
"Hamil, Dok?"
"Maksud anda, istri saya akan menjadi seorang ibu?"
"Dokter tidak bohong 'kan?"
Yuga mencerca sang Dokter perempuan yang telah usai menjelaskan kondisi Naqia yang tiba-tiba pingsan.
"Benar pak! Selamat ya." Dokter itu tersenyum ramah. "Cuma sedikit lemah karena kekurangan darah efek katanya sempat transfusi, tapi tidak usah cemas. Saya sudah memberikan vitamin dan obat penguat janin di cairan infusnya supaya keduanya baik baik saja atas izin Sang pencipta, berdoa ya pak." Terang sang Dokter.
"Pasti!" Sahut Yuga dengan wajah semberinga. Mata itu pun tertuju ke gorden yang tertutup, di mana ada Naqia yang terbaring di sana.
"Perlu di perhatikan juga makanannya pak, beri Ibu Naqia makanan yang bergizi."
"Itu tidak perlu di cemaskan Dok. Aku selalu memperhatikan segala sesuatunya yang menyangkut istri saya." Sahut Yuga mantap, dia bertekad akan lebih positif lagi ke istrinya dari hal apapun itu.
"Kalau begitu, saya permisi." Pamit Dokter itu dan di angguki Yuga seraya ucapan terimakasih tidak ketinggalan. Kakinya pun melangkah ke arah brankar Naqia yang masih terpejam dengan punggung tangan itu terpatri jarum infus.
Beberapa jam kemudian...
Secara perlahan, mata Naqia berangsur terbuka. Netranya di suguhi langit-langit ruangan asing, indera pengendusan pun terganggu bau menyengat seperti obat-obatan khas rumah sakit.
Dia menoleh ke sisi kanan di mana ada sentuhan tangan yang menggenggam jari-jarinya.
"Sudah bangun?" Kata Yuga seraya tersenyum manis. Tidak ada kecemasan di garis muka itu, adanya raut binar penuh kegembiraan.
"Eum, kenapa aku ada di sini? ayo kita pergi menemui Naima, kasihan dia." Naqia menarik tubuhnya, niat hati ingin duduk di brankar itu tapi di tahan Yuga yang seketika mengecup dahinya. Dia pun merasakan tertahan di bagian punggung tangan satunya yang di tusuk infus.
"Ish...ini rumah sakit lho, kok Bang Yuga main curi-curi sih? Dan kenapa aku infus." Naqia mencubit pelan bagian perut Yuga yang malah tersenyum gaje. Dia pun akhirnya duduk tegak di atas tempat tidur rumah sakit itu. Tangan nakalnya pun main lepas infusan itu.
Yuga yang mau melerai telat ucap, dia hanya menghela nafasnya.
"Di sini," Yuga menyentuh perut Naqia. "Ada calon anak kita. Kamu hamil, sayang." Lanjutnya dengan suara amat lembut.
"Benarkah?" Sahut Naqia lirih nan datar wajah itu nampak biasa saja. Yuga kembali mengangguk dengan pikiran bingung. Apa Naqia tidak suka? Begitulah pikirannya di dalam hatinya.
"Tidak bohong?" Tanya Naqia lagi. Mata mereka bersibobrok dengan posisi amat dekat karena Yuga tiba tiba duduk di sisi brankarnya.
"Ya...tentu dong, Naqia! Masa berita seperti ini aku berbohong sih, kalau tidak percaya aku akan memanggil Dokter yang memeriksa mu di saat kamu pingsan tadi." Yuga nampak ingin beranjak tapi greeeb... Sekonyong-konyongnya, tubuh itu di belenggu peluk erat oleh Naqia yang terpekik senang di sisi kupingnya membuat telinganya sedikit berdengung.
"Yeekhh!" Pekik girang Naqia lagi di dalam pelukan itu, dia amat gembira... sangat gembira.
Yuga? tak apa telinganya menjadi korban teriakan bahagia istrinya yang penting melihat wajah nan mata binar Naqia, itu sudah cukup. Dia pun akhirnya membalas pelukan Naqia dengan tangan itu mengelus sayang punggung Naqia naik turun.
"Terima kasih, Bang! ayo kita pulang memberi kejutan gembira untuk Mama dan Yugi." Antusias Naqia seraya melepaskan tangannya yang mengalun erat di leher Yuga.
"Ayo__"
"Eh, tapi kita harus ke Naima dulu. Apakah dia sudah siuman?" Naqia tersadar akan awal kedatangannya kemari.
"Harus ya?" Malas Yuga yang tidak mau merusak suasana hatinya. Pikirnya... pasti Naima akan mengeluarkan suara sarkasnya bila melihat Naqia yang Yuga ketahui kalau Naima itu bukan tipe wanita yang mudah menerima kekalahan.
"Haruslah! Kenapa memangnya?" Tanya Naqia dengan tangan itu ikut menggenggam tangan Yuga yang sedari tadi suaminya tidak mau melepaskan tangannya.
"Aku takut Naima akan mengeluarkan lisan tajamnya dan berakhir berdampak tidak baik untuk mu dan janin kita karena kata dokter, kondisi kamu saat ini harus banyak istirahat agar cepat pulih dari efek lemas transfusi darah." Terang Yuga panjang lebar nan penuh kehati-hatian.
Naqia tersenyum manis, membuat Yuga menyengitkan satu alisnya.
"Aku tidak selemah itu suami ku. Percaya deh..anak kita tidak akan baper hanya karena di beri lisan tajam. Kata petua papa, kalau berniat baik itu tidak boleh setengah-setengah, macam mendoakan orang pun agar cepat sembuh tidak boleh setengah-setengah juga." Polosnya hati baik itu membuat Yuga mengecup sayang kening wanita tersayangnya lagi.