnya tajam seakan akan siap mengulitinya.


Naqia hanya diam dengan perasaan gusar.


"Arrgh." Zaki berteriak geregetan sendiri, tangan itu mengepal sempurna ingin melayang ke wajah Naima, namun turun kembali saat otak tempramentalnya sadar kalau ada janinnya di dalam perut wanita yang menutup wajahnya reflek karena takut akan tangan kasarnya.


"JANIN ITU ANAK KU! ANAK KU! ANAK KU! DENGAR SEMUANYA, A-N-A-K KU!!!" Tekan Zaki dengan kedua tangannya mengguncang-guncangkan ke-dua sisi pundak Naima seperti boneka rusak.


Naima amat takut, Dia melengos ke arah lain tidak mau menatap wajah marah Zaki, pundaknya terasa sakit ulah cengkraman Zaki.


Yuga dan Naqia kompak menganga, mendengar pengakuan lantang Zaki. Bibir Yuga pun melengkung ke atas mengejek Naima yang tiba-tiba memucat.


"Dengar kan Naqia? Zaki mengakui itu!" Kata Yuga dengan tangan itu langsung menautkan ke jari-jari tangan kanan istrinya.


"Dengar, sangat jelas!" Naqia akhirnya bersuara yang tadinya hanya diam bingung, kepala itu pun mengangguk, hatinya terasa plong seperti beban itu di angkat dari raganya.


Tadi.... Naqia sebenarnya ingin mencak-mencak karena sakit hati mendapati Yuga ada di unit apartemen Naima. Rasanya..dia ingin pula menangis kejer tapi malu, Dia cemburu... itulah yang di rasakannya.


"PERGI KALIAN DARI RUMAH KU! PERGI SEMUANYA!"


Sekonyong-konyongnya, Naima terpekik hebat mengusir Yuga dan Naqia serta Zaki pun.


"Dengan senang hati, tanpa di usir pun aku dan istriku memang mau pergi dari sini, dan sebenarnya aku masih berbaik hati ke kalian terutama kamu, Naima!"Yuga menunjuk Naima yang berdiri dua meter dari hadapannya, "Sekali lagi membuat aneh-aneh yang bisa mengusik keharmonisan rumah tangga ku. MAKA TIDAK ADA AMPUN." Kata-kata akhir Yuga sangat dingin nan tegas dengan mata tajam itu menelisik intimidasi ke netra Naima.


"Permisi..." Yuga menarik tangan Naqia untuk pergi. Namun, setelah di dekat pintu. Yuga pun berbalik lagi, "Aku sarankan untuk mengubah tingkah frontalmu itu mulai dari sekarang karena hidup damai itu indah." Serunya dengan nada datar, terserah Naima mau mendengarkan atau tidak, intinya...Yuga hanya tidak mau di ganggu lagi. Dia dan Naqia pun pergi meninggalkan rumah Naima.


"Aaargh...persetan kalian semua__ZAKI!!!"


Naima yang tadinya berteriak, terhenti seketika. Zaki mencengkram rahangnya dan menyudutkan ke tembok hingga punggung itu tertekan sakit.


"Aku tidak tahu apa yang ada di otak mu, Naima? Aku akui kalau pribadi ku memang buruk, tapi kamu lebih buruk lagi." Tandas Zaki di depan bibir itu... sangat dekat.


Sekuat tenaganya, Naima menepis tangan Zaki yang menyakiti pipi halusnya. Zaki melepasnya bukan karena kekuatan Naima yang seperti semut itu, melainkan dia sadar diri kalau dia tidak mau menyakiti orang yang sudah mengandung anaknya, dia tidak mau anaknya mati lagi seperti dulu karena kelakuan tempramentalnya.


"Apa yang harus di banggakan dari mu, hah? apa kamu bisa memberi aku dan janin ini makan? Tidak! lihatlah dirimu? tidur dan makan pun masih numpang hidup dengan ku, jadi bagaimana bisa aku mengendalikan seorang pria pengangguran seperti dirimu."


Zaki terhenyak, organ tubuh bagian dalamnya serasa di cubit-cubit oleh lisan tajam Naima yang benar adanya dia hanya seorang benalu selama ini, dulu...dia ditempat Naqia mengadukan diri dan sekarang di Naima pun bisanya hanya menumpang. Zaki sadar akan hal itu, bibir itu rasa rasanya di lem tidak bisa terbuka untuk membela diri.


Karena mati kutu, Zaki akhirnya berbalik menuju pintu keluar, rasa pegal di tubuh itu menguap sudah yang tadinya mau istirahat di rumah Naima.


"Kamu mau pergi ke mana, Zaki?" Naima mengejar langkah itu, menarik lengan Zaki untuk di hentikannya.


"Mau pergi agar tidak di anggap benalu!" Malas Zaki dengan suara gusarnya, dia pun menghentakkan tangannya agar tangan Naima lepas dari lengannya.


"Kamu nggak boleh pergi!" Tahan Naima lagi, mengikuti langkah Zaki ke arah lift.


Dia memang aneh, tadi mengusir dengan cara menginjak-injak harga diri Zaki yang beratnya hanya seons itu.


"Sudahlah Naima, kamu masuk ke unit dan istrihat yang banyak agar janin mu sehat, aku tidak mau ribut lagi dengan mu__"


"Jangan bilang kamu mau ke rumah Mayang?" Tebak Naima tidak terima.


Zaki tidak menjawab tapi alis itu bertaut bingung. Cemburu kah? Batinnya bertanya, tidak mau kepedean. Zaki pun masuk ke dalam lift dan cepat cepat menutup lift itu agar Naima tidak mengikutinya.


"Zaki...Zak__argh, nyebelin!" Teriak Naima ke dinding pintu lift itu yang sudah tertutup rapat.


Tidak boleh begitu, Zaki tidak boleh ke rumah lont* Mayang sialan itu.