
Setelah meninggalkan meja makan, Zaki keluar rumah sekedar jalan-jalan tanpa arah tujuan, ia pusing di buat orang orang yang ada di sekelilingnya, apalagi ada anggota baru yang masuk kerumah tangganya.
"Yuga sialan !"
Kaki itu mendendang kecil angin kosong di hadapannya yang saat ini Zaki telah berjalan di bahu jalan menuju ke halte.
"Dulu, aku selalu menggunakan mobil, tapi__"
Miris, bibir Zaki tersungging miring, ia mengingat masa masa jayanya, tidak terlantu-lantu di jalan seperti ini.
"Kenapa tuhan begitu tega ?"
Uhuk !
Dulu...ia yang menimbulkan polusi udara kotor dari mesin mobilnya, tapi lihatlah...Zaki terbatuk-batuk di bahu jalan gara gara ada motor bising yang mengeluarkan asap kehitaman kotor menerpa hidung masuk ke paru parunya.
"Ganti oli, woy ! Pencemaran saja !" Kesal, Zaki melampiaskan kekesalannya dengan cara menendang botol kosong yang seakan-akan menghalangi jalannya, motor yang di teriaknya berlalu tanpa dosa.
Pluk !
Tuk !
"Sialan ! Siapa yang berani nimpuk, gue ?!"
Kaki laknat, Zaki menghardik kakinya dalam hati. Ia menendang botol tak tahu arah, masa botol itu mengenai lady man bin banci kaleng yang rupa rupanya pengamen jalanan.
Dari belakang rambut panjang rebonding hitam pekat sepinggang aduhai bergerak tertempa angin kota, blouse pink di padukan celana jeans ketat, mirip women seutuhnya, tapi saat berbalik naudzubillah. Gorila, cuy !
"Kamu ya pelakunya ?"
Zaki telah di teriaki oleh banci tersebut dari kejauhan kira kira tiga meter berjarak.
Pura pura bodoh, Zaki berkelit dengan wajah tak berdosanya, seakan akan menjelaskan air muka itu, bukanlah dia pelakunya.
"Sini tampan, aku tahu kamu pelakunya." Suara sang banci sudah muncul lakinya, ia tidak terima kepalanya di timpuk sampah botol, mana masih ada cairan kuningnya lagi, auto rambut rebonding palsunya tercemari beberapa tetes air berwarna.
Zaki yang ketahuan, mengambil ancang-ancang kabur, kaki itu alon alon mundur.
"Banci teriak banci," Rutuk Zaki dalam langkah kaburnya. "Sialan ! Lo yang banci, gila aku__aduh."
Karena matanya sesekali fokus ke belakang, takut masih di kejar banci dan berakhir berurusan jijik, Zaki telah menabrak orang, bukan banci di hadapannya saat ini melainkan preman bertatto berseliweran terlihat mengintip di sela sela baju pria tinggi itu, otot besar dengan tinggi tubuh melebihi Zaki, inilah gorila sesungguhnya, banci tadi bukan gorila, tapi anakan kera berbulu.
"Lo mau nyari ribut atau nyari mati, hah ? Badan besar gue nggak Lo lihat."
Kera baju Zaki sudah di rampas cengkram oleh pria gorila ini.
Mangap mangap terkesiap mulut itu, entah kenapa tiba-tiba ia menciut sendiri walaupun sekedar berucap satu dua patah saja, rasa rasanya lidah itu kelu, Zaki ogah ogahan mencari mati, jelas ia akan kalah tenaga otot, lah....yang ada di hadapannyakan gorila, coba saja anakan monyet, sekali di hempaskan pasti letoi.
"Ternyata selain rabun, Lo juga bisu, kasihan amat tuh wajah tampan tapi kekurangannya banyak." Hinanya seraya melepaskan Zaki dari otot tangannya, Sang preman pun pergi begitu saja setelah mendorong Zaki kebelakang, hampir dorongan itu membuat Zaki terjengkang.
Zaki bernafas lega, dia menghirup udara rakus rakus untuk pasokan paru parunya, tadi dia sempat menahan nafas, karena itu sekarang dia bagaikan ikan yang baru menemukan air.
"Hari ini, hari tersial ku !" Geram Zaki, entah harus melampiaskan kemana kemarahannya.
Saat ini, Zaki duduk di kursi depan minimarket, satu botol mineral telah di tangan, di teguknya sampai habis.
Pikirannya melalang buana, di mana dulu ia sering menghina Naqia sebagai wanita Tunagrahita.
"Tidak adil ! Orang macam Naqia yang stupid di beri sisi sempurna kecuali keidiotannya, Punya keluarga kaya harta, kaya kasih sayang, dan sekarang... hidup Naqia selalu di atas angin, sementara...dari dulu aku selalu di bawah tanah."
Zaki iri, apalagi ingatan itu tertuju beberapa tahun yang lalu ketika orang tua Naqia masih hidup, Naqia dulu begitu di manja sayang oleh mereka walaupun Naqia bodoh, Harusnya dia lah yang mendapat semua kasih sayang semua orang, secara...ia pintar, punya S2 yang bisa di banggakan, Naqia ? Apa ? Kecuali kecantikan dan tubuhnya yang nikmat untuk penghangat, tidak ada lagi yang bisa di banggakan.
Pikiran Zaki mulai di rasuki sisi negatif lagi, otak fantasi liarnya selalu di penuhi tubuh Naqia, harum manis Naqia serasa ada di pengendusannya.
Shiit ! Zaki mengumpati dirinya, dia bingung dengan perasaannya, entah dia mencintai Naqia atau hanya hasrat seksualnya saja yang di butuhkan dari Naqia, dia tidak bisa mengenyahkan fantasi liarnya, di tempat umum itu, gelora Zaki on tiba tiba, dahsyat sekali dampak tubuh istri nya.
"Gila, Gila,Gila !" Zaki meremas botol mineral yang belum di buangnya.
"Kamu memang gila, Mas. Baru nyadar kamu ?"
Zaki mendongak ke suara yang sangat di kenalinya.
"Bagaimana kalau kita kerja sama ?"