
Bugh...
Zaki terjatuh karena tersandung kaki sendiri, itu karena dia sudah kualahan akan beban beras yang berada di pundaknya.
"Kamu bagaimana sih? baru hari ini kerja sudah membuat saya rugi!" Marah sang pemilik toko beras.
"Saya, mi-minta ma----"
"Biar saya yang mengganti kerugian anda. Dia kerabat saya." Naqia langsung menyergah. Walaupun dulu Zaki menganiayanya, tapi sungguh... hati Naqia amatlah miris melihat kehidupan Zaki.
"Naqia, Yuga." ucap Zaki merasa malu karena ke-dua orang yang di hadapannya sudah melihat hidupnya yang amat menderita.
"Ayo naik ke mobil." Titah Yuga seraya menatap Naqia dan Zaki. Dia sudah membayar kerugian satu karung beras.
"Aku?" tunjuk Zaki ke dirinya. Yuga mengangguk. "Tapi mau kemana__"
"Ayo, Mas! ikut saja." terang Naqia.
Setelah berucap, Naqia langsung masuk ke mobil. Zaki nampak ragu, tapi Yuga mengkodenya dengan gerakan kepalanya.
Mobil pun melaju saat Zaki sudah ikut bersama Yuga dan Naqia.
"Kita mau kemana? aku harus kerja." Zaki takut di pecat dari toko beras tadi. Dia menyadari kalau mencari pekerjaan itu sangatlah susah.
"Tanpa ikut kami pun, kamu sudah di pecat karena merusak barang dia yang kamu jatuhkan," kata Yuga seraya melirik Zaki melalui kaca di depan kemudinya.
Zaki terdiam, benar adanya kata Yuga. Sekarang pun dia pasrah mau di bawah ke mana oleh Naqia dan Yuga.
"Gimana keadaan Naima, Mas?" tanya Naqia sedikit memutar badannya menghadap ke kabin belakang.
"Kakinya masih sama, tidak ada kemajuan. Namun psikisnya sudah mulai tenang, karena dia mulai belajar dan mencoba sedikit demi sedikit menerima jalan hidupnya," jelas Zaki.
"Semoga lekas sembuh." Naqia berdoa tulus.
"Amin," sahut Zaki yang duduk di kabin belakang. Yuga hanya sibuk memperhatikan Naqia dan Zaki bercakap-cakap. Dalam hatinya, Yuga sangat mengagumi sosok baik Naqia. Kalau dia di posisi Naqia, entah bisa atau tidak memaafkan orang yang amat berperan buruk dalam hidupnya.
Sampai di depan pelataran kantor plus pabrik, mobil Yuga pun berhenti. Zaki turun terlebih dahulu. Kakinya terpaku di tanah dengan mata menatap gedung di hadapannya.
Jelas dia tahu gedung di hadapannya adalah bekas kejayaan Nugraha karena dulu dia kadang menjadi sopir orang tua angkatnya itu.
Pertanyaannya? Bukannya perusahaan ini punya orang lain, karena katanya bangkrut?
"Kalian mengajak aku ke sini mau ngapain?" Zaki menatap selidik ke Yuga dan Naqia.
"Nanti juga tau." Yuga berjalan setelah menarik pinggang Naqia untuk di rangkulnya secara posesif.
Zaki mengekor dengan ribuan pertanyaan yang muncul di otaknya.
Sampai di dalam gedung. Yuga dan Naqia langsung memasuki ruangan meeting. Ternyata kedatangannya sudah di tunggu oleh para karyawan yang memegang peran penting sesuai divisinya.
"Selamat siang, Pak, Bu!" kompak para staf perusahaan menyapa Yuga dan Naqia berikut Zaki yang otaknya sekarang curiga kalau sang pemilik baru adalah Yuga. Naqia? rasa rasanya tidak mungkin, tebak Zaki dalam diamnya.
"Pagi! silahkan duduk." Suara Yuga sudah mulai dingin berwibawa.
Tidak ada yang bersuara, hanya keheningan dari para staf. Karena jujur ... mereka sangat takut ke Yuga yang tidak bisa di tebak.
"Kemarin kalian pasti sudah dengar kemarahan saya tentang gosip murahan yang menghina istri saya?!" Suara Yuga bak pakai toa di dalam ruangan itu. Naqia sampai terkejut memegangi dadanya akan suara terhakiki kegarangan Yuga.
Macam singa yang mengaum, batin Naqia.
"Dengar, Pak!" salah satu staf memberanikan untuk menjawab.
