Stupid Wife

Stupid Wife
Kemurkaan Yuga



Lima kali dobrakan, Pintu itu akhirnya terbuka juga, membuat Zaki menghentikan aktivitasnya yang hampir melepas pakaian bawah Naqia yang tidak berdaya.


Mata Zaki membulat marah ke Yuga, "PENGGANGGU !"


"ZAKI BIADAB !"


"ASTAGHFIRULLAH !"


Zaki, Yuga, dan Bi Narsi saling mengeluarkan suara terpekiknya, Zaki meneriaki Yuga, begitu pun sebaliknya dari Yuga di ambang pintu itu yang langsung memalingkan wajahnya sejenak, ia tidak mau kurang ajar, mengambil kesempatan dalam kesempitan akan tubuh Naqia yang setengah polos, wajah Yuga sudah mengeras menahan amarahnya, tangannya sudah mengepal kuat-kuat.


Bi Narsi ? Art itu terpekik melihat kemalangan Naqia yang di ikat seperti binatang dalam keadaan tubuh setengah naked.


Cepat-cepat Bi Narsi ke arah Naqia, memasang selimut untuk menutupi badan naked itu, juga segera melepaskan sumpelan mulut dan tangan Naqia dari ikatan, Bi Narsi langsung memeluk erat tubuh Naqia yang nampak kosong, ketakutan linglung dengan racauan... Jangan sentuh, Jangan sentuh. Itu teruslah yang di lirihkan Naqia dalam ketakutannya.


"KALIAN KURANG AJAR, PENGGA___"


Bugh...


Bugh..


Bugh...


Makian keras Zaki ke Yuga dan Bi Narsi, tertahan kemurkaan Yuga yang sudah tidak tertahankan lagi, kakinya itu menendang pipi kiri Zaki begitu kerasnya hingga wajah itu berpaling ke kanan, mulut langsung mengeluarkan darah, malam ini tidak ada kata ampun untuk Zaki lagi darinya.


"Dasar banci !"


Bugh..


Pukulan demi pukulan Yuga membabi buta ke tubuh Zaki yang terlihat payah sempoyongan karena memang dasarnya Zaki sebenarnya dalam keadaaan mabuk.


Zaki tidak bisa membalas satu pukulan pun ke tubuh Yuga, bibir serta hidung itu sudah berdarah-darah juga akan kemurkaan Yuga.


Naqia masih ketakutan di dalam pelukan Bi Naris di atas kasur, mereka berdua tidak ada yang mau melerai perkelahian antar Yuga dan Zaki.


"Yuga, kamu tidak akan bisa mendapatkan hati Naqia." Racau ledek Zaki, ia memang gila, sudah hampir terkepar tapi masih mempunyai nyali olok ke singa yang lagi murka.


Kreek..


Nyatanya, bukan mulutlah yang di serang Yuga Melainkan tangan Zaki di piting ke arah belakang, membuat suara patah terdengar ngeri di telinga Bi Narsi yang menonton itu.


Suara lolongan sakit Zaki terdengar nyaring di dalam kamar.


"Rasain ! terus Pak Yuga" Bi Narsi memaki puas, ia juga menyemangati Yuga, tangannya masih setia memeluk erat Naqia yang sekarang tidak sudi melihat Zaki lagi, wajah Naqia tenggelam di dada Bi Narsi.


" Tangan kamu seharusnya melindungi wanita baik seperti Naqia, tapi kamu malah sebaliknya." Yuga menarik Zaki, agar berdiri dari lantai, " Dan kaki ini pun harus merasakan akibatnya."


Tendangan kuat Yuga di jenjang kaki itu, mampu membuat Zaki terjatuh ke lantai dengan nampak fisik sudah tidak berdaya, berdarah darah. Zaki sudah mirip kodok korban tabrakan lari, terjengkang tidak bisa bangun.


"Kamu harus tahu lawan sesungguhnya itu seperti apa, aku lawan mu, bukan seorang perempuan, BIADAB !."


Bugh..


Bugh..


Yuga bak singa mendapatkan mangsanya Zaki sudah tidak bergerak tapi ia masih belum puas memberi hadiah alot untuk Zaki, pilihan Zaki adalah pintu rumah sakit atau pintu neraka yang artinya is dead.


"Kamu tuh pantasnya mati, tempatmu di neraka dan rasakan___"


Kemurkaan terakhir Yuga tidak bertuah ke kulit Zaki akan kepanikan Bi Narsi yang tiba-tiba terpekik panik, tangan yang hampir mencekik leher Zaki, jadi mengudara kosong.


"Non Naqia pingsan, kulitnya terasa dingin pak Yuga, tadi sebelum pingsan, dia menekan dadanya seperti kesakitan." Bi Narsi di buat cemas, tubuh tidak sadarkan diri Naqia masih di posisi semula dalam dekapan itu, tadinya Naqia berucap lirih sakit , sejurus Bi Narsi merasakan tubuh Naqia dalam keadaan tidak stabil.


"Ayo Bi, ikut aku, ambil secepatnya pakaian Naqia untuk di pakaikan di atas mobil saja."


Yuga segera meraup tubuh yang hanya di lilit selimut asal-asalan itu, ia tidak mau terlambat membawa Naqia kerumah sakit, takut takut Naqia dalam kondisi parah saat ini.


Mereka akhirnya pergi berlalu dengan langkah terburu-buru, sudah tidak ada lagi yang memperdulikan Zaki yang terkapar lemah di lantai itu.


...****...