
Fajar menyingsing di ufuk barat, pertanda gelap malam akan datang, burung-burung bebas di atas sana pun telah kembali ke sarangnya, begitu pun manusia yang ingat waktu kalau di senja Maghrib wajib para penghuni bumi di dalam rumah sejenak menunaikan kewajiban tiga raka'at.
Itulah yang di lakukan Naqia saat ini, menghadap kiblat dengan tangan memanjatkan doa Kepada-Nya, ia telah usai menunaikan kewajibannya.
Yuga yang mau masuk ke kamar, di urungkan. Kakinya terpaku di ambang pintu, melihat dan mendengar Naqia yang minta maaf kepada Tuhan karena belum siap menjalankan ibadahnya sebagai istri seutuhnya.
"Aku mengerti keadaan mu, Naqia. Jadi santai saja, aku masih menunggu hilal itu." Gumam Yuga paham keadaan Naqia, sejurus masuk ke dalam yang tadinya ragu-ragu.
Naqia menoleh ke arah Yuga, bukena masih di tangannya, ia tersenyum paksa menyambut kedatangan Yuga.
"Aku mau ke kamar mandi." Yuga berlalu tanpa membalas senyum Naqia, lebih tepatnya ia tidak mau membuat Naqia berpikir aneh-aneh tentangnya.
"Apa pak Yuga marah karena mendengar doa ku barusan?" Naqia jadi serba salah.
Di luar pintu ada Hani dan Bi Narsi yang menguping di daun pintu itu setelah tertutup rapat-rapat.
"Kok nggak ada suara kejadian apa gitu Bi?" Ujar Hani, ia sudah menceramahi Yuga agar mengeluarkan seribu cara rayuan untuk melakukan ritual malam pertama bersama Naqia, malam ini juga anaknya itu harus menyingkirkan tembok hati dingin Naqia, maunya memaksa demi cepat momong cucu.
"Nya, ini kan masih di bilang sore, mungkin malaman kali, Nyonya, tenang saja besok pasti non Naqia keluar kamar dengan rambut basah terus jalannya akan aneh."
Nyonya dan ART ini amatlah akrab mengkhiba kompak tentang malam pertama, Yugi yang duduk di sofa hanya geleng-geleng kepala, tidak mau ikut-ikutan.
...****...
Di rumah Naima, pasangan kurang akhlak itu baru selesai ritual panasnya, Lebih tepatnya kelelahan, belum puas. istirahat terlebih dahulu, sejenak Naima melupakan kekalahannya oleh Naqia yang sudah berhasil menjadi nyonya Pratama.
"Singkirkan tangan mu," Naima menepis tangan Zaki yang ingin meremas balon ku ada dua miliknya.
"Ck, tadi aja keenakan." Zaki tersenyum nakal, wanita munafik, batinnya.
"Itu karena aku kebelet." Elak Naima, dada Zaki semakin dekat dari kepolosannya, Naima ingin turun dari kasur, tapi kembali terhuyung jatuh ke kasur akan ulah tangan nakal Zaki yang menariknya hingga berbaring lagi di kasur itu.
"Apa sih? aku ingin menyudahi permainannya untuk malam ini." Kesal Naima mendorong Zaki yang sudah menindihinya.
"Enak saja! aku belum puas." setelah berucap, Zaki langsung membungkam kasar mulut Naima begitu rakus menggunakan bibirnya, Naima sempat menolak tapi seperkian detik, hormonnya terpencing lagi, lidah sialan Zaki selalu membuatnya candu, apalagi jari Zaki sudah masuk bermain di intimnya.
Dan mereka melakukannya lagi untuk kesekian kalinyanya malam ini.
Kembali ke malam pertama pengantin baru, Tidak ada kejadian apa pun, yang ada kecanggungan, jam sebelas malam kasur itu masih kosong, baik Naqia maupun Yuga menjadi bisu di duduknya masing-masing di dalam kamar itu, Yuga duduk di sengle sofa, sementara Naqia duduk di meja riasnya.
Hiks, miris sekali malam pertama mu Yuga!
Yuga meledek dirinya sendiri dalam hati, author tersenyum jumawa.
"ke_kenapa?" Naqia tergagap.
Yuga menggeleng dan menatap Naqia melalui pantulan cermin, ia berdiri tepat di belakang kursi Naqia.
"Aku mau ijin tidur di kasur mu, boleh? aku janji tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuan mu."
Dan tanpa berpikir dan memang tidak mencerna ucapan Yuga karena gugup, kepala Naqia mengangguk memperbolehkan, Yuga tersenyum dan segera beranjak naik ke kasur, nah...saat itulah Naqia sadar akan persetujuannya tentang berbagi kasur.
"Aku tidurnya di mana? masa di lantai?" Gumamnya dengan nafas pelannya.
Beberapa menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit, dua pasang kuping di daun pintu kamar masih mencoba menguping, eh...tidak ada tanda-tanda smackdownan di dalam sana.
"Ah, tidur yuk Bi, Yuga memang payah, tidak bisa merayu wanita, kaku dasar dia!" Hani mendumel, boleh menerobos masuk nggak sih, ia ingin menjewer telinga anak sulungnya yang payah menurut Hani.
Bi Narsi yang lelah pun mengangguk saja, ia memikirkan Naqia, lebih tepatnya iba akan Naqia tentang ketraumaan ulah Zaki jahanam.
Di dalam sana, Naqia baru bangkit dari kursi riasnya, bokongnya itu sudah panas, ingin tidur tapi di mana, mau keluar juga nggak sopan terhadap Mertua yang takut merasa tidak di hargai anaknya.
Akhirnya, Naqia memberanikan diri untuk berbaring di sisi Yuga, masih takut takut sih, tapi mata dan tubuhnya sudah lelah jadi terpaksa tidur di kasurnya, toh...Yuga juga sudah tertidur pulas dari tadi, pikir Naqia.
Tapi tunggu! Naqia mengetes kenyenyakan Yuga sekali lagi dengan telapak tangan itu mengibas di hadapan wajah Yuga.
Aman! Batinnya, bantal guling sudah berada di tengah-tengah mereka sebagai batas wilayah teritorinya.
Tanpa Naqia tahu, Yuga sebenarnya masih terjaga, bibir itu tersenyum tipis, ada kemajuan, malam ini hanya berbaring biasa, mungkin ke esokan malam-malam berikutnya ada kemajuan lagi, misalnya Naqia menjadikannya bantal guling gitu, Yuga rela pakai banget di kekepin sebagai guling.
Sejurus...
Eeeh, Yuga menahan nafasnya, benar adanya, Naqia menjadikannya guling, pembatas guling itu pun sudah di lewati Naqia, kaki Naqia berada di atas perutnya, dan tangan itu tepat di dadanya sebagai pelukan, mana wajah Naqia begitu dekat lagi ke jenjang lehernya, sehingga nafas panas Naqia membuatnya on sendiri.
Damn it! Yuga....ini rejeki atau musibah sih, di peluk memang enak menghangatkan, tapi kalau on begini, terasah siksa neraka, sesak coeg!