
"Naqia!" Panggil Zaki, ia telat mengejar Naqia, mantan istrinya itu sudah lebih duluan menutup pintu lift.
"Hais, kehilangan jejak." Zaki memencet tombol lift dengan bodoh berharap pintu lift itu terbuka, padahal ia tahu pintu stainles itu tidak mungkin terbuka lagi karena sudah bergerak naik.
"Sial benar sih hari ini, uda mau ketabrak mobil...eh kehilangan Naqia pula." Dumelnya dengan kesal meninju udara kosong.
Zaki akhirnya memasuki pintu lift sebelahnya yang baru terbuka, istirahat di unit Naima mungkin terasa nyaman, pikirnya.
Ting...
Lift yang di gunakan Naqia telah sampai tujuan, di mana unit Naima telah berada.
Kaki itu pun melangkah ke lorong-lorong unit mencari nomer unit apartemen Naima dengan kartu nama di tangan itu sebagai alamat tertulis.
Deg...
Kakinya seakan akan terpaku di lantai itu, pijakannya serasa oleng, jantung pun berdetak tidak bersahabat, di saat melihat punggung seseorang yang amat familiar di mata naked-nya.
"Bang Yuga?" Lirihnya memastikan.
Ya.... sekilas, Naqia melihat punggung suaminya memasuki apartemen Naima.
Mau apa suaminya itu? bukannya katanya mau meeting? apa jangan-jangan tuduhan Naima benar adanya?
Begitulah otak Naqia, bertanya-tanya dalam benaknya sendiri dengan dahi itu berkerut.
"Tidak, mungkin mau menyelesaikan masalah?" tepis Naqia akan pikiran negatifnya terhadap suami yang di gadang-ganang baik nan lemah lembut sejagat Pertiwi itu. kepalanya pun menggeleng pelan guna membuang otak negatifnya.
Tapi ia penasaran, dengan itu...kaki yang beralas wedges hitam itu melangkah pelan ke arah pintu yang terbuka sedikit.
Naqia menguping, ia tidak tahu ada Zaki pun yang menatapnya bingung di belakang sana.
Ke-dua pundak Naqia terjungkit kaget, menoleh kebelakang dengan telunjuk itu terpatri di bibirnya... konyol, kode agar Zaki diam dan jangan berisik.
Zaki menurut bodoh, dengan pergerakan konyol pun, men-zipper mulutnya.
Tanpa sadar, keduanya nampak akrab di depan pintu itu untuk menguping bersama, Zaki sebenarnya belum enggeh, ada apa sebenarnya, tapi ia menurut saja, dari pada Naqia marah dan kabur lagi, ia pan ingin berbicara sesuatu ke mantan istrinya ini.
"Ada apa sih di dalam sana?" Tanya Zaki.
"Diamlah!" Naqia memberi mata tajamnya ke Zaki dengan suara tertahan diamlah.
Zaki angguk-angguk aja.
" Akhirnya, kamu datang juga, Babe!"
Suara Naima di dalam sana terdengar manja di telinga Zaki dan Naqia.
Zaki penasaran, Naima sedang bersama siapa di dalam sana? Pintu itu hanya terbuka sedikit ia tidak bisa melihat lawan bicara Naima karena Naqia lah yang menguasai intip di hadapannya, Apakah Yuga karena ada Naqia pun di sini. Ok.. cukup diam dan pahami saja terlebih dahulu.
Naqia? ada gejolak sakit di hatinya, ada wanita lain yang amat menggoda suaminya, ia cemburu tapi tidak sadar dengan perasaannya itu, lebih tepatnya ia tidak bisa mengertikan kalau ia sudah jatuh cinta ke suaminya.
"Menjauh dari ku, Naima! kamu sudah keterlaluan memfitnah ku__" Yuga terjeda, Naima semakin gila, Wanita yang katanya berpendidikan tinggi itu malah memeluknya.
"Aku hamil, anak mu!" Ungkap Naima tidak tahu malu.
Yuga mendorong pelan tubuh itu agar menjauh dari tubuhnya, penginnya sih melempar Naima ke Antartika sana, tapi ia sadar... wanita di hadapannya itu lagi hamil katanya, Yuga tidak mau menimbulkan masalah, takut-takut Naima keguguran.
Zaki? Yuga.. lirihnya. ia sudah paham topik pembicaraan di dalam sana, darahnya mendidih, marah nan kesal ke Naima, Bukan apa-apa...itu adalah janinnya, kenapa Naima malah mengkambing hitamkan Yuga, enak saja.... Seburuk-buruk kelakuannya, ia masih menginginkan keturunan, cukup sekali kehilangan anak dari rahim Naqia karena kebodohannya yang amat menginginkan kesempurnaan di waktu itu yang ada di Mayang, ia sebenarnya sangat merasa bersalah hingga saat ini, namun di tampung sendiri dalam hatinya.
Hati Zaki tercubit malu, sadar mendadak karena Naqia yang tiba-tiba menolong nyawanya di pelataran parkir tadi, kematian bisa saja hadir, kapan pun dan di manapun waktu dan tempat itu. Lah....ia belum tobat, seenggaknya ia harus merubah hidupnya ke jalan baik, walaupun ia tidak punya arah tujuan lainnya selain janin di rahim Naima saat ini.