
Mobil Yuga berhenti di pelataran perusahaan Nugraha di masih jam pagi, bahkan karyawan pun belum datang, hanya petugas kebersihan yang satu dua terlihat.
" Turun lah !" Titah nya yang sudah membukakan pintu untuk Naqia.
Naqia tidak bergeming, Bukan tidak mau turun, melainkan seat belt nya susah untuk di lepas nya.
Yuga yang melihat itu, berinisiatif
untuk membantu, Yuga berjongkok dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
Boomerang untuk nya, Jantung Yuga seperti ingin lari dari tempat nya di saat telinga nya di terpa nafas Naqia yang sisi wajah kanan nya ini begitu dekat oleh wajah Naqia, Air muka wanita ini sih hanya datar datar saja.
" Terimakasih !" Seru Naqia seraya turun dari mobil.
" Tapi kita mau ngapain ke sini pagi-pagi, Pak Yuga ?"
" Mau sarapan apa ?" Yuga balik bertanya, masih mengatur jantung nya yang berdesir hangat, seraya menawarkan Naqia sarapan, ia tahu Naqia pasti belum sarapan karena Yuga mendengar perut Naqia keroncongan.
" Tidak, aku hanya ingin minum teh saja." Tolak nya, sejurus kaki itu melangkah duluan masuk ke arah office, di mana satu lingkup dengan pabrik yang mengelola kelapa sawit menjadi minyak.
Sampai di dalam ruangan, Yuga sendiri lah yang membuat kan teh untuk Naqia.
" Lima hari lagi pembacaan surat wasiat." Jelas Yuga seraya menaruh teh hangat untuk Naqia yang duduk di sofa.
Naqia mendongak dengan alis mengkerut. Nafas ia buang secara cepat.
" Aku belum siap untuk memimpin pabrik ini, Pak Yuga. Sudah kubilang berkali-kali kalau perusahaan akan maju di tangan orang pintar, bukan orang bodoh seperti aku."
Naqia berdiri dari sofa, bertepatan dengan Yuga yang duduk di sofa, Ia berjalan mondar-mandir sesekali menggigit ujung kuku nya sendiri. Mungkin orang luar yang melihat tingkah Naqia seperti itu akan mengatakan wanita aneh, Tapi bagi Yuga, kegugupan Naqia sangat lucu di mata nya.
" Tenang lah Naqia, duduk dan rileks, minum teh mu dulu."
Naqia menurut, duduk di sisi Yuga membuat jarak itu hanya dua jengkal saja, Bahkan bahu ke bahu hampir bersentuhan. Naqia sih biasa biasa saja, Tapi Yuga yang luar biasa tegang sendiri, ini hanya baju lho yang ingin bersentuhan, Bagaimana kalau kulit ? Mungkin rambut Yuga akan berdiri tegak akibat tersetrum.
" Tapi Naqia, cepat atau lambat, pewaris perusahaan yakni kamu harus muncul memperkenalkan diri."
Bagi Naqia itu kabar buruk, bagaimana tidak, pikiran nya itu belum lah sepintar yang di duga oleh Yuga. Ia masih bodoh dalam banyak hal.
" Pak Yuga aja ya, please !" Bujuk Naqia dengan cara tangan nya ia satukan di hadapan wajah Yuga untuk memohon. Yuga menatap tangan itu, ingin menurunkan agar Naqia tidak memohon, Tapi Naqia keburu menurun kan tangan nya sendiri. Tidak jadi sentuhan deh !
"Naq__"
Yuga tertahan, melihat kepala Naqia menggeleng cepat tanda tidak mau mendengar bujukan Yuga.
Sebenarnya, Yuga sengaja ingin cepat cepat Naqia keluar dari persembunyiannya sebagai ahli waris, itu karena Yuga ingin membuat Naqia sibuk bekerja dan perlahan melupakan dendam nya yang mungkin berakibat tidak baik untuk hidup Naqia kelak. Menyudahi dendam tak berujung hal awal baik bukan bagi orang yang berpikir melalang jauh ke depan.
