Stupid Wife

Stupid Wife
Keluhan Rasa Sakit 2



Sontak kedua pria itu terpaku mendengar tolakan Naqia yang masih mencoba mati matian meredam tangisnya.


Naqia berhadapan penuh, tepat di wajah Zaki saat ini, mata mereka saling bersibobrok dengan pancaran berbeda, Naqia dengan kilatan murkanya, Zaki dengan binar redup penyesalannya, Yuga sendiri bersiap siaga di belakang Naqia, takut takut ketempramentalan Zaki kambu, ia tidak mau Naqia terkena pukulan bila mana Zaki ringan tangan lagi.


"Tidak masalah dengan luka lara ku di dalam hati ini, bahkan kamu buat kulit ku berdarah-darah pun, mungkin aku masih bisa memaafkan mu, Mas. Tapi...kamu membunuh janin ku, darah daging mu sendiri." Naqia mengepalkan tangannya, ia memukuli dada Zaki membabi buta.


Zaki hanya diam saja, tidak mengelak dari pukulan Naqia, wajah itu tertunduk malu, ada rasa penyesalan di sudut hatinya bila mana Naqia membicarakan calon anak mereka, Zaki juga teringat kepada Mayang, bukan mengingat karena rindu atau semacamnya, ia mengingat kebohongan Mayang tentang bayi tidak jelas yang di kandung Mayang. ia di pintari bin di tipu. Damn !


"Adakah seorang calon Ayah, yang merasa senang mendengar calon bayinya meninggal, bahkan di saat belum melihat dunia ? Nalar...Kamu orangnya Mas Zaki, kamu lah pendosa sesungguhnya." Naqia menghadir, ia banyak belajar tentang hardikankan dari Zaki.


Mata Naqia kembali hujan deras, tapi bibir itu tertawa seperti orang gila dengan terus menerus memukuli dada Zaki yang di buat nya mundur-mundur oleh pukulan Naqia, amarahnya di atas ubun kali ini.


Yuga yang melihat itu, tertohok, iba terhadap Naqia yang begitu menyimpan luka lara mendalam, susah... sangat susah menyembuhkan luka batin dari pada luka fisik, itulah yang pernah di alami Yuga dan semoga Naqia bisa melewatinya. Doanya dalam hati.


"Kamu jahat tahu nggak, Mas ! Kenapa hanya diam saja, ayo... pukul aku.. Hahaha." Tantang Naqia tertawa histeris, bila mana pukulan Zaki kali ini membuatnya mati, maka ia pasrah, ia sudah bosan hidup, semangat hidupnya sudah mati tepat janin nya telah di ambil paksa oleh-Nya, mungkin hanya kematian saja yang akan mendamaikan hati penuh kata lara itu.


Zaki hanya mundur mundur kecil akan pukulan demi pukulan Naqia, biarkan Naqia memukuli nya. Pasrah nya dalam hati.


Lekas, Yuga menarik Naqia untuk menjauh dari Zaki yang semakin tertunduk tidak bersuara sepatah kata pun, Yuga tidak mau membuat kondisi Naqia yang dalam tahap konseling, berbelok menjadi kehilangan akal sehat akibat terkena mental terus.


" Naqia, cukup !"


"Tidak, pak Yuga, lepaskan aku !" Naqia memberontak, masih ingin memukuli Zaki. Dada Yuga pun jadi sasarannya karena Yuga menahan nya di dalam dekapan itu.


"Ini demi kebaikanmu, Naqia ! atur nafas dan buang emosimu." Semakin erat Yuga memeluk tubuh itu yang masih saja memberontak, Naqia pun semakin besar ingin lepas dari dekapan Yuga.


Hiks hiks hiks... Naqia pasrah, punggung nya terasa hangat saat tangan Yuga naik turun bergerak lembut, mengelusnya sebagai tanda untuk menenangkannya.


"Dia ja__jahat pak Yuga, sangat jahat, di_dia memperkosaku, selalu menghukum ku, selalu kasar dan dia juga membunuh jan_nin ku." Hiks hiks..


Naqia sesunggukan, berkeluh kesah di dada Yuga dengan lisan terbata-bata, tangan yang tadinya memberontak tidak mau di peluk, kini terkulai lemas, mata itu seketika menggelap, Naqia pingsan karena tidak bisa mengatur emosionalnya.


Yuga yang merasa aneh dengan tubuh wanita yang di peluk nya akan merosot ke bawah, di buat terkesiap, sigap menahan tubuh Naqia agar tidak jatuh ke tanah.


"Naqia !" Lirih Zaki, ia baru tersadar dari jabaran demi jabaran memilukan Naqia, mata itu pun sudah berkaca kaca.


Sesungguhnya, di dalam lubuk paling terdalam Zaki, ia sudah menyesali perbuatannya yang mengakibatkan kehilangan calon bayinya, tapi...Dia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya di hadapan Naqia, ego nya itu terlalu sombong. Jelas...laki laki gito lho.. sebagian jiwa laki laki itu ada yang ogah ogahan di bawah kendali sang istri, maunya menang sendiri walaupun jelas dia yang salah, ibarat peribahasa... Di salak anjin* bertuah. Itulah Zaki.


Zaki pergi meninggalkan rumah, Pikirannya semberawut seperti benang kusut, ia butuh hiburan agar tidak stress.


"Bi Narsi, tolong ambilkan minyak angin." Titah Yuga menggebu cemas, ia paling tidak suka melihat orang istimewa nya di dalam keadaan tidak baik baik saja, karakternya memang mendomin kaku datar, tapi hati nya itu lembut, selembut puding kebanyakan air.


"Bi !" Ulang Yuga.


"Eh, i_iya, Pak !" Bi Narsi bergegas menuju kotak obat.


"Ini Pak !"


Gegas, Yuga meraih botol kecil itu, duduk di sisi baring Naqia.


Kepala Naqia bergerak lemah. Bau menyengat minyak angin ulah Yuga menggangu pengendusannya, tapi sayang...mata itu menolak terbuka, Naqia malah mengigau, suhu tubuhnya sudah mulai panas.


" Papa, Mama ! Bawa aku, jangan pergi, jangan tinggalkan aku seorang diri."


Yuga dan Bi Narsi saling lirik sejenak, racauan Naqia terdengar putus asa.


"Bi, aku akan menelpon Dokter, tolong jaga dia untukku."


"Baik, Pak !"


Dengan langkah berlari kecil, Yuga keluar kamar, mencari keberadaan gawai nya yang entah terjatuh di mana, suhu tubuh Naqia yang terbilang panas membuatnya cemas nan panik, apalagi mendengar racauan Naqia, tidak ada semangat untuk hidup lagi, Yuga tidak mau alam bawah sadar Naqia mengalahkan segalanya.


Hidup tanpa arah tujuan itu adalah bom atom sesungguhnya dalam jiwa manusia, bila mental tidak kuat menjalankan pahit nya kehidupan, maka hanya ada dua pilihan... Hidup dalam ketidakwarasan atau mati dengan luka lara ikut terkubur dalam kematian yang kian akan menggerogoti tubuh secara perlahan.


Penilaian Yuga, Naqia kini ada di fase tantangan pahit itu, Yuga memaklumi..ah, lebih tepatnya paham betul kenapa Naqia tidak mempunyai semangat hidup.


Jelas, Naqia merasa tidak ada keluarga lagi yang membuatnya hangat, tidak ada pelukan sayang dalam berkeluh kesah. Punya suami namun tidak ada gunanya, bahkan pemicu dari segala masalah adalah suami sialan itu, sempat merasa ada secercah cahaya dengan kehadiran janin di perut itu, tapi apalah daya, Tuhan masih sayang ke Naqia dengan terus menerus menguji kemalangan Naqia.


Yuga iba, sangat iba !


Drrt...


Setelah menelpon Dokter. Kembali gawai Yuga berdering, melihat siapa si pelaku.


"Mama !" Yuga meringis macam


kepedasan, ia tidak suka Mamanya menghubunginya saat ini, bukan tidak hormat, tapi yakin...Mamanya nelpon hanya ingin membahas wanita wanita yang di sodorkan kepadanya dalam hