
Di rumah, Zaki telah sampai....Matanya tertuju ke arah taman, di mana ada ayunan favorit Naqia.
Zaki duduk di sana, berayun kecil dengan mata itu mendongak ke atas langit cerah, matanya menyipit karena silau sang Surya, perasaannya bimbang.
Zaki memikirkan perkataan Naima, Apa pun yang kamu mau ? otak Zaki sedang menimang nimang tawaran Naima.
"Ah, lihat nanti saja." Gumamnya gusar.
Dia beranjak dari ayunan, masuk ke rumah. Ada Naqia dan Yuga duduk di sofa, kedua orang di hadapannya, berhenti bercakap ria setelah melihat keberadaanya. Yuga juga reflek menutup sebuah dokumen penting di meja itu. Zaki menyerinyit melihat itu, tapi bodo amat, mungkin hanya kerjaan Yuga saja yang berkecimpung di perhukuman.
"Kenapa pada diam, lanjutkan saja percakapan kalian, aku tidak akan menggangu."
Zaki mengambil duduk di dekat Naqia, sangat dekat membuat Yuga cemburu, Apalagi tangan Zaki berangsur merangkul pundak Naqia begitu saja tanpa permisi.
"Ish !"
Naqia menegang di sentuh oleh Zaki, walaupun itu sentuhan biasa, tapi sentuhan itu berhasil membuat dirinya menegang takut, Naqia bukan berdesir nyaman, melainkan tubuh itu berdesir marah, hingga tangan kurang ajar Zaki ia tepis.
"Aku__"
"Mas hanya berniat menepis serangga di situ, jangan berpikir yang tidak tidak." Kelit Zaki segera memotong kemarahan Naqia.
Yuga masih memperhatikan dua orang di hadapannya yang saling beragumen.
"Kamu masih naif, Naqia. Kamu masih mudah di kecoh dan di bodohi hanya karena alasan sederhana." Batin Yuga, entah kedepannya seperti apa jalan hidup Naqia bila mana ia sudah lepas tangan untuk mengawasinya.
Bukan Yuga tidak mau terus melindungi Naqia dalam dua puluh empat jam, tapi dia juga punya kehidupan pribadi yang harus di jalankan seperti Mamanya kini telah sibuk mencari-carikannya jodoh.
Ingin rasanya, Yuga membawa Naqia bertatap muka dengan keluarganya, tapi apa mau di kata...itu tidak benar, Naqia masih status istri orang, ia sadar kalau merebut istri orang bukan lah perlakuan terpuji, istimewa ia adalah seorang pengacara, pasal hukum sudah di luar kepalanya, lebih lebih imege nya sebagai pengacara akan tercoreng di mata orang banyak.
"Maaf, Pak Yuga. Aku permisi !" Naqia sudah tidak nyaman lagi berada di ruangan itu setelah Zaki menyentuh kulitnya. dia pergi keluar rumah, taman dan ayunannya lah sebagai pengobat kesepiannya.
"Apa lihat lihat !" Ketus Zaki, Yuga menggeleng aneh dengan air muka sangat kecut.
"Harusnya kamu tuh sadar Zaki, Naqia sudah trauma di sentuh kulit nya oleh mu, lihat sendiri bukan, Mata Naqia memancarkan kemarahan sekaligus ketakutan, padahal hanya kontak fisik sederhana."
"Bukan urusan kamu, urus saja urusan mu yang lebih berfaedah, dan ingat, tidak baik jadi pebinor." Sinisnya berlalu pergi menyusul Naqia, ia ingin berbicara serius kepada istri nya itu.
"Pebinor ?" Yuga tersenyum kecut, sindiran Zaki begitu tajam menghunus nya, Entahlah...hati itu memang sulit di atur, ada banyak wanita di luar sana mendambanya tapi hanya ada nama Naqia setelah istri nya yang Almarhum.
***
Mata Zaki langsung di suguhi pemandangan teduh Naqia di atas ayunan itu, yang saat ini Naqia mengayun pelan dengan mata tertuju ke langit, Naqia seakan-akan melawan silau di atas sana, beradu tatapan.
Naqia terkesiap, sekonyong-konyongnya ada dorongan kecil dari belakang yang mengayun ayunannya, dan saat menoleh, Zaki lah pelakunya.
"Mau apa lagi ? Jangan menggangguku, dan jangan memancing ku__"
"Mas hanya ingin berbicara serius !"
Zaki semakin memberi tekanan di ayunan itu, saat Naqia masih kecil, Naqia selalu merengek kepadanya agar ayunan ini di dorong kenceng, dan pasti Naqia akan terbahak bahak, tapi sekarang... sudah berbeda, Naqia bahkan saat ini menolak untuk di ayun olehnya.
"Bisakah kamu memberi mas satu kesempatan untuk kita bersama lagi ?"
Naqia mencerca ungkapan Zaki yang saat ini Zaki telah berjongkok di hadapan duduk ayunannya.
Ada Yuga dari kejauhan yang melihat itu. Ia memberikan kesempatan Zaki untuk berbicara serius ke Naqia, ia laki laki gentleman, kesepakatan bersama Zaki untuk merebut hati Naqia harus berlangsung secara sehat, selama Zaki tidak curang, maka itu pun tidak akan curang.