
Sinar pagi hari telah muncul, untuk menggantikan sang gelap malam, dua insan manusia masih saling bergulat dalam mimpi lelapnya di sebuah ruang keluarga di atas sofa lebar nan panjang, tubuh mereka masih dalam keadaan naked satu sama lain, ke-duanya kelelahan akibat permainan bor sumur penuh peluh gelora napsu di bawah kendali alkohol.
Uhh..
Naima melenguh, tubuhnya serasa pegal-pegal semua, layaknya habis nyangkul sawah.
Ia belum sadar ada tangan kekar yang melingkar di perut polosnya, serasa terasa dingin kulit itu, ia pun membuka matanya, ia masih linglung, padahal ada kepala nan wajah yang terpatri nyaman tepat di buah kembarnya.
"Oh, Zaki!" lirihnya cuek, sejurus..." Arrgh, ZAKI KAMPRET!!!" Jeritan terhakiki Naima membuat Zaki terbangun dan terduduk kaget, "Bajingan kamu!"
"Aww, apa sih?" ketus Zaki, ia terjatuh ke lantai karena tendangan kuat Naima, ia belum sadar Naima dan dirinya telah naked memperlihatkan barang ai* mereka.
"Kamu__kamu apakan diri ku?" Naima menyilangkan tangannya kedada, Zaki kini sudah sadar dari kelinglungannya, ludah itu kembali tertelan beberapa kali karena melihat tubuh Naima yang wow minta di bor.
Hasrat Zaki naik lagi...
"Aku, aku tidak tahu, jadi kita semalam...?" Bingung Zaki pun, berdiri santai dengan alat bornya mulai berkedut kedut dan mendekati Naima yang ogah ogahan berdiri, kaki dan paha itu mati matian menyembunyikan kulit paling sensitifnya dari mata Zaki yang tidak mau berkedip, kalau ia berdiri, fix...Zaki akan melihat sumur berumput liarnya.
"Pasti kamu menggoda ku, semalam ya?" tuduh Zaki tersenyum nakal.
"Fuc* !" Umpat Naima, " Hei, adanya...akulah korbannya, menjauh sana, dan ambilkan pakaian ku." Mati-matian Naima menyembunyikan tubuhnya, Zaki tersenyum nakal lagi, semua wanita ternyata playing victim kecuali Naqia di mata Zaki.
"Ambil sendiri!" Tolak Zaki, tangan nakalnya ingin menyentuh buah balon Naima, tapi di tepisnya.
"Hahaha." Zaki malah tertawa nakal, Naima kini ketakutan, "Aku sudah melihat tubuh mu, jangan munafik, sepertinya semalam kita melakukan adegan panas, lihatlah dada ku, banyak tanda merahnya, jelas pasti kamu yang membuat tubuh ku belang-belang."
Naima meringis kecil, bodoh... hardiknya ke diri sendiri, ia telah memelihara rubah di dalam rumahnya.
"Minggir, aku__"
Saat ingin ngebirit kabur dari hadapan Zaki, Naima justru terjatuh masuk ke dalam dekapan Zaki, laki laki sialan ini langsung melakukan serangan melumpuhkan untuk Naima tolak, Zaki membuatnya gila, otaknya menolak tapi tubuhnya merespon desiran hasrat itu.
"Kita ulangi kayaknya seru, anggap saja saling membutuhkan sentuhan."
Bodohnya, Naima mengangguk begitu saja, sejurus erangan merdu ah.. telah lolos tanpa permisi saat jari nakal Zaki main terobos mengobrak-abrik isi intimnya.
Tubuh Naima menegang, menggilai otak jernihnya, ia memanas, membutuhkan pelampiasan lebih dari permainan tangan Zaki.
"Zak__ah!"
Zaki tidak peduli Naima ingin lebih saat ini, ia ingin bermain-main lama dengan tubuh indah Naima, walaupun semalam sudah pernah, tapi dalam ketidaksadaran, kurang menjiwai, kalau ini kan dalam kesedaran penuh, jadi pasti menggelora, Naqia tidak ada Naima pun jadi sebagai pelampiasan hormonnya, siapa yang mau menolak, Uda cantik..gratis pula.
"Lepaskan ta_ ah tanganmu!"
Naima tidak sabaran dengan permainan setengah Zaki, dengan itu..ia menepis tangan Zaki, dan mendorong Zaki ke punggung sofa, Naima naik ke pangkuan itu, dan ah... tahu sendiri lagi apa? lagi naik kuda ku duduk di muka.
"Haha, Naima, kamu ternyata sudah berpengalaman, tapi aku suka, ah...ya terus lah bergerak, uh!"
Naima tahu itu ejekan Zaki tentang berpengalaman, tapi bodo amat, tubuhnya lagi banyak setan, ya...ia merindukan sentuhan laki-laki yang terakhir ia dapatkan dari mantan pacarnya yang sialnya si mantan telah menduakannya, makanya Naima itu butuh laki-laki yang tipe setia, dan Yuga adalah orang yang bertipe setia itu.
"Lebih baik mulut mu itu kamu__ah uh..gu_gunakan untuk bekerja, jangan terus mengejek ku, sialan."
Zaki terkekeh remeh, ia tahu maksud Naima, baiklah, kesempatan kenapa tidak di borong murah, " Setelahnya, jangan sampai menyalakan aku, begini 'kan yang kamu mau?"
Sejurus tangan dan mulut Zaki sudah tenggelam di buah balonku ada dua itu, kiri kanan tangan dan mulutnya bergantian menikmati buah balon Naima.
"Ya ampun, enak sekali! andai yang aku puaskan adalah Yuga, betapa bahagianya aku."
Di dalam hatinya, Naima bergulat batin sendiri, ia tahu dampak kelakuan bodoh tapi menagih ini, yang penting jangan sampai hamil, ogah ia terikat oleh si Zaki kampret ini.
"Aku tidak mau hamil!" kata Naima di dalam tindihan Zaki yang saat ini Zaki lah yang memimpin.
"Mudah saja, angkat rahim mu!" Enteng Zaki tidak mau pun punya anak dari wanita jahat seperti Naima, lah....ia sudah biadab, masa dapet bini pun tak kalah biadabnya, bagaimana nanti keturunannya, mungkin super biadab hasilnya.
" Kampret Lo Zaki__argh!" Naima telah sampai di sela makiannya ke Zaki, sejurus Zaki pun menyusul.
"Kamu memang kampret, aku bilang tidak mau hamil, tapi kamu malah menyemburkan kecebong mu di rahimku, minggir!"
Naima ngeberit kabur ke kamarnya, ia tidak peduli lagi jawaban Zaki.
"Naima, kapan-kapan kita ulangi lagi permainan gratis ini ya!" teriak Zaki menggoda dengan mata tidak lepas dari panta* Naima yang geol-geol polos, dan ah... wanita itu berbalik lagi ke wajahnya.
" Ini buat kamu."
Konyol, wajah Zaki telah di jatuhi kain berbentuk kacamata, ulah Naima yang melemparnya.
" Pakailah itu, biar terlihat bancinya." Teriak Naima puas meledek Zaki.
"Naima, BH-mu bau kecut!" Bohong Zaki, padahal wangi khas Naima telah menempel di kain kacamata warna pink cerah itu. Zaki melemparnya dan berlalu ke kamarnya pun. ia telah mendapatkan mainan baru kali ini, Yakni tubuh Naima.