
"Mari sarapan Nyonya!"
Naqia mempersilahkan Hani duduk bersama di table makan, sudah ada tiga porsi nasi goreng spesial tersusun di meja itu.
Hani dan Yuga pun duduk, tersenyum ramah ke Naqia.
"Ini masakan mu?" Tanya Hani. Naqia mengangguk.
"Maaf, hanya masakan sederhana." Ujar Naqia.
Hani memandang masakan di hadapannya, memang sederhana karena hanya nasi goreng dengan telur dan irisan daging pelengkapnya.
"Tidak masalah, tapi kayaknya enak, kesederhana itu kadang yang membuat kita terpesona."
Yuga mendelik malas ke Mamanya, selalu...Mamanya itu hobi banget bermain kata ambigu.
Syukurnya, Naqia selalu tidak banyak protes dan cerewet bertanya ini itu macam Mamanya yang cerewetnya naudzubillah.
Sejurus, garpu dan sendok pun saling beradu, Naqia sudah memakan sarapannya lebih awal, di susul Hani dan Yuga, kedua orang yang ada di hadapan Naqia saling lirik setelah satu suap telah terkunyah.
Enak! Gumam mereka dalam hati dengan mata isyarat mengakui, Hani semakin lahap memakan suguhan wanita pilihan anaknya.
Naqia yang melihat cara makan Hani seperti kelaparan, melerai takzim. "Nyonya, hati-hati nanti tersedak, tidak akan ada kok yang mau merebutnya." polos Naqia berucap.
Pfufufu.. Yuga menahan tawanya, tidak secara langsung Naqia ini mencubit ginjal Mama cerewetnya.
"Aku takut Yuga merebut makanan ku," Sahut Hani santai, Naqia tersenyum tipis, Mama pak Yuga ternyata lucu, batinnya mengakui.
"Masakan mu, enak!" pujinya manis.
"Sangat enak!" Pujian Yuga pun terdengar dengan jempol dua ke arah Naqia.
Naqia terdiam, bukan tidak senang mendapat pujian, melainkan sebaliknya, akhirnya ada juga orang yang menyukai makanannya, dulu Zaki selalu menghina masakannya sebagai sampah.
"Terimakasih pujiannya, Nyonya, Pak Yuga!"
"Eum, bukan pujian angin kosong, melainkan tulus, dan kamu jangan panggil aku Nyonya, panggil saja camer__eh, Mama!" Ralat Hani cepat, ia dapat tendangan kecil di bawah sana ulah kaki kurang ajar anaknya.
"Anak laknat, apa kamu mau kaki itu aku masukin ke perut Mama lagi." Dumel Hani terang-terangan. Yuga membisu, padahal sebenarnya ingin membungkam mulut cerewet itu, ia tidak enak hati kepada Naqia. walaupun Naqia hanya datar-datar saja.
"Naqia, panggil Mama, Oke!" Pinta Hani lagi, membeo.
Naqia menatap Yuga terlebih dahulu, ia tidak bersuara, menolak atau menerima.
"Ma__" Yuga terjeda, mau protes.
"Eh, kamu nggak kerja, sana cepat, ini sudah siang lho, jangan sampai kamu nganggur dan berakhir jadi gembel, gagal menikah deh!" usir Hani buru-buru dengan tangan itu mendorong pelan lengan Yuga agar segera berdiri, ia tidak mau di ganggu bersama Naqia yang sebenarnya ingin berbicara serius.
Yuga tak bergeming, ia tidak mau pergi sebelum Mamanya hengkang dari rumahnya, bukan apa-apa, ia hanya tidak mau Mama cerewetnya menyinggung hati Naqia yang masih dalam tahap berdamai dengan kata penyembuhan.
"Tadi katanya buru-buru, Pak." Naqia menyela.
"Tidak jadi!" jawab Yuga pura-pura sibuk dengan makanannya. Naqia kembali diam.
"Oh ya, Naqia! aku sudah mendengar kisah mu di mulut anak ku, bagaimana kalau kamu menikah saja sama Yuga, satu duda tampan dan satunya lagi janda cantik, klop nggak tuh." Alis Hani yang cetar tercetak naik turun menggoda kedua anak dewasa di hadapannya.
Uhuk..
Naqia dan Yuga kompak tersedak, kompak pula menarik air putih masing-masing untuk di teguknya.
"Tuh kan, batuk dan minum pun secara kompak, Qia..anak Mama baik lho kamu pasti bahagia." desak Hani memuji anak sendiri, biar Naqia mau batinnya, biar cepat punya cucu.
Durhaka nggak sih kalau menghardik Mama sendiri, Yuga kok gemas ya sama bibir lemes Mamanya. Yuga jadi cemas sendiri dengan jawaban Naqia yang sudah membuka bibirnya untuk menjawab.
"Anda sangat lucu dan penuh kehangatan, Nyo_Mama," Naqia terasah canggung untuk menyapa Hani sebagai Mama, tapi demi menghargai, ia pun memaksakan itu, " Pak Yuga memang baik, jadi harus mendapatkan pendamping yang baik nan sempurna pun." Sahut Naqia santai dengan senyum ramahnya, ia menganggap ucapan Hani hanya candaan semata.
"Aku serius lho."
Perasaan Naqia mulai was-was, tatapan mata Hani dan Yuga seakan-akan mengintimidasinya, itu menurut Naqia, padahal tatapan maksud dua orang itu adalah tatapan harap persetujuan Naqia.
"Sebelumnya maaf, aku akan bercerita tentang kisah ku, dan seperti Nyo_ah, Mama ketahui dari cerita Pak Yuga, Kalau aku sudah tidak percaya yang namanya pernikahan, laki-laki ataupun semacamnya." Naqia berbicara dengan nada sopan agar tidak menyinggung perasaan kedua orang di hadapannya, apalagi perasaan seorang Ibu.
Yuga dan Hani masih menunggu untaian kata Naqia yang terdengar sedih, Hani juga menangkap pelupuk mata Naqia sudah mau menganak, Naqia yang malang, gumam Hani iba, tapi tidak menampilkan mimik ibanya.
"Papaku dulu sangat menyayangi mantan suami ku, kami tidak di beda-bedakan, Mas Zaki di sekolahkan setinggi mungkin, Mas Zaki telah di percayai oleh Papa, termasuk Pak Yuga pun yang menjadi kepercayaannya, Pak Yuga memang orang baik."
Hani dan Yuga belum mengerti inti pembicaraan Naqia.
"Pak Yuga memang orang baik." Naqia mengulang kembali, "Mas Zaki juga orang baik, tapi dulu sebelum kami di nikahkan, dan sebelum orang tuaku meninggal dunia__"
"Jadi maksud mu?" potong Yuga penasaran.
"Maksudku, Pak Yuga memang orang sangat baik saat ini, tapi aku takut pak Yuga akan berubah jahat seperti Mas Zaki saat setelah kita menikah."
Ok, Hani dan Yuga sudah paham penjelasan berbelit-belit Naqia, intinya Naqia menilai semua orang seperti Zaki.
Hani diam sejenak, ingin menepis ucapan Naqia, tapi Yuga terlebih dahulu tertawa kecil.
" Naqia, semua orang tidak sama seperti Zaki, aku bukan tipe biadab seperti mantan suami jahat mu itu."
Naqia sedikit tersinggung dengan tawa Yuga, ia tidak lagi dalam bercanda, pokoknya hatinya itu sudah mati.
"Menikahlah denganku! Aku mencintaimu, tulus!"
Deg...