
"Ma__"
Yuga menjauh dari sisi Naqia, menghampiri Mamanya yang lagi menatap Naqia dari atas sampai kebawah, terus menerus beberapa kali, tetapi seruannya berhenti tepat Mamanya mengangkat tangannya, kode untuk ia harus berhenti bersuara.
"Kamu siapa?"
"Kekasih Yuga?"
"Sejak kapan?"
"Kok aku baru tahu?"
"Kamu cantik sekali!"
"Aku coba raba perutmu__hmmpp!"
Naqia cengong mendapat pertanyaan beruntun dari ibu cantik di hadapannya. Apakah ini benar orang tua dari seorang Yuga Pratama yang kaku irit bicara ke orang asing, kenapa Mamanya cerewet sekali seperti penyanyi rock yang berisik.
Saat Naqia ingin bersuara dan saat Hani ingin meraba perut rata Naqai yang berambigu sekali di kuping Yuga, cepat-cepat Yuga membekap mulut Mamanya sendiri dan segera menggendong Mamanya masuk ke dalam kamarnya.
Naqia hanya menatap bingung apa yang di lihatnya
"Anak kaku, apa-apaan sih kamu ini, ish!"
Hani meberontakan kakinya di atas gendongan Yuga, tapi tangannya itu terpatri nyaman di leher Yuga dengan mata menatap jauh Naqia di belakang sana, yang wanita cantik alami itupun membalas tatapannya.
"Aneh!" Naqia menggeleng-geleng tidak mau ambil pusing, ia lebih memilih masuk ke arah dapur, melanjutkan masakannya yang belum jadi untuk sarapan Yuga dan karena ada tamu ibu-ibu yang menurut Naqia aneh, maka sarapan sederhananya yakni nasi goreng akan di tambahkan menjadi tiga porsi.
Tuk!
Tuk!
Di dalam kamar, dua kali ketukan jidat dari tangan gemas Hani jatuh ke kepala Yuga, sebelum Hani turun dari gendongan Yuga.
"Ish, Sakit tau, Ma!" Cibik Yuga, dan tuk lagi! Kali ini lebih keras lagi.
"Aww, Ma!" Rengeknya manja, mengadu kesakitan, sebenarnya Yuga itu anak manja, tetapi hanya ke Mamanya saja.
Tuk!
"Semakin kamu meringis, maka semakin pula Mama memukul kepala mu itu, toh... kepala itu yang sudah merobek kewanitaan Mama di saat kamu ingin merojol."
Tuh, 'kan! Menurut Yuga, Mamanya itu aneh, masalah jauh di sangkut pautkan di sini, pakai bawa-bawa 'merojol', tadi saja begitu ambigu ingin meraba perut Naqia, ia tahu otak aneh Mamanya itu Yakni memeriksa, apakah Naqia lagi hamil.
Ck, memangnya aku cowok apa? Ia masih tahu adat baik dengan menjauhi kata Zina besar.
"Mama tidak nyambung!" Dengus Yuga mencibik Mamanya.
Hani yang ingin bersuara, jadi tertahan pertanyaan tentang siapa wanita di luar sana, "Tidak nyambung katamu, sini! Mama sambungkan otak bodoh kamu yang katanya pintar itu." Hani berdecak pinggang, galak. Beginilah aslinya seorang janda Pratama, dulunya ia adalah wanita bar-bar, mungkin sekarang pun.
Yuga membasahi bibirnya, ciri khasnya memang begitu kalau ia dalam tekanan, dan wanita satu-satunya yang bisa menekannya adalah wanita yang amat ia hormati di hadapannya ini.
"Aku ini Mama mu, yang melahirkan mu, itu tandanya segala sesuatunya harus Mama tahu tentang calon istri mu, tapi apa ini? ada wanita cantik yang kamu sembunyikan di sini tapi kamu diam aja, ayo katakan! sampai di mana hubungan kalian? apakah calon cucu Mama sudah ada di perutnya?"
Yuga melotot, benar dugaannya tadi, kalau Mamanya itu berniat meraba perut Naqia hanya ingin memastikan pikiran ngaurnya.
"Mama itu, uh. Benar-benar__!" Yuga gemas sendiri, ingin memaki tapi takut dosa, makanya ia menahan kekesalannya.
