
Tanda tangan kedua pihak tersangkut, telah terbubuhi di kertas surat cerai yang di pegang Yuga, benar janjinya ke Naqia, dalam waktu singkat, ketukan palu hijau sudah terdengar tanpa kehadiran pihak tersangkut pun, Yuga sudah khatam perihal kasus seperti itu, jadi mudah baginya dengan hanya menggunakan surat kuasa dari pihak Naqia.
"Selesai! kamu bukan istri Zaki Mahesa sekarang!" Ujarnya, "Tapi akan menjadi istri Yuga Pratama, Lanjutnya dalam hati.
Naqia hanya memandang surat itu tanpa berniat mengambil dari tangan Yuga, saat ini mereka ada di ruang tamu rumah Naqia, Ya...Naqia memaksa ingin pulang ke rumah sakit dengan alasan sumpek dan bosan, maka dari itu Yuga memaksa pihak rumah sakit untuk di berikan ijin pulang padahal sebenarnya belum di perbolehkan, keinginan Naqia adalah mutlak bagi Yuga, ia ingin membuat Naqia merasa di sayangi olehnya, sedikit demi sedikit ia akan meluluhkan hati bak batu karang itu.
"Lupakan masa lalu, Naqia. Sekarang kamu bagaikan burung, bebas menata hidup mu, sesukamu tanpa adanya bayangan hitam lagi."
Dari duduknya, Yuga menatap harap wajah Naqia, berharap Naqia mau mendengarkan kata-kata sederhananya namun penuh makna.
"Entahlah!" Naqia tidak mau berpikir apapun tentang masa depan saat ini, "Aku tidak mau berharap apapun, Pak Yuga, biarkan hidup sebatang kara ku mengalir apa adanya." Mata Naqia berkaca-kaca memandang seluruh penjuru ruangan.
Di sana...di kamar mandi ruang tamu, Zaki pernah menghukumnya dengan cara mengguyur tubuhnya dengan air begitu dingin, akhirnya ia demam semalaman.
Di area dapur, Zaki pernah melempar makanan ke tubuhnya dengan alasan, masakannya serasa sampah tidak enak untuk di makan.
Di sini...di sofa yang ia duduki, Zaki pernah menjambak rambutnya dan menggeret-geretnya ke arah kamar.
Dan di dalam kamarlah hal yang mengerikan untuk Naqia kenang, di dalam kamar itu, Zaki memperkosanya dengan brutal, bukan hanya sekali, tapi tiga kali, hingga korbannya adalah janinnya, dan korban sesungguhnya adalah hati Naqia yang amat trauma terhadap kontak fisik intim, tetapi ia tidak membenci laki-laki karena ia menyadari ada Yuga yang selalu baik selama ini terhadapnya, Naqia hanya trauma di sentuh seinci kulit pun oleh para kaum Adam, itu saja.
"Non, kamarnya sudah rapih, kalau mau istrihat, biar bibi bantu." Tawar Bi Narsi ingin memapah Naqia berjalan.
"Tidak usah Bi, aku tidak mau istrihat, aku kesini hanya mau ngomong ke Bibi, kalau hari ini aku akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu, tolong jagah rumah orang tua aku ya, Bi!"
"Baik, Non!"
Jelas Yuga tersenyum jumawa dalam hati, ternyata Bi Narsi tidak di ajak oleh Naqia, itu artinya...ia dan Naqia hanya berdua dalam satu atap, asyik! Girangnya, ia pan bisa leluasa menggait hati Naqia.
Ck, woy...Yuga! Ada Tata sebagai dalang! Awas nakal, aku ngawasin lho.
"Siapa sih lo, nggak kenal!"
Ok...Lanjut.
***
Hari yang sama, Naima mencari-cari keberadaan Zaki dari beberapa jam yang lalu, hingga akhirnya ia terdampar menemukan Zaki di kamar inap kelas tiga rumah sakit, atas pemberitaan dari Bi Narsi yang tadinya Naima mencari Zaki di rumah Naqia.
Naima sudah menceritakan perihal maksud kedatangannya tentang jangan sampai menceraikan Naqia paling lambat tiga bulan kedepan.
Zaki yang mendengar itu, tertawa gaje. Naima menatap aneh lawan bicaranya di bed itu.
"Kamu telat, aku sudah menceraikannya, dan itu karena laki-laki idamanmu, sialan!" Zaki sangat kesal bila mana di ingatkan tentang nama Yuga Pratama.
"Bodoh!" Desis Naima, "Kenapa tidak menolak?" Marahnya ke Zaki.
"Andai tangan ini tidak di gipz, aku robek mulutmu itu, seenak jidat ngatain aku bodoh!" Ketus Zaki tidak terima di hina. "Kalau mau marah-marah di sini maka pergilah." Lanjutnya mengusir, Naima menghembuskan nafas beratnya, ia masih butuh bantuan Zaki, dengan itu ia akan bicara baik-baik nan penuh kesabaran.
"Maaf, aku tidak bermaksud, jadi bagaimana tawaranku? Cooperation?"
"Asal kamu mau penuhi segala sesuatu yang menyangkut biaya hidupku."
"Benalu!" Jelas Naima hanya mengumpat di dalam hati, kalau terang-terangan, Zaki mungkin bisa saja tersinggung dan berakhir menolak bekerjasama, secara watak Zaki itu pemarah bin tempramental.
"Baiklah, lihat nanti, kita akan berbicara setelah aku keluar dari rumah sakit, dan sebagai syarat awal sebagai rekan, tolong lunasi biaya rumah sakit ini, Yuga sialan itu tidak mau bertanggung jawab sama sekali."
Boleh nyuntik Zaki pakai virus mematikan nggak sih? Naima kok jadi dongkol.
"Pantas saja Naqia tidak betah, lah... lakinya aja tidak tahu diri, juga tidak tahu di untung." Dumel Naima berlalu kesal dengan kaki itu menghentak.
Tunggu pembalasan ku, Yuga. Kamu tidak akan bahagia!