
Naima mengemudi mobilhya dengan perasaan dongkol, marah, kesal, campur aduk tidak karuan jadi satu, berbaur mendidih panas di aliran darahnya.
"Naqia sialan, aargh." Erangnya marah, brak.. Setir mobil itu menjadi pelampiasannya.
Kalau setir mobil itu punya mulut, maka pasti akan berkata... pukul aja terus, tangan Lo buntung pun, gue nggak akan sakit.
"Awas saja kamu, Naqia!"
Brak...
Brak..
Brak..
Beeeppp..
Saking dongkolnya akan penghinaan Naqia di cafe tadi, Naima berbuat konyol sendiri, ia terus memukuli setir mobilnya dalam keadaan laju itu, klakson mobil tidak sengaja ia pukul hingga nyaring terdengar, umpatan dari pengguna jalan lain berseru masing-masing mengumpati mobil Naima.
Di sisi Naqia, setelah di makan oleh suaminya sendiri di kantor. Wanita anggun itu ijin pulang duluan naik taksi, bukan pulang ke rumahnya, namun diam-diam ingin menemui Naima, mau menegaskan kalau suaminya bukan ayah dari janin yang di kandung Naima.
Yuga pun membiarkan Naqia pulang naik taksi, bukan tanpa sebab, ia sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran ke Naima yang sangat nekat melakukan pencemaran nama baiknya, auto pun bisa menimbulkan keretakan rumah tangganya yang masih berumur kecambah.
Syukurlah Naqia tidak mempercayai tuduhan keji Naima. Batin Yuga, siap melajukan mobilnya untuk menemui Naima.
...****...
"Mas Zaki!"
Brakk...
Di pelataran parkiran mobil di apartemen itu, Zaki hampir tertabrak kendaraan roda empat, ada Naqia yang mendorong punggung kekar Zaki susah payah, menyelamatkan mantan suaminya itu agar tidak mati sia-sia.
"Naqia?" kaget Zaki, hampir tidak percaya kalau benar adanya mantan bodohnya itu ada di depan matanya, bukannya Naqia itu takut kepadanya, dan selalu bersembunyi di bawah ketek Yuga sehingga ia tidak bisa mengganggu Naqia, tapi ini.... kenapa begitu berani menampakkan batang hidungnya, dan anehnya... Naqia menolongnya dari jurang kematian.
"Aww, sakit!" Pekik Naqia, tangannya berdenyut, di tambah sikut itu pun lecet karena benturan aspal, dengkulnya pun menjadi korban cium aspal.
Zaki terhentak dari lamunannya akan kepekikan Naqia. Lantas ia berdiri dari jatuhnya dan menepuk tangannya guna membersihkan tangan itu dari debu.
"Naqia, sedang apa di sini, eum?" Tanya Zaki bingung, Puteri idiot yang sudah bermetamorfosa jadi Cinderella kini berkeliaran di hadapan matanya, entah harus melukai Naqia atau berterimakasih, Zaki jadi tersentuh hatinya, ia sudah hutang nyawa ke Naqia, dari dulu putri Nugraha ini memang punya hati baik, tidak di pungkiri oleh Zaki akan hal itu.
"A_aku mau bertemu seseorang di gedung ini" Sahut Naqia sedikit terbata di awal ucapannya, Namun sebisa mungkin ia menekan rasa takutnya ke Zaki agar mantan suaminya itu paham kalau ia bukanlah Naqia yang lemah lagi seperti dahulu yang mudah di tindas.
"Tangan mu, terluka! Aku obatin, sebagai tanda terima kasih karena sudah menolong ku." Pinta Zaki, terdengar tulus yang di tangkap oleh telinga dan mata naked Naqia, entah hati Zaki.. Naqia tidak mau ambil resiko, hingga niat hati untuk menolak tawaran Zaki.
"Tidak usah, aku__eeh!"
Zaki tidak menerima penolakan, tangan Naqia yang tidak sakit di geret ke arah jalan food court berada.
"Aku tidak akan melukai mu, tenang lah." Terang Zaki, memaksa Naqia untuk duduk di table itu, Naqia hanya diam, lebih tepatnya aneh dengan sikap Zaki yang sangat berbeda jauh saat ini, apakah itu hanya pencitraan saja? Naqia tidak tahu, tapi pasti akan bersyukur bila mana Zaki sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Aww!" Naqia meringis di kala Zaki mengobati sikutnya dengan obat seadanya dari waiters.
"Ada pasirnya, aku bersihkan dulu__"
"Aku tidak akan tertipu dengan akal sok baik mu ini mas Zaki." Tandas Naqia, ia mengingat tujuan awalnya berada di sini, dengan itu ia menarik tangannya dan beranjak dari kursi food court itu.
Zaki hanya menghela nafas kasarnya, seraya menatap punggung Naqia yang berbelok di mana lift berada.
"Tapi...Naqia mau bertemu siapa di sini? Bukannya Naqia itu mempunyai batas teman, bahkan bisa di hitung." Zaki bermonolog sendiri, penasaran.. kaki itu pun mengikuti langkah Naqia, semoga Naqia belum masuk ke lift.
Zaki berlari.