Stupid Wife

Stupid Wife
Tukang kebun



Happy reading....


Tiga hari berlalu. Di rumah Naqia...Zaki tidak lagi mendapat ketenangan, baik itu dari Mayang apalagi dari Naqia yang setiap hari pulang pergi bersama Yuga, Zaki tidak tahu jelas mereka ke mana dan ngapain di luaran sana.


Hari kemarin, hari terakhir Zaki dapat SP, Hari ini akan mulai bekerja lagi. Kerja lebih baik saat ini dari pada harus di rumah terus membuat kepala nya pusing saja dari kelakuan Naqia yang semakin menjadi-jadi, Pembangkang !


Semenjak insiden di ranjang, Mayang juga menampakan sisi asli nya, Mayang menjadi dingin dan selalu minta uang, uang dan uang, Auto Zaki semakin prustasi.


Selamat pagi pak Zaki !


Biasanya, Salam itu selalu terdengar dari para karyawan nya, baik itu di lobby maupun di sela langkah masuk ke ruangan kerjanya, Tapi...Saat ini berbeda, Tidak ada yang menyapa barang satu pun karyawan nya, membuat Zaki jadi berpikir ada apa ini ?


Deg...


Jantung Zaki seakan ingin berhenti berdetak, tag name di pintu masuk kerja nya berganti nama, Bukan Zaki Mahase lagi melainkan nama orang lain.


" Tania ! Bisa kamu jelaskan ke saya ?" Gelegar Zaki ke sekretaris nya, tangan itu menarik nama sialan yang tergantung di pintu.


" Maaf pak Zaki, lebih baik anda langsung menghadap ke Pak Agung, Beliau ada di ruangan nya sejak tadi pagi sekali, Anda sudah di tunggu."


Wajah Zaki mendadak pias, Pak direk utama ada di tempat ? Gumam nya, Hati nya mengatakan ada masalah sebentar lagi.


" Jangan jangan beliau tahu aku pernah korupsi ? Mampus kamu Zaki !"


Tangan Zaki tetiba berkeringat dingin, Padahal hanya sekedar mengetuk pintu, tapi sangat berat untuk di gerakkan.


" Silahkan masuk, Pak Zaki. Pak Agung sudah menunggu anda sedari tadi."


Zaki terloncat, dari belakang ada suara wanita yang mengagetkannya, dia adalah sekretaris bos utama nya.


" Mari !"


Sejurus, Pintu terbuka oleh tangan lentik wanita di hadapannya, Zaki masuk sendiri tanpa di ikuti oleh sekretaris tadi, dia hanya membukakan pintu.


" Selamat pagi, Pak Agung "


" Pagi, Silahkan duduk, Pak Zaki !"


Semoga bukan masalah korupsi ku.


Zaki merapal kan itu terus dalam hati nya seraya duduk setenang mungkin, padahal jujur...Kaki Zaki sudah gemetar sendiri.


Deg...


Jantung Zaki semakin bekerja dua kali debaran, Bosnya menaruh laporan keuangan di hadapannya.


" Bisa di jelaskan, Pak Zaki ? Kenapa laporan keuangan ada dua dengan hasil berbeda ? Jelas salah satu nya di sini ada yang salah !"


Bibir Zaki bergetar, lidah nya sangat kelu, Padahal bos nya masih tenang bak air di wadah, Santai berbicara. Zaki tidak bisa menjawab.


" Ok, sudah jelas dengan kebungkaman anda. Saya mau uang yang anda ambil dari perusahaan saya segera di kembalikan, dua puluh empat jam dari sekarang, kalau tidak hukum lah yang berlaku, ketuk meja hijau akan terdengar ."


" Pak__"


" Ah, jika anda sudah membereskan ini, anda bisa memasukkan lamaran kembali walaupun memulai dari start lagi."


" Ap__apa_ Maksud nya ini, Pak ?" Zaki terbata-bata.


" Anda di berhentikan Pak." Pak Agung tersenyum miring.


