
Terik sang Surya rasa-rasanya tepat di atas kepala, itu karena saking panasnya di waktu siang bolong.
Yuga dan Naqia baru tiba di pelataran rumah, Naqia jadi serba salah di hadapan Yuga setelah malam panjang yang mereka lalui, ia semakin canggung, sifatnya yang pendiam semakin diam saja di atas mobil itu yang baru terparkir.
"Apa suguhan semalam masih kurang, hingga kamu diam saja, Naqia? ayo kita nambah lagi di dalam kamar." Goda Yuga di dalam mobil itu, ia memajukan wajahnya di hadapan Naqia yang tiba-tiba tersipu.
Yuga tersenyum menggoda.
"Apa sentuhan ku semalam menyakiti perasaan mu, maafkan aku!" Kali ini sih...Yuga bertanya serius.
Naqia menggeleng canggung, Yuga bernafas lega, ia sedikit paham, mungkin istrinya malu.
"Aku tahu, hati mu belum ada nama ku di dalam sana, tapi Naqia...." Yuga menarik tangan Naqia, menggenggamnya ke dalam dadanya untuk bersatu di sana, mata mereka saling bersitatap dalam.
"Jangan halangi aku untuk merebut hati mu, beri jalan untuk aku, buang rasa trauma kamu terhadap problema rumah tangga, kamu harus percaya...aku beda dari orang yang menyakiti mu."
Sungguh....Yuga ingin sekali mendengar perasaan welcome Naqia untuknya, walaupun darah mereka sudah bersatu semalam, tapi.. kenyataannya, Naqia hanya di selimuti hasrat bercinta, tanpa ada hati untuknya.
"Ajari aku, aku akan mencoba mulai hari ini dan jangan tinggalkan aku serta jangan lukai hati ku yang sunyi ini."
Hari ini, Naqia akan membuka pintu hatinya untuk Yuga masuk... bismillahirrahmanirrahim, doanya dalam hati, semoga tidak salah langkah batinnya karena ia tidak mau terluka lebih dalam lagi.
Bukannya hati itu akan cepat sensitif bila mana sudah di kuasai nama seseorang, cepat terluka. Yuga memang orang baik, tapi namanya manusia... tidak jauh dari kata khilaf bukan?
Waspadalah.... waspadalah... waspadalah. Naqia hanya waspada kok, berhati-hati...Ia tidak mau hatinya terluka seperti perlakuan Zaki...rasanya dulu hati Naqia bak di tusuk-tusuk oleh katana, terkoyak berdarah-darah, tapi... yang di rasakan Naqia waktu itu adalah... sakit tidak berdarah.
"Terima kasih, aku tidak akan mengecewakan mu, bila itu terjadi...tegur aku dengan caramu, boleh pukul tapi tidak boleh meninggalkan ku."
Yuga tersenyum sabit, menatap bibir ranum Naqia yang amat manis baginya, boleh cium nggak sih..
Cup.. Nyatanya, kecupan itu hanya angin kosong. Di luar kaca mobil, ada Hani yang gedor-gedor kasar. Naqia dan Yuga saling lirik sesaat, setelahnya mereka turun dari mobil itu.
"Kalian dari mana aja sih, mama khawatir tahu nggak, dari kemarin di telpon tidak ada respon?" Oceh cemas Hani, mata itu menatap sengit anaknya.
"Mobil pak Yuga mogok dan__"
" Sudah, Lupakan itu, Mama sudah tidak cemas lagi karena sudah melihat kalian tidak apa apa, Yuk masuk... sudah ada makanan siang menanti mu."
Rencana cerdik Hani masih berlaku hari ini untuk Naqia, ia pikir... anaknya itu belum berhasil membobol gawang mantunya, pan Yuga itu payah dalam merayu.. perangainya kaku seperti Almarhum suaminya, Nilainya.