Beda dengan Naqia, Selain tidak sanggup dengan tanggung jawab besar di perusahaan ini, Naqia tidak bisa mengenyahkan hardikan demi hardikan Zaki....Wanita bodoh, Pembawa sial, Wanita buruk seperti kamu hanya akan membawa sial di mana pun kamu akan berdiri.
Naqia tidak mau perusahaan Papa nya hancur, ia tidak mau mengambil resiko, Bagaimana jadinya bila betul semua hardikan Zaki itu, berlaku ?
Sudah terbukti, Orang tua nya meninggal karena kecelakaan, Janin nya pun meninggalkan nya begitu dini.
Apa coba nama nya itu semua ? Mungkin jelas ia memang pembawa sial karena semua orang yang di inginkan untuk tinggal di sisi nya malah sebaliknya pergi. Naqia tidak mau perusahaan nya pun ikut raup melayang tak tersisa bila mana ia yang bertuan di sini.
" Baiklah, aku akan memberikan mu waktu lagi, tapi memberi ya, bukan membebaskan." Tandas Yuga mengalah. Naqia tersenyum ceria.
" Anda memang terbaik."
Yuga tersenyum sumir, Dengan tingkah Naqia yang cepat berubah, tadi tertunduk lesu di beri tanggung jawab, sejurus sekarang bertingkah jenaka menggoda puji terbaik dengan dua jempol Naqia di goyangkan ke hadapan nya.
Jujur, baru kali ini Yuga susah menebak kepribadian orang, Biasanya ia sangat jeli, tapi khusus Naqia, Yuga kadang di buat bingung.
" Jadi, kita pagi pagi ke sini hanya membahas ini ?" Heran Naqia.
" Tentu tidak, aku membawa mu ke sini karena mau mengajak mu terjun langsung ke inti pabrik."
Selain itu, aku juga terus terbayang diri mu dari semalaman penuh tidak bisa tidur. Lanjut Yuga dalam hati. tapi air muka tetap lurus seperti jalan datar.
Wajah tak semangat Naqia kembali On lagi.
" Bagaimana kalau kita joging saja ?" Naqia merayu, ia tidak mood untuk hal pekerjaan.
" Joging ? Dengan itu ?" Yuga menunjuk style Naqia, Sangat tidak cocok untuk di pakai joging, Melainkan cocok untuk ngemall atau ngantor. Rok span hitam selutut dengan baju modis di lapis blazer channe* di luar nya, Sangat cocok untuk Naqia kenakan. Yuga senang, baju pilihan nya sangat pas membalut tubuh tinggi ramping itu.
" Ini pun jadi lho begini__"
" Stop !"
Naqia tersenyum jahil, ia hanya membohongi Yuga dengan cara seakan-akan mau mengangkat rok nya, sepaha.
" Hehehe, becanda pak Yuga. Senyum dong, Jangan begini terus !"
Naqia berani menggoda Yuga saat berkata begini terus dengan cara membuat air muka nya datar datar kaku, meniru perangai dingin itu.
" Ish, kamu !" Sentil Yuga di kening Naqia dengan wajah di buat sedatar mungkin, padahal dalam hati nya ingin tersenyum. Biarkan...Kalau Naqia meledek perangai kaku nya, Yuga akan lebih menonjolkan nya demi mencari perhatian godaan Naqia.
" Ayo, kita ke pabrik. Di sana masih sepi bahkan masih tutup, jadi kamu akan nyaman untuk melihat segala sesuatunya di dalam sana." Yuga berbalik, menghadap pintu. Sejurus ia tersenyum. Di belakang sana ia tahu Naqia lagi menggerutu, Tidak mempan. Katanya.
Di sisi Zaki, Suami egois nan arogan Naqia itu dalam rangka merencanakan sesuatu untuk Naqia terima, ia tidak suka melihat Naqia bersama Yuga terus, ia rindu dengan tubuh itu. Rencana nya malam ini harus berhasil, Naqia harus kembali lagi ke dalam pelukannya.
" Kamu harus di beri pelajaran, Naqia ! Malam ini kamu sendiri yang akan datang ke kamar ku !" Seringai jahat Zaki terlukis sinis.