Sedangkan Zaki, Kepalanya bagaikan di sambar petir, Kaki nya seakan tak bertulang, Zaki mencoba mempertahankan kesadaran diri nya dengan susah payah. Namun pada akhirnya, kesadaran itu hilang juga, Zaki tidak kuat menerima kenyataan... Sudah di pecat, kini harus juga mengembalikan uang yang entah dari mana untuk mendapatkan nya.


" Nasib ku, Bad sekali !" Zaki masih sempat bergumam pilu di dalam pingsan nya itu.


...*****...


Setelah sadar, Zaki buru buru pulang untuk menemui Mayang, ia ingin meminta uang hasil korupsinya itu kembali, Sedikit tak apa yang penting masih ada.


" Mayang !" Gelegar Zaki dari lantai bawah.


Naqia dan Bi Narsi yang sedang bercakap cakap santai, ikut terkejut. Kedua nya keluar dari dapur.


" Mayang !" Ulang Zaki.


" Apa sih, Mas ! Berisik tahu nggak." Ketus Mayang dengan wajah malas nya, Langkah itu pun keluar dari kamar dengan pakaian rapi nya, siap pergi. Kehamilan Mayang belum nampak membuncit. Setelah sentuhan kasar tiga hari kemarin dari Zaki yang Mayang dapat, sisi buruk Mayang telah di perlihatkan secara terang-terangan di depan mata Zaki. Pergi dan pulang tidak tahu aturan.


" Kamu mau kemana ?"


" Hang out lah, dari pada di sini, gerah !" Tangan Mayang mengibas ke leher nya saat kata gerah terucap.


" Non, apa butuh camilan untuk menonton pertunjukan ?" Tawar Bi Narsi jenaka.


" Jangan ke mana-mana, Bi ! Jangan berkedip juga, sayang di lewat kan, Scene ini lah yang di tunggu-tunggu !" Balas Naqia tatkala jenakanya.


" Baik, Non !" Bi Narsi tersenyum lucu. Jangan berkedip !


Kedua wanita beda umur ini seakan-akan menonton Drakor ala ala ikan terbang yang selalu bertengkar.


Di mata Naqia, Zaki saat ini benar-benar puncak kemarahan, Tangan kokoh itu sudah mencengkram erat pergelangan tangan Mayang yang hendak pergi begitu saja.


Naqia melalang buana. "Dulu aku yang selalu di siksa !" Ucap nya lirih. Bi Narsis mendengar itu, Tersenyum iba.


"Manusia tidak akan selalu di 'remain' situ saja, Non. Percayalah.... setiap manusia pasti menerima keburukan dan kebahagiaan nya sendiri yang sudah di atur oleh sang pencipta."


Naqia memiringkan kepalanya ke Bi Narsi saat ucapan bermakna itu terdengar. Naqia mengangguk seraya tersenyum tipis.


" Mana sisa uang yang sudah ku berikan kemarin." Zaki merampas tas Mayang.


Dari berdirinya, Naqia memasang telinga nya. uang lagi yang di permasalahkan. Batin nya.


" Apa sih, Mas !" Mayang mendorong dada Zaki dan merebut kembali tasnya. " Uang nya sudah habis."


Plakkk..


Naqia dan Bi Narsi meringis, padahal yang di cap jari lima adalah pipi Mayang.


" Kamu jahat !" Hardik Mayang menunjuk Zaki.


" Jahat kamu bilang, apa kamu tahu...aku di pecat dari kantor, Aku ketahuan korupsi, dan aku korupsi gara gara kamu yang selalu menekan ku, selalu uang uang dan uang nya di otak kamu !" Telunjuk Zaki tak kalah kasar nya menoyor jidat Mayang yang sudah menangis.


" Aku di ancam di penjara tahu nggak ?" Zaki prustasi, ingin kembali menampar Mayang tapi tidak tega karena mengingat janin nya ada di dalam perut Mayang.


