Stupid Wife

Stupid Wife
Suami Ku Tidaklah Bejat!



Hirup pikuk Ibu kota Pertiwi tidak setentram desa, jalan raya begitu ramai, mobil Yugi terpaksa singgah di sebuah cafe hanya demi menghindari kemacetan di jalan raya sana, Ada Naqia bersamanya sehabis cek up kesuburan di rumah sakit.


Tadinya....Hani juga bersama mereka, namun setelah dari dokter, Hani berubah haluan, Punya urusan lain katanya. Yuga...jelas lagi berdebat di meja hijau.


"Kita ngadem dulu ya, Kak!" Ajak Yugi ke Cafe di hadapannya.


"Ide bagus, kakak juga haus!" Sambut Naqia tersenyum simpul. Hanya beberapa hari, kedekatan mereka seperti adik-kakak kandung, mungkin karena Naqia perhatian juga tidak neko-neko.


Ke-duanya pun masuk ke dalam Cafe. Yugi memesan cemilan dan air berwarna untuk mereka berdua.


"Aduuhh, Kak... kebelet, tunggu ya..Aku ke toilet dulu!" Kedua paha Yugi, ia apit.


Naqia mengangguk seraya tersenyum geli, " Jangan lama ya!" Pintanya, adik iparnya ini sangat lucu baginya.


Kepergian Yugi, Naqia hanya duduk diam dengan mata itu tertuju ke luar jendela, di mana parkiran terlihat.


"Hai Naqia, kita jumpa lagi!"


Naqia terkesiap akan suara itu, wanita itu juga main duduk di table Yugi yang belum datang dari toilet.


"Hai juga, Nona Naima!" Naqia tersenyum ramah, bagaimana pun, ia punya hati baik juga punya ettitude baik pun, walaupun ia tahu kalau Naima kurang baik kepadanya.


Ya...dia Naima, ia tidak sengaja melihat Naqia ada di rumah sakit, dan berujung mengikuti Naqia sampai di cafe ini, istimewa Naqia hanya seorang diri tanpa di temani keluarganya. Itu tandanya ia akan bebas merecoki perasaan Naqia tanpa ada yang membantu wanita bodoh itu.


"Kamu memang menang dari ku karena sudah menjadi nyonya Pratama, tapi aku lebih unggul darimu?" Naima menyeringai.


"Aku tidak mengerti maksudmu?" Bingung Naqia.


"Ah, iya ! aku lupa, kamu kan otaknya cuma sedikit, jadi kata-kata berbelit sedikit saja kamu tidak akan langsung konek, anehnya...Yuga dan keluarganya mau menerima orang bodoh seperti mu." Hina Naima.


Naqia masih sabar, bahkan wajahnya itu tidak ngefek, tidak terpancing.


Salah satu hal yang Naqia pelajari dari kelas kepribadiannya adalah Tidak selamanya hinaan di balas dengan sikap bar-bar bin ngamuk di tengah keramaian, auto siapa yang malu, jelas diri kita sendiri....satu, pasti jelas malu karena jadi tontonan khalayak umum, bisa-bisa di viral kan pula, Naqia tidak mau itu.


Dan kedua... Naqia juga mempelajari sedikit ilmu hukum dari Yuga, kalau menyerang orang lebih dulu walaupun seujung kuku saja, dan orang itu tidak terima, maka nanti akan mendapat pasal pidana tersendiri, sekalipun... awal pemicunya itu adalah orang jahat itu sendiri, tetap saja yang menjadi tersangka adalah orang yang memukul duluan.


Jadi, Naqia akan berhati-hati sebisa mungkin untuk membeli semua lisan belati Naima yang memang wanita di hadapannya itu tidak menyukainya, pretty tactics is the solution.


"Unggul? tandanya aku hamil anak Yuga!" Bibir Naima tersungging licik, Naqia pasti akan percaya dengan mudah, secara... Naqia kan stupid.


Naqia terkejut, namun di tahannya dalam hati, ada perasaan sakit di dalam sana, bukan karena mempercayai Naima yang entah benar atau salah pengakuan itu, Hanya saja...Ia adalah seorang istri, wanita atau istri manapun yang mendengar pengakuan seorang wanita lain hamil oleh suami kita sendiri, maka langit rasa rasanya runtuh menimpah tubuh itu, Hati Naqia menjerit pilu, rasanya sakit tidak berdarah di dalam sana.


"Kenapa diam saja? aku hamil anak Yuga! Dengar 'kan Naqia?" Tekan Naima, penghuni cafe yang mendengar itu menatap Naima dan Naqia yang sudah seperti tontonan gratis, itu karena Naima mempertoa suaranya, playing victim atau di sebut seolah-olah Naima itu korban di sini.


Naqia masih diam, mencoba mengatur perasaannya yang jujur.... Hati nya sangat kacau di dalam sana.


"Aku ingin meminta pertanggungjawaban suami mu!" Pintanya tidak tahu diri. ", Lepaskan Yuga untuk ku, demi bayi yang aku kandung, aku ingin Yuga menjadi milik ku seorang, tanpa adanya hama seperti kamu."


Praaang...


Kesabaran ada batasnya, andai Naqia tidak mengingat ada hukum di negaranya, mulut Naima pengin di robeknya, Sebagai tanda melepaskan kekesalannya, Naqia meremas viljestrak di meja itu, tanpa terasa.. tangan Naqia sudah berdarah akan pecahan kaca tipis itu.