"Siapa lagi yang ingin saya pecat tidak hormat di sini? katakan? apa semuanya mau di pecat oleh istri saya yang notabene-nya adalah orang yang selama ini memberi upah ke kalian?"
Duaaar..
Bukan hanya para staf yang terkejut, Zaki yang sudah paham maksud Yuga jelas di buat spot jantung. Naqia adalah pemiliknya, lirih Zaki dalam hati. Itu tandanya Nugraha tidak bangkrut?
"Maksud anda, Pak Yuga?" Divisi dari pengelola keuangan bertanya takzim. Sempat mereka melirik Naqia yang malah makan jamuan meeting itu dalam keadaan santai. Kehamilannya membuat perutnya cepat perih. Dua biji lemper isi abon daging sudah masuk ke perutnya.
"Tidak perlu di ulang lagi, aku yakin kalian tidak pada tuli. Jadi... bilangin ke team masing-masing untuk jangan ngerumpi di jam kerja atau karir kalian akan tamat," ancam Yuga. "Tapi kalau ingin di perjelas lagi siapa saya sebenarnya, maka dengarkanlah. Saya hanya pengacara yang merangkak menjadi pelindung perusahaan istri saya. Itulah kenyataannya."
Sejenak Yuga melirik Zaki yang mengerutkan dahinya dalam berpikir.
"Baik, Pak. Serahkan kepada tiap ketua divisi masing-masing, kami akan semakin memperketat team kami agar selalu menunjukkan rasa keformalitasnya terhadap kantor kita. Dan kami paham sekarang kalau Ibu Naqia adalah pemilik perusahaan ini." staff perempuan dari pemasaran itu menyahut sopan.
Yuga mengangguk. "Kumpulkan semua team kalian tanpa terkecuali di ruang aula di jam makan siang nanti. Aku akan memperkenalkan istri ku sebagai pemilik sesungguhnya di sini, paham?"
Seruan paham pun terucap kompak. Yuga segara mengakhiri rapat itu, membuat semuanya bubar kecuali Naqia dan Zaki.
Zaki masih diam, tapi kakinya itu beranjak.
"Mau kemana, Zaki?" Yuga mencegat dengan suara tegasnya. "Bahkan kami belum berbicara satu kata pun, tapi kamu sudah mau pergi," sambungnya.
Zaki pun berhenti dan berbalik ke arah Yuga dan Naqia. "Aku malu berada di antara kalian, tempat ku dari kecil memang dari jalanan dan akan seperti itu." Zaki sadar diri.
"Uang Papa yang keluar banyak untuk menyekolahkan mu, sungguh sangat mubazir sekali, kalau hanya di gunakan di toko beras seperti tadi." Naqia berseru. Zaki belum paham akan lari kemana pembicaraan Naqia.
"Aku ingin Mas Zaki mau bekerja di sini untuk membantu suami ku, maju bersama-sama demi nama Papa. Buktikan kepada ku kalau kamu benar adanya sudah berada di jalan yang benar. Dan jangan sia-siakan pengorbanan Papa dalam membimbing mu. Gunakan kesempatan ini dengan baik, Mas. Dan jangan pula salah gunakan lagi kepercayaan ku terhadap mu."
Zaki speechless akan hati Naqia yang amat-teramat baik. Sungguh, Zaki ingin memeluk wanita yang pernah di aniaya itu. Tapi, pelukannya ini bukan pelukan birahi melainkan pelukan sayang kepada adiknya.
Dan Sekonyong-konyongnya, Zaki memeluk Naqia dengan bibir itu terus menerus berkomat-kamit terimakasih seperti mantera.
"Aaargh, Terimakasih sih terimakasih. Tapi jangan peluk juga." Ketus Yuga mengerang dan menarik segera Naqia masuk ke dalam dadanya. Dia cemburu coeg.
Zaki baru tersadar, dia pun tercengir bodoh. "Hehehe, maaf!" Zaki menggaruk tengkuknya.
"Itu ya namanya, cemburu?" Naqia menggoda Yuga yang masih cemberut. Cup... bahkan berani mengecup bibir suaminya di depan mata Zaki.
Aku jadi obat nyamuk, batin Zaki. Perlahan kaki itu pun mundur mundur tidak mau mengganggu kemesraan Yuga dan Naqia. Dia ingin segera pulang dan memberikan kabar baik ke Naima.
Aku berjanji pak Nugraha, kali ini aku akan membayar jasa budi mu dengan baik walaupun cara berbeda, bukan menantu mu lagi. Separuh raga dan jiwa ku akan ku dedikasikan di perusahaan mu, batin Zaki bersungguh sungguh.