
Hiks...Hiks...Hiks.
Kepergian Naqia dan Yuga di ruangan serba cat putih itu. Naima langsung menangis sejadi-jadinya dengan sesekali memukul mukul tubuhnya sendiri menggunakan kepalan tangan lemahnya yang masih terbaring di brankar. Dia ingin bangun tapi kakinya tidak bisa di gerakkan.
Zaki yang melihat tangan bar-bar Naima segera menahannya.
"Cukup Naima!" Seru Zaki sedikit membentak karena geram sendiri melihat pergerakan tangan Naima.
"Hiks hiks, aku tidak berguna lagi... Hiks__"
"Ada aku bersamamu, aku tidak akan meninggalkan mu, percayalah." Ucapnya menenangkan. Bertekad dalam hati akan memegang ucapannya yang satu ini.
"Hiks, hiks... ta-tapi kenapa? bahkan kita tidak mempunyai ikatan lagi karena anak mu yang aku kandung sudah mati, kamu juga pergilah." Itulah yang selama ini di pikirkan Naima, yaitu...Zaki berada di sisinya selama ini hanya demi calon bayi itu yang sudah di ambil Tuhan lagi sebelum lahir. Naima masih menangisi takdir hidupnya yang berujung cacat.
"Karena aku mencintaimu, itulah alasan kuat aku terus berada di sisi mu walaupun kamu selalu sombong dan jutek kepada ku. Naima, aku mencintai mu, sangat mencintai mu." Ungkap Zaki dengan tangan itu di ciumnya beberapa kali.
Naima terkesiap. Cinta? batinnya mencerna.
Deg...
Bahkan jantungnya berdebar kencang disaat tiba-tiba Zaki mengecup dahinya. Kecupan itu bukan hasrat bercinta, tapi kecupan tulus yang di rasakan perasaan Naima untuk yang pertama kalinya. Bibirnya kelu tidak bisa berkata-kata tapi jujur...ada perasaan nyaman nan lega di hati Naima mendengar pengakuan Zaki. Apakah aku juga mencintainya? Bingungnya dalam hati.
Naima speechless, air bening di matanya sudah beranak jatuh berlomba-lomba membasahi kulit wajah itu. Dia terharu, matanya terbuka lebar-lebar...benar kata partner ranjangnya itu, kalau menginginkan kesempurnaan itu mustahil dalam segala hal. Kita akan bahagia dan tersenyum lebar bila mana mencintai dan menerima kekurangan pasangan kita terlebih dahulu, baru kesempurnaan akan datang seiring bagaimana kita menjalankan dan mensyukuri hidup.
Sempurna? Naima menemukan arti baru dalam definisinya sendiri...kalau pasangan akan sempurna bila ada dua orang yang saling melengkapi dan mau beriringan melangkah bersama menghadapi segala rintangan yang ada di depan sana. Hubungan tidak akan sempurna bila mana satu orang saja yang mencintai.
"Naima, Kamu tidak mau ya?" Perlahan Zaki merenggangkan genggamannya di tangan Naima yang diam membisu. Hatinya meringis naas... Mana mau Naima menerima pria benalu sepertinya ini. Sadar Zaki! Hardiknya sendiri dalam hati.
"Aku mau!" Sambut Naima tersenyum dalam air mata itu. Dia juga mencintai Zaki dalam diamnya. Ternyata cinta itu datang tanpa dia sadari selama ini. Mungkin karena permainan ranjang mereka yang mengundang perasaan itu. Entahlah?
Zaki kembali menggenggam tangan Naima, tersenyum manis dengan perasaan amat bahagia. "Terimakasih." Riangnya, sejurus mengecup dahi Naima lagi. "Sebisa mungkin aku akan membuat pelangi indah untuk mu tanpa adanya badai mendahului."
Manisnya kata kata indah itu sanggup meluluh lantakkan hati sombong Naima. Dia hanya mampu mengeluarkan air mata harunya, tidak bisa berkata-kata lagi. Benar kata orang... Ada hikmah di balik musibah.
"Istrihatlah, Ada urusan penting yang harus aku lakukan saat ini." Zaki membetulkan selimut Naima.
"Mau kemana?"
"Memberi pelajaran ke orang yang sudah membuat anak kita meninggalkan dan berakhir melukai kakimu." sahut Zaki dan segera beranjak tanpa menunggu lama-lama lagi membawa wajah geramnya ke Mayang. Bahkan dia pun mengabaikan pertanyaan penasaran Naima.... Siapa orang itu?