Stupid Wife

Stupid Wife
Pagi Yang Manis



Rutinitas sehari-hari Yuga kembali normal, kerjaan di kantor sudah menunggunya, pagi hari ini ada yang berbeda.


Saat usai mandi, di kasur sana sudah ada pakaian formalnya, bibirnya tersenyum manis. Naqia benar-benar ingin belajar membuka hatinya demi membalas cintanya.


"Lho, kok belum di pakai bajunya, Pak?"


Naqia baru masuk dari kamar, lekas dari dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"hmm, ada yang kurang, sini deh!" Lambai Yuga, Naqia mendekat polos, Padahal si pak pengacara ini hanya mau menggoda saja.


"Masa sih? perasaan pakaian ini sudah lengkap kok, aku siap__"


Grebb..


Naqia terpaku, Yuga ternyata hanya ingin memeluknya dari belakang, dada polos suaminya sudah menempel di punggungnya, untungnya si koi sudah memakai celana bahan.


"Jangan panggil Pak, bisa tidak?" Pinta Yuga dengan suara lembut di sisi telinga Naqia, dagunya pun ia topang di bahu Naqia. ingin menciptakan suasana romantis di pagi hari.


"Maksud__" Naqia menegang, ia tidak biasa di romantisi begitu. ia jadi gugup sendiri.


"Mas, Sayang atau apapun boleh asal jangan Pak, aku bukan orang lain lagi." Yuga mengecup telinga itu hingga hembusan nafas Yuga membuat Naqia melenguh uuhh.


"Baiklah, tapi ini geli!" Naqia bersemu, ingin lepas dari dekapan Yuga, tapi suaminya semakin erat saja memeluk perutnya dari belakang.


"Coba panggilan kamu ke aku, apa? aku mau mendengarnya!" Yuga membalikkan badan Naqia untuk menghadapnya, Naqia menunduk dengan wajah merona, mudah sekali di tebak air muka itu oleh Yuga kalau istrinya sedang menahan kegugupannya.


"Naqia." Yuga mengangkat dagu itu agar Naqia mendongak ke matanya.


"Lihat iris mata ku, ada apa di dalam sana?' Tanya Yuga ambigu.


"Bola mata hitam, apalagi selain itu, memangnya iris pak Yuga ada apanya?" Polos Naqia, tapi ia tidak salah, mata ya.... isinya hanya bola mata, tidak ada yang lain lagi. eh...tunggu, ada sesuatu lagi yang Naqia tangkap di pinggir mata itu.


Ya...belek! you know belek? itu lho, ee'ee mata.


"Ada eeenya juga pak, tapi sedikit sih, Pak Yuga kok mandi tidak bersih sih? jorok banget!"


Gagal sudah mau ngeromantisin istrinya gara gara secuil belek yang masih terpatri, padahal Yuga ingin berkata... Di iris mata ku ada kamu disitu, dan aku pun ada di iris mata mu, aku dan kamu...yakni kita jadi satu.


Dasar otornya aja yang bikin scene gagal! Yuga menggerutu.


Naqia menarik tissue, membersihkan mata itu yang kata Naqia jorok banget, "Sudah bersih!" Naqia memamerkan tissue itu yang tidak ada apa-apanya.


"Mana? tidak ada kok!" Seru Yuga dengan sedikit bibir cemberut, Naqia tersenyum geli, ia hanya mengerjai suaminya saja.


"Kamu__" jeda Yuga, Naqia terbahak-bahak dan lepas dari jangkauannya.


"Hahahaha."


"Naqia!" Panggil Yuga, istrinya itu mau keluar kamar tanpa ingin membantunya berpakaian.


"Apa? buruan siap-siap, Mama dan yang lainnya menunggu di meja makan." Naqia berbalik, menatap Yuga yang malah duduk di kasur, mengabaikan titahnya.


Yuga mode manja coeg! sudah tua maunya di bantuin berpakaian macam anak TK.


Lantas, Naqia berjalan lagi ke arah Yuga berada.


"Pak!"


"Abang!" putus Naqia akan memanggil dengan sebutan hormat itu.


"Nah, itu kan mesra, Abang! ok juga!" Yuga tersenyum lebar.


"Jadi Abang baso, cepat pakai bajumu__"


"Coba sekali lagi sebut Abang apa?" Yuga mengelus telinganya, ia tidak congee kan?


"Abang! Telinga kok budek sih!" Naqia tersenyum tipis, mengelak, menarik baju Yuga di kasur dan memberikannya ke Yuga agar lekas mengenakannya, hari ini ia terlihat ceria, sudah memutuskan akan maju demi kehidupan bahagianya.


Hani juga mengiming-ngiminnya akan menjadi seorang ibu bila mana sering berhubungan Nganuhh, Jelas Naqia mau jadi seorang ibu, Nganuuuh? jelas juga ia sudah ketagihan, enak kok di tolak. Traumanya itu sudah mati karena sentuhan lembut berperasaan Yuga, tidak seperti sentuhan tidak manusiawi dari Zaki.


"Abang tidak budek!" Yuga memamerkan bibir rajuknya , tapi di dalam hatinya, ia tersenyum senang, Naqia terlihat welcome kepadanya hari ini, hari ini pun sangat indah untuk Yuga.


Bagaimana tidak indah, lihatlah perhatian Naqia terhadapnya.... Baju di siapkan, kemejanya juga saat ini telah di kancingkan oleh Naqia. Hal kecil tapi maknanya sangat romantis bagi Yuga.


"Ish susah sekali!" Naqia menjinjit, dasi yang ingin ia lingkarkan ke leher Yuga, tidak sampai-sampai karena tubuh tinggi Yuga.


Yuga tersenyum geli, "Jadi orang tuh tumbuhnya ke atas bukan ke samping seperti Mama!" Candanya mengatai Naqia gendut padahal tidak sama sekali.


"Seperti Mama? ish... gendut dong!" Naqia memukul dada Yuga yang tadinya masih berusaha melingkarkan dasi itu, Yuga ogah-ogahan sekedar menunduk barang sejenak pun, sengaja melama-lamakan kesempatan pagi indah di urus oleh Naqia.


"Ayo menunduk!" Pinta Naqia. Yuga menggeleng.


Aaargh..


Sejurus... sekonyong-konyongnya tubuh ramping itu berpindah ke kursi rias, ulah Yuga yang mengangkatnya. Naqia menjerit kaget.


"Ish!" Naqia memegangi dadanya, terkejut. dengan satu tangannya berpegangan di pundak Yuga, karena saat ini ia berdiri di atas kursi, Yuga juga memegangi kedua sisi pinggangnya, agar tidak terjatuh.


Yuga tekiki kecil... Naqia menatapnya kesal.


"Derajat wanita bagi ku, memang seharusnya lebih tinggi, seperti ini contohnya." Yuga memberi contoh sederhana agar Naqia paham maksudnya, tinggi kepala Naqia lebih tinggi dari kepalanya saat ini, karena bantuan kursi.


Perlahan...air mata haru Naqia menganak di pelupuk mata itu, berkaca-kaca memandang teduh penuh rasa syukur ke wajah Yuga yang miskin ekspresi tapi hatinya itu ternyata seperti puding kebanyakan air, lembut banget.


Definisi Yuga tentang kehormatan wanita baginya adalah hal utama.


Tidak ada wanita maka tidak akan ada keturunan di dunia ini, Memang.... seorang laki-lakilah yang berperan penting membuahi ovum bin menitipkan kecebongnya agar menjadi embrio di rahim itu, tanpa adanya wanita, laki-laki bisa apa...tidak mungkin mau nitip kecebongnya di katak indukan bukan?


So...Yuga sangat mendedikasikan seluruh hidupnya di atas kehormatan wanita tersayangnya, jadi siapa pun yang berani-beraninya merendahkan wanitanya di hadapan Yuga maka.... kreeekkk. You know kreeekkk? Ya...pikir sendiri!


"Kenapa malah mau menangis?" Bingung Yuga, "Apa aku menyakiti mu tanpa aku sadari?"


Naqia menggeleng, gegas mengusap air bening yang hampir lolos.


"Ini hanya air mata haru! Terima kasih sudah baik kepada ku salama ini, terima kasih sudah mau membimbing wanita idiot ini menjadi punya otak walaupun secuil pun, terima kasih__"


Naqia terjeda, Yuga tiba-tiba memeluk perutnya, kini kepala Yuga tenggelam di perut istrinya yang berdiri di atas kursi.


"Jangan berterima kasih, cukup beri kasih sayang dan cinta mu juga ke padaku, aku mencintaimu, balaslah cinta ku dan hidup bahagialah bersama ku." Ungkap Yuga di atas permukaan perut Naqia.


Naqia tidak menjawab, ia tidak mau bermulut manis tapi kenyataannya cintanya itu belum tumbuh.


Suatu saat aku akan mengucapkannya secara lantang, tapi tidak untuk saat ini, aku akan berusaha, suami ku!