Naqia hanya pasrah di tarik tangannya masuk ke arah meja makan, dalam hatinya...ia bersyukur, Hani orang tua yang baik, tidak neko-neko menerima menantu sepertinya, yang jauh dari kata sempurna...ia kan stupid, sadar diri kok Naqia-nya.
"Bi, ambilkan makanan khusus mantu ku!" Hani menekan pundak Naqia agar cepat duduk di kursi itu.
Naqia semakin bingung, apakah ini salah satu peran mertua, ia pan sebelumnya tidak punya mertua?
Yuga melihat itu, menatap curiga Mamanya yang sedari tadi memperhatikan.
Roman kelicikan ini sih! Yakin Yuga dalam hati, tapi masih mencari cela kelicikan mamanya, apa?
"Ma, aku juga mau di suapin lho!" Yuga menatap tajam Mamanya, kode jangan macam-macam.
"Mata mu, Nak! mau mama colok sapu lidi? dan makan sendiri, Uda tua kok minta di suapin kayak bayi." Mulut Hani memang tajam, bar-bar. tidak pandang bulu ia sedang berbicara ke anak sendiri.
Yuga hanya melengos dengan decakan lirihnya, membiarkan apa yang ingin Mamanya perbuat, selagi tidak menyakiti perasaan istrinya, ia nya sih relax just relax.
"Ma, Aku bisa makan sendiri." Naqia merebut lembut sendok yang di pegang Hani. "Makanannya enak, ayo... Mama dan Pak Yuga makan juga dong! karena Mama sudah baik menyuapi aku, maka satu sendok makan dari tangan ku, sebagai tanda sayang ku ke Mama mertua."
Mampus, jangan sampai senjata makan tuan! Mantunya itu memaksanya juga untuk makan makanan yang ada bumbu magic nya.
Bi Narsi yang melihat itu, ingin terbahak-bahak, namun tentu saja menahannya..
Alamak.. Kalau Nyonya makan itu, nanti naik kuda lumpingnya sama siapa dong, masa bergulat sama bantal.
"Ah, mmh, Mama sudah makan tadi, aduuh..ini perut Mama kok melilit ya, ah.. pasti karena kekenyangan, kebanyakan karbohidrat pasti, tunggu ya..dan habis kan makananmu, itu masakan Mama!"
Hani ngebirit kabur ke kamarnya, berpura pura mau BAB, perut yang baik-baik saja itu di buat buat meringis melilit.
Naqia menatap aneh kelakuan mertuanya, Yuga hanya menggeleng geleng kepala dengan nafas malasnya.
Bi Narsi... Tentu saja tersenyum geli, hampir saja Nyonyanya mau bersolo di kamar mandi kalau Naqia berhasil memaksa Hani untuk makan racun magic itu.
"Sudah habis, aku mau ke kamar dulu ya." ijin Naqia ke Yuga.
"Iya, selamat beristirahat." Yuga tersenyum manis ke Naqia, ia masih setia di table meja, ingin membuat Bi Narsi mengaku, apa yang sebenarnya yang di rencanakan Hani saat ini?
" Bi?"
Haiss, Pak Yuga pasti curiga? kabur juga ah...
"Iya Pak, butuh teh?" Yuga menggeleng, " Oh, kalau begitu, Bibi mau buang sampah dulu ya?"
Bodohnya, tong sampah dapur itu, tidak ada satupun sampahnya. Yuga semakin curiga.
"Apanya yang mau di buang, Bi?"
"Eh, hehehe, iya ya? maksud ku, mau di pasangin plastik sampah biar tong nya kagak kotor."
Kaburrr, Bi Narsi berjalan cepat meninggalkan wajah selidik si bapak pengacara.
"Pak Yuga, selamat ya..." Sejenak Bi Narsi berbalik, memberikan tanda ucapannya terlebih dahulu.
"Selamat? Mama dan Bi Narsi sama saja!" Gerutu Yuga, sedetik...ia pun cuek.