Pelayan cafe yang melihat kejadian itu, menyayangkan aksesoris Cafenya, ingin menegur tapi tidak berani ikut campur.


Naima ngeri sendiri melihat darah tangan Naqia, anehnya...Naqia malah tersungging lebar menatapnya, seringai Naqia sangat dingin kepadanya, tidak menyangka kalau Naqia bisa mengintimidasinya hanya lewat air muka saja.


"Apa maksudmu, ini jorok sekali." Perut Naima serasa mual, si stupid itu mengotori tangan putihnya dengan darah segar.


"Jelas ini darah, Kotor tentu saja jorok! Seperti wanita murahan itu pun kotor..." Deg..Naima memanas, wanita murahan yang di ucapkan Naqia, tertuju sengit ke wajahnya, " Wanita kotor itu adalah wanita yang memasang tubuhnya ke suami orang, ah... lebih tepatnya ke laki-laki manapun, dan tanpa di suguhi paha, laki laki tidak akan terpancing, tapi... Nona Naima, asal anda tahu, walaupun Yuga kamu suguhi paha mu, aku yakin.... suami ku itu tidak menyukai yang gratis, AKU TIDAK MEMPERCAYAI KEBOHONGAN MU, SUAMI KU TIDAKLAH BEJAT!!!"


Sekali bersuara, kalimat itu semua sangat menusuk hati Naima.


Naqia menekan di akhir untaian tegasnya, nadanya memang rendah, bahkan sangat rendah... tapi itu berhasil membuat Naima sadar kalau Naqia tidak mudah untuk di buat kacau.


"Jaga bicaramu, Naqia!" Telunjuk Naima menghardik wajah Naqia yang duduk santai menyender di kursi.


"Aku bukan wanita murahan yang kamu tuduhkan, dasar Stupid." Sinis Naima, meja ia geprak, membuat pelanggan cafe semakin antusias menonton.


Naqia sendiri sudah malu menjadi tontonan, tapi Naima ini seakan-akan ingin menabuh genderang perang kepadanya.


"To the point aja, so...kamu ingin suami ku kan?" Ambigu Naqia, menyeringai dalam hati.


Naima mengangguk tidak tahu malu, penonton sudah menilai sendiri kemurahan Naima hanya dengan anggukan reflek itu yang terkesan sangat menggebu-gebu mau merebut suami orang, bahkan ada di antara pengunjung memvideokan dua wanita cantik saling berseteru argumen itu.


"Itu sudah tandanya wanita murahan." Terang Naqia.


"NAQIA!"


Plakkk...


Kemurkaan Naima yang ingin menampar pipi Naqia. Nyatanya... tidak sampai, Yugi si gadis bar-bar itu tiba dengan tepat waktu menahan tangan kurang ajar Naima.


"Berani sekali kamu ingin menyakiti pipi kakak ipar ku, nyawamu ada berapa Nona Naima?" tandas Yugi, memiting tangan Naima.


"Awww, Yugi Tomboy, lepas, ish." Ringis Naima mengadu kesakitan.


Naqia membuang nafasnya secara kasar, adik iparnya bisa saka di tuntut oleh Naima, dengan itu, Naqia melerai Yugi agar tenang.


"Tapi kak__"


"Nurut Yugi, ada anak Bang Yuga katanya di perut Nona Naima, katanya!!!" Naqia menekan katanya, sebagai tanda ragunya.


Yugi menurut paksa, terhenyak dengan pengakuan Naqia, Yugi tidak percaya kalau kakak Mr.Stiff nya itu berbuat di luar nalar.


"Bukan katanya lagi, tapi very real." Kekeh Naima tersenyum jumawa, Naqia akan hancur dengan kebohongan besarnya, pikirnya menang.


"Baiklah, Nanti aku akan merelakan suami ku, tapi setelah DNA, dan aku juga ingin mendengar pengakuan suami ku, biar adil, so... kalau kamu ketahuan berbohong, siap-siap berhadapan di meja pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik, aku yakin kamu sudah tahu kekejaman Yuga di meja hijau untuk membela kebenaran, apalagi ini menyangkut nama baiknya sendiri."


Naqia beranjak pergi, ia merasa berurusan dengan Naima di tempat umum ini sangat tidak ada faedahnya, yang ada membuat malu sendiri karena aibbb terbeberkan.


"Naqia__Ah sial!" Naima jadi takut sendiri, ia melupakan keberingasan Yuga tentang hukum, alamak...ia tidak mau masuk penjara karena di tuntut atas pencemaran nama baik.


"Bodoh kamu Naima." Hardiknya kesal di meja itu, kaki ia hentak-hentakkan di bawah sana karena menyadari kebodohannya.


"Maaf Bu, anda harus memberi uang ganti rugi atas kerusakan viljestrak cafe." Satu waiters cafe menagih Naima, padahal yang merusak itu adalah Naqia.


"Aaargh, semua orang monster bagi ku." Naima berteriak, ia kesal, marah pokoknya emosinya naik ke ubun-ubun, Uang ganti rugi ia lempar begitu saja dan beranjak begitu saja dengan wajah ia tebalkan seperti tembok.


Dasar Naqia sialan, aku kira kamu itu lemah, nyatanya batu karang, damt it..