" Hiks, Kamu tega nyakitin aku terus." Mayang berlari kecil ke luar rumah dengan isakan nya. Zaki membiarkan itu, ia di landa kebingungan dengan masalah bertubi tubi menerpa nya.


" Aku siap membantu mu, Mas. Tapi ada syaratnya !" Naqia mendekati Zaki yang duduk gusar di kursi. Senyum khasnya mengembang, Kesempatan bagus Naqia untuk mengingat kan Zaki, Siapa diri itu sebelum jadi suami nya, siapa diri itu sebelum di sekolah kan oleh orang tuanya.


" Apa ?" Suara Zaki benar benar gusar nan lemah. Ancaman sel polisi telah terbayang di otaknya yang terasa mau pecah itu.


" Jadilah tukang kebun ku, lagi !" Naqia menekan lagi. Jelas menyindir Zaki.


" Naqia__"


" Tidak mau tak masalah !" Potong Naqia cepat, Suami nya itu mau protes dengan wajah tidak terima nya. " Selamat merasakan hukum bui." Naqia menakuti, Bibir itu sekarang bersiul siul santai dengan langkah pelan menuju ke dapur lagi, Bi Narsi nya lagi masakin kue di dalam sana. Harum kue yang di oven tercium khas.


" Mas mau !"


Senyum Naqia mengembang, Tidak apa suara Zaki terdengar ketus tidak terima, Yang penting ia sudah menginjak harga diri Zaki lagi. Katakanlah Naqia istri durhaka... Tapi bila mana kalian lah yang di posisi Naqia, apa yang kalian perbuat ? Menunggu hukum karma untuk suami nya ? Sangat lama ! Kesabaran hati baik nya sudah di take off oleh Zaki sendiri. Jadi salah siapa ? Jelas suami nya !


" Aku mau makan kue dulu, Nanti kita bicara lagi tentang jumlah uang yang mas butuh kan." Naqia berucap seraya berlalu tanpa menoleh ke Zaki.


Zaki hanya memandang nanar punggung Naqia yang tertutup surai indah itu. Pikirannya melalang buana ke belakang, di mana ia pertama kali bertemu dengan seorang bapak bapak dermawan yang menawarkan makan di saat ia benar-benar kelaparan. Pak Nugraha.


" Kamu kenapa Nak ?"


" Laper, Pak ! perut ku sakit !" Anak remaja lima belas tahun itu bersuara di atas bahu jalan dengan tumpukan koran di tangan, belum terjual satu pun.


" Siapa nama mu ?"


" Zaki Mahesa !"


" Nama yang bermakna ! Ayo, Ikut bapak, kita akan makan di tempat itu." Pria dermawan itu menunjuk restoran mewah. Zaki remaja di buat...mau mau canggung.


" apa kamu sekolah ?"


" Iya pak, tapi terhenti karena biaya ! jual koran tidak laku laku." Zaki bercerita seraya menunggu makanan nya yang sudah di pesan oleh bapak baik hati di hadapan nya.


" Datang lah ke rumah bapak ! Bekerja tetap di sana, tapi maaf...hanya sebatas berkebun taman saja, Anak perempuan ku menyukai taman penuh bunga bunga. Mau ?"


" Mau, pak ! Sangat mau."


Zaki mengusap wajahnya kasar, Mata nya memanas di kala mengingat awal masuk nya ke rumah ini. Ya....ia dulu hanya seorang pekerja kebun taman khusus untuk Putri kecil idiot- Naqia.


Lambat laun, Ia di sekolah kan oleh pak Nugraha hingga kuliah sampai lulus S2. Masuk ke Sekolah Menengah Atas, Ia sudah tidak menjadi tukan kebun karena kesibukan di sekolah nya, melainkan di sini dulu ia sebagai anak angkat tanpa di beda bedakan kasih sayang yang di dapatkan nya dengan Naqia, Sama !


" Apakah ini namanya hukum karma ?" Zaki memijit pelipisnya, pusing.