
Beberapa menit yang lalu, Dokter sudah memeriksa Naqia, menjelaskan kondisi Naqia ke Yuga pun sudah selesai, kini Yuga telah mengantar Dokter laki laki setengah baya itu menuju ke luar rumah.
"Ingat ya Pak, kalau bisa, Ibu Naqia harus di jauhkan dari kata stres, jangan biarkan Ibu Naqia berpikir negatif, pintar pintar lah untuk membuat psikisnya tenang agar tidak terbebani."
Sekali lagi Pak Dokter itu mengingatkan kondisi Naqia. Yuga mengangguk takzim.
" Terima kasih atas pertolongan anda, Pak Dokter."
"Santai Pak, ini memang kerjaan saya, kalau begitu, mari."
"Silahkan !" Yuga tersenyum tipis seraya membungkuk sedikit kepalanya, takzim. Dan Kaki itu pun melangkah masuk ke dalam rumah setelah sang Dokter sudah pergi dengan mobilnya.
"Naqia belum sadar ya, Bi ?" Yuga sudah sampai di mana kamar Naqia berada.
"Belum,Pak ! kan tadi pak Dokter menyuntikkan obat."
"Ah, iya. Aku lupa, kalau begitu, Bi Narsi boleh istirahat, biar aku yang menjaga Naqia di sini." Yuga duduk di sofa, jauh dari kasur Naqia. ia siap menjaga Naqia sampai pagi pun di jabani.
Bi Narsi pun berlalu pergi, Yuga yang tadinya jauh, kini beringsut ke tempat peraduan empuk Naqia, duduk di sisi Naqia, sejurus menggenggam tangan lembut itu.
"Naqia" lirihnya mengelus punggung tangan itu, menatap wajah sendu itu lekat lekat.
"Larut dalam dendam juga tidak baik, Naqia. Itu akan menyiksa mu, lanjutkan lah hidup mu, buat kepahitan hidup mu menjadi pelajaran berharga dan pribadi yang lebih tangguh, jangan menoleh kebelakang, melalang buana lah kedepan, aku yakin pasti ada kebahagiaan besar menanti mu."
Yuga berbisik lirih di telinga Naqia, ia mencoba untuk mensugesti Naqia di dalam alam bawa sadarnya, syukur syukur sugesti nya berhasil.
Ingin sekali ia mengatakan, Ceraikan lah Zaki, tapi lidah itu pun kelu, tidak sanggup untuk lancang begitu saja, ia tidak berhak terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Naqia. Yuga sadar diri kalau ia di sini bukanlah siapa-siapa Naqia. Biarkan Naqia berpikir dewasa untuk mengambil keputusan besarnya
" Aku siap membahagiakan mu, Naqia !" Gumamnya dalam hati, berharap suatu saat nanti Naqia berdamai dengan kepahitannya dan melanjutkan hidup bersama nya.
"Buang lah rasa trauma mu dan__"
Drrrt..
Gawai Yuga berdering, membuat sang empu terkesiap yang tadinya sibuk berbisik di telinga Naqia yang masih saja terpejam menikmati tidur di bawah pengaruh obat.
"Mama !"
Yuga beranjak ke jendela, menjauh dari Naqia, ia yakin... Mama nya akan nyap-nyap karena sedari tadi di abaikan teleponnya.
Bismillahirrahmanirrahim..
Yuga sempat berdoa dulu, moga-moga Mama nya menelpon hanya membahas tentang hal lain bukan tentang perjodohan lagi.
" Hal__"
Hais...! Dengarlah, Yuga baru sepotong kata, Mama nya di seberang sana sudah beberapa kalimat kata dengan nada mencerca.
Yuga sampai menjauhkan gawai itu dari telinga nya, Mama nya punya suara terhakiki cemprengnya.
"Yuga lagi sibuk, Mama. Ada___"
" Sibuk apa hah ? sibuk sama dokumen dokumen itu ? Yuga, kamu itu sudah tua, belum punya anak, malu sama umur, nanti ubanan baru punya bayi, ih.. Orang orang akan mengira kalau itu cucu mu, bukan anak mu... Dan Mama tidak mau punya mantu selembaran dokumen, Mama masih waras tidak seperti kamu, istrimu sudah lama meninggal, jadi bukalah hati mu untuk salah satu wanita pilihan Mama, jangan sok jadi cacing yang tanpa kawin tapi sanggup mempunyai anak."
BERISIK !!!
Yuga sebenarnya ingin membentak seperti itu, tapi apalah daya, ia hanya bisa menahan dongkol akan kecerewetan Mama nya di balik gawai sana. ia menghormati Mamanya.
" Yuga ! Dengar Mama tidak ? Halo ! Jawab anak kaku, atau Mama akan ngambek ni !"
" Dengar Ma, Sangat dengar kok, suara Mama kan mengalahkan kemerduan Diva pop rock."
Mata Yuga tak lepas dari wajah Naqia yang masih tidur, bibir nya tersungging geli mendengar Mamanya di seberang sana mendengus sewot di beri sindiran olehnya.
" Anak kaku, coba kamu ada di samping Mama, Mama akan memperkenalkan suara Diva pop rock itu seperti apa, Cepat pulang sekarang, ada yang Mama mau kenalin sama kamu_"
" Tapi Ma__"
" No tapi tapi, atau kalau tidak, Mama akan mati dan kamu mama haramkan untuk melayat jenazah Mama." Ancamnya.
"Astagfirullah, Ma__"
Tut..Tut..Tut..!
Hais ! Yuga memandang sinis gawainya, seakan gawai itu musuhnya.
" Mama selalu seenaknya, Bagaimana ini ? dan siapa lagi kandidat Mama itu." Dumel nya, Mata dan hati juga keseluruhan perasaannya sudah di menangkan oleh Naqia, bukan wanita lain.
Andai Naqia sudah bebas dari jeratan pernikahan tidak sehatnya bersama Zaki, maka Yuga tidak akan segan untuk memperkenalkan Naqia sebagai calon nya, masalahnya.... Naqia masih istri orang, dan masalah terhakiki nya adalah Mamanya itu tidak suka hubungan rumit.
" Baiklah, Kali ini kesempatan terakhir untuk Mama menjodohkan aku terhadap wanita kandidat kandidat mu, Lihat saja apa yang Yuga perbuat." Senyum misterius Yuga mengembang.
Sebenarnya ia juga berat untuk meninggalkan Naqia dalam kondisi seperti itu, tapi bagaimana lagi, ia harus bertindak untuk menghentikan kegilaan Mama nya.
Lagian, Zaki juga tidak ada di rumah, jadi mungkin Naqia akan aman di rumah dalam pengawasan Bi Narsi.
"Bi, tolong jagah Naqia ya, kalau Zaki pulang dan membuat kegaduhan, segera telpon aku, aku ada urusan penting saat ini."
" Baik, Pak !" Sahut Bi Narsi tahu betul tugas nya tanpa di beri arahan juga.