
Bulan madu yang di rencanakan sudah tinggal rencana saja karena dapat kultum dari calon sang Oma. Naqia di larang keras oleh Hani untuk bepergian jauh dalam keadaan rentang kondisi kehamilannya itu. Demi keselamatan, Yuga tentu saja menurut. Toh.... bermesraan di dalam kamar pun jadi, di WC pun kalau tidak jorok ya silakan.
Yuga akhirnya memilih untuk sibuk di kantor karena ada sedikit masalah. Dia pun terpaksa meninggalkan Naqia yang lagi dalam manja manjanya akan kehamilannya.
Di saat ini, Naqia sedang membuka kulkas. Dia membungkukkan tubuhnya untuk mencari sesuatu yang di inginkannya.
"Nyari apa, Naqia?" Hani yang baru masuk ke dapur, bertanya. Dia ikut berdiri di sisi kulkas. Bi Narsi jelas sudah istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 22:59
"Rujak mangga!" Sahut Naqia seraya menutup pintu pendingin itu. Tidak ada buah yang di carinya.
"Buah lainnya saja bagaimana?" Tawar Hani. "Di kulkas kan banyak tuh buah yang segar." Rayunya berharap Naqia mau menerima sarannya.
Naqia menggeleng dengan raut wajah sedih. Entah kenapa dia ingin makan rujak itu. Titik!
"Hmm, tapi ini sudah malam lho sayang, tidak ada yang jual di jam segini. Yuga juga belum pulang, katanya deadline." Terang Hani.
Hani masih berharap Naqia mau tergoda dengan buah lain, hingga buah jeruk dan apel dia lempar kecil ke udara di masing-masing tangannya itu. Niat hati sih, biar Naqia meminta mupeng. Tapi Naqia malah pergi ke arah ruang keluarga membawa wajah yang tertekuk kecewa setelah berkata... Aku maunya mangga asem.
"Tidak bisa di biarkan ini mah. Nanti kalau cucu ku ecesan bagaimana? jelek dan jorok dong. Ogah ya, Yuga harus dapat buah mangga walaupun susah dapatnya karena bukan musimnya."
Hani menarik gawainya untuk menelpon Yuga.
" Halo ma!"
"Lagi di mana? Masih di kantor kah?"
" Di jalan otw pulang. Bentar lagi sampai."
"Putar balik lagi, jangan pulang sebelum dapat rujak mangga muda yang asem karena itu keinginan Naqia. Istri mu lagi ngidam rujak manis pedas asem, katanya."
"Ma__"
Klik..
"Hah, di matikan? kebiasaan!" Gerutu Yuga seraya menatap layarnya yang tingal menampilkan wajah Naqia sebagai wallpaper gawainya.
"Baiklah sayang! Demi membuat mu senang, aku akan berusaha membawa apapun yang kamu inginkan." Ucapnya ke foto itu, lalu dia tersenyum manis.
Yuga pun akhirnya memutar kembali kemudinya ke jalan raya yang sudah sepi, penjual kaki lima yang biasanya menyediakan rujak buah atau jajanan lainnya yang memang jarang di cari malam hari, sudah pada tutup.
"Astaga, nyari di mana tukang rujak mangga di bukan musimnya dan di tengah malam begini?" Yuga berputar-putar, naik turun ke mobil setelah bertanya setiap di resto dan di cafe yang di lewatinya tapi nihil adanya makanan kebutuhan istrinya itu.
Ckiiit...
Ban mobil bergesek aspal begitu ngilu terdengar karena Yuga tetiba me-rem pedalnya. Dia melihat pohon mangga di dekat tembok tinggi di pelataran pojok sebuah gedung.
Dia pun mengundurkan kendaraannya demi bisa melihat. Apakah di atas pohon sana ada buahnya?
"Itu dia!" Senang Yuga menjetikkan jarinya seakan-akan dia sudah menemukan jalan kebahagiaan hasrat ngidam istirnya.
"Tapi bagaimana caranya agar bisa ke tangan?" Bingungnya. Masa iya harus memanjat pohon yang seumur-umur belum pernah melakukan kekonyolan itu.
"Bahaya ngga ya?" Tanyanya sendiri dengan kemeja panjang bagian lengan dia hela hingga sesikut. Yuga berniat memanjat sendiri karena tidak ada orang yang harus di bayarnya.
"WOI!!! MAU MALING YA!"