Hani malah tersenyum manis dan berkata, "padahal Mama pikir kamu sudah 'anu-anu' dan hadiahnya cucu, uh.. nggak sabar deh" Fantasinya sangat luar biasa mama satu ini.
"Benarkah, nanti Mama tes pilihan mu itu." antusias Hani ingin keluar menemui Naqia, tapi tertahan oleh Yuga.
"Kenapa?" Bingung Hani akan wajah berbeda anaknya, tertunduk lesu, itulah air muka Yuga sekarang.
"Saking berbedanya, dia sampai tidak mengenal cinta dan menutup pintu hatinya rapat-rapat, masa lalunya begitu pahit, Ma! Melebihi kisah ku yang kehilangan istri dan calon bayi ku di saat dulu."
Yuga bercerita, suara itu sangat sendu penuh perasaan sedih.
"Tapi kenapa wanita itu ada di unit mu, aku kira kalian ada hubungan spesial?" Heran Hani bertanya.
Dan Yuga pun menceritakan semuanya, Hani tidak memotong satupun cerita Yuga, ia mendengarkan seksama kronologi hidup Naqia.
"Kasihan juga, ya! Ampun tuh mantan suaminya, pengin Mama kebiri tuh burung sampai habis." Geram Hani ke orang yang bernama Zaki-Zaki itu.
Yuga tersenyum tipis, Mamanya memang bar-bar, tapi sangat mempunyai hati baik dan penuh kepedulian akan sesama.
"Jadi asmara mu, masih di perjuangkan di sini?"
Yuga mengangguk membetulkan.
"Jadi yang kamu janjikan tiga bulan itu adalah wanita di luar sana?"
Yuga mengangguk lagi.
"Baiklah, tinggal tiga bulan kurang waktu mu, Mama sih siapa saja wanita mantu Mama, yang penting dapat cucu secepatnya, dan ah... perjanjian tetap perjanjian ya, kalau kamu gagal maka perjanjian sebelumnya tetap terlaksana, must be fair."
Alamak...Kali ini Yuga mengangguk lemas, Mamanya ini kalau sudah di beri janji maka pantan untuk di ingkari.
"Mama nggak mau bantuin gitu?"
"Laki-laki sejati itu harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan hal yang di inginkan, jangan pernah mengeluh bila ingin meraih hal yang kamu inginkan."
Hani menepuk bahu anaknya, ia memang orang tua yang penuh kata bimbingan, tidak pernah mengajari anak-anaknya tentang apa itu kemudahan, melainkan ia lebih memilih menjabarkan arti sebuah kesusahan karena ia berpikir logis kalau ada masanya hidup itu ada di bawah, di mana kesusahan apa pun akan menerpanya.
Yuga hanya menatap punggung Mamanya yang main pergi setelah mengeluarkan wejangan umum kepadanya.
"Hais, bantu kek! Katanya mau cepat-cepat punya cucu."
Yuga mendumel seraya mengikuti Mamanya keluar kamar, langka itu pun semakin cepat, ia tidak mau Mamanya cerewet ini itu ke Naqia yang saat ini mereka berjalan ke arah dapur, di mana Naqia sedang menyiapkan makanan.
"Pengin tahu, apa sih kelemahan dan kelebihan pilihan anak ku." Gumam Hani, ia sebenarnya tidak mempedulikan kelemahan atau pun kelebihan seseorang, yang terpenting, pasangan anaknya kelak itu mencintai Yuga penuh ketulusan.
"Mamanya jangan berkata sesuatu yang bisa menyinggung perasaannya ya."
Sekonyong-konyongnya, pundak Hani telah di rangkul oleh Yuga.
"Ck, nggak janji!"
"Jangan jadi orang nyebelin, Ma!" Bisik Yuga, saat ini mereka sudah di dalam dapur, di mana Naqia tersenyum ramah menyambutnya.
"Wanita tangguh itu biasanya bisa melakukan apapun, tenanglah... Mama bukan kanibal." Hani berbisik, lalu tersenyum lucu akan wajah Yuga yang amat sangat gugup sendiri.
Yuk, kakak-kakak, kepoin kuy, rekomendasi baca yang bisa mengocok perut, romantis komedi punya teman 🙏😘