
Hani mondar-mandir di dalam rumah dekat pintu utama itu, hari sudah sore dengan awan gelap pertanda Baruna atau dewa air akan turun mengguyur bumi, Ia menunggu Naqia dan Yuga yang tak kunjung datang.
jangan sampai mereka berdua makan malam di luar, gagal sudah nanti rencana ku.
Hani mendumel lirih dengan mata itu sesekali melirik ke jendela itu, bukan apa-apa....racun cinta untuk Naqia siapa yang akan makan coba?
Lama menunggu nan kaki itu sudah pegal, Hani akhirnya berjalan ke arah kamar tamu di mana Yugi lagi asyik rebahan dengan bluetooth speaker di telinga.
"Yugi!" Tidak ada jawaban, karena Yugi sedang asyik menyanyi, tidak menyadari keberadaan Mamanya.
"Yugi!" Hani menarik speaker itu, bahkan sedikit menjewer telinga anak gadisnya yang urakan bar-bar, ciplakan dirinya di waktu masih muda.
"Apa sih Mama sayang?" Dia terkejut, bibir itu cemberut seraya mengelus telinganya. Hani menampilkan wajah acuhnya tentang jewerannya.
"Telpon kakak mu!" Titahnya.
Yugi segera menurut, perintah ibu negara adalah mutlak, jangan sampai kuping di iris.
"Nggak aktif!" ujarnya sudah mencoba menghubungi Yuga.
"Naqia aja!"
Yugi kembali menurut, tapi sama saja tidak aktif.
Haisss, obat peningkat gairah untuk Naqia, gagal sudah!
Rencana cerdik Hani terancam gagal.
"Kenapa sih Ma?" Bingung Yugi, Mamanya itu terlihat kecut air mukanya.
"Nggak kenapa-kenapa, Mama mau nyari kucing aja, biar tuh kucing kawin sepanjang malam." Gerutu Hani seraya meninggalkan kamar Yugi, ia menyayangkan obat mahal yang di belinya khusus Naqia, Lebih baik di kasih kucing kan makanan bermagic ramuan itu dari pada mubazir, biar kawin dan menghasilkan banyak anak, pikiranya sedekah.
"Mama aneh!" ledek Yugi cuek.
...****...
Hujan deras telah turun, namun Naima masih nekat ke luar apartemen guna menghampiri Naqia untuk membuat wanita Stupid itu menjadi hancur di umur pernikahannya yang masih sebiji merica.
Kaki itu masih di lobby gedung apartemennya, mau ke parkiran tapi tidak membawa payung, alhasil....ia harus menunggu sampai hujan reda.
Hu, menyebalkan! selalu ada rintangannya untuk menggapai impian.
Naima berdecak kesal, mencari tempat nyaman untuk sekedar menaruh bokongnya.
"Zaki!" lirihnya mengenali punggung itu dari belakang, Zaki bersama seorang wanita di mata Naima, entah kenapa ada rasa tidak suka melihatnya. Cemburu? Oh tidak sudi! Tepis-nya dalam hati.
"Itu Mayang 'kan?"
Kaki itu berangsur mendekat ke dua orang yang sedang bercakap cakap di hadapan minimarket gedung, penasaran apa yang mereka perbincangkan.
"Hahaha, hidup kamu selalu numpang di rumah seorang wanita, Mas Zaki." Mayang tertawa ledek mengetahui Zaki kini berada di ketek Naima.
Zaki hanya diam, karena memang betul kenyataannya, dulu ia numpang hidup di Naqia dan sekarang ke Naima.
Naima masih di belakang sana, mendengarkan dua manusia itu bercakap-cakap.
"Oh Mas Zaki." Suara Mayang nampak manja merayu. "Kamu masih saja mempersalahkannya, bagaimana kalau aku menebusnya malam ini dan seterusnya, aku sudah kaya lho, kakek tua yang ku nikahi sudah mati, dan hasilnya.. hartanya yang banyak itu menjadi milikku." Tangan Mayang mulai nakal, telunjuknya itu membuat abstrak di lengan Zaki, "Bagaimana, Honey?" Bisiknya mesra di telinga Zaki.
Zaki hanya datar, ia tidak tergoda oleh muntahan banyak laki-laki seperti Mayang.
Naima di belakang sana melototkan matanya marah tidak jelas melihat itu, ia tidak suka laki-laki yang selalu memakai tubuhnya setiap malam di rayu oleh wanita lain tepat di depan matanya, enak saja...Nehi-nehi ya.
Naima ternyata tamak pemirsa, ingin memliki Yuga tapi tidak bisa merelakan Zaki pun pada wanita lain, mamam tuh cemburu! ia jadi keder dengan perasaannya.
"Hemm, Nakal ya!" jewer Naima tiba-tiba di telinga Zaki, ia sudah seperti seorang istri yang menciduk suaminya sedang berselingkuh.
Jelas Mayang dan Zaki terkejut hebat, apalagi Zaki yang mendapat jeweran keras dari kuku lentik Naima.
"Sakit, Naima__aww!"
"Ayo pulang! dan kamu stop," Naima menunjuk garang Mayang yang ingin menolong Zaki yang masih di jewernya, "Jangan ikut campur, ini masalah orang rich." Katanya sombong, dan berjalan ke arah lift dengan tangan itu menggeret telinga Zaki yang masih merintih aduh aduh. mereka menjadi tontonan orang yang berada di lantai satu lobby itu.
Naima pun seketika melupakan awal niatnya yang ingin merecoki hari ketenangan Naqia dengan alasan kehamilannya, Zaki butuh di beri UUD negara khususnya detik ini.
"Huuu, rich taiiiiii kucing!" Teriak Mayang di belakang sana, " Hei, Naima...Aku juga sudah tajir...asal kamu tahu itu!" Lagi, ia berteriak sombong, namun tidak niat mengejar ke-dua orang itu.
...****...
Di sisi Naqia dan Yuga, kedua orang itu terjebak hujan deras di tengah jalan sepi sepulang dari TPU.
Mobil Yuga mogok, air hujan yang lumayan tinggi naik ke jalan itu membuat mesinnya mati di jalan.
"Pak!" Pekik Naqia, ada suara guruh di langit yang memekikkan telinga, ia ketakutan suara alam itu.
Tanpa sadar, Naqia memeluk Yuga di dalam mobil itu, suasana badai ini lah yang membuatnya takut, dulu ia mendapatkan kabar buruk tentang kematian orang tuanya, tepat langit dalam keadaan badai hujan.
"Tenanglah Naqia, ada aku!" Yuga mencium pucuk kepala Naqia yang masih erat-erat memeluknya, tentu saja ia membalas pelukan hangat itu, rejeki kok di tolak, mu-ba-zir amat.
Inilah namanya, Badai berujung kenikmatan. Batinnya, justru Yuga malah berdoa, agar suara guruh itu kian menggelegar, biar terus berpelukan.
"Aku tidak mau terjebak di sini, Pak Yuga!"
Yuga mengelus sejenak telinganya, ia tidak suka mendengar Naqia masih memanggilnya Pak! sudah sah kok masih formal beut.
"Terus, gimana? kita tidak mungkin jalan, mobil ku mogok." Mata Yuga menggerlya keluar, mata elangnya mendapati ada penginapan di sana, TPU orang tua Naqia memang di bilang di pinggir kota, jadi hotel daerah situ amatlah jauh.
"Di sana kalau tidak salah ada homestay, apa kamu mau ke sana sampai hujan reda?"
Naqia menarik kepalanya yang di dalam dada Yuga, ia baru sadar kalau ia sudah lancang menyentuh pria itu.
"Mau!" Setuju Naqia.
Dan Yuga pun turun dari mobil dengan payung satu di tangannya, berputar ke arah sisi kanan untuk membuka pintu buat Naqia.
"Ayo, kamu saja yang memakai payung kecil ini." Yuga merelakan dirinya terguyur hujan, asalkan Naqia tidak terkena air deras itu, ia tidak mau wanitanya sakit.
"Tapi, Pak! nanti kamu sakit__aarghhh!"
Guruh kembali terdengar seram, hingga Naqia terkesiap hebat, di tambah angin kencang membawa kabur payung satu-satunya itu, mereka akhirnya berlari dengan tangan bertaut ke arah homestay yang jauh di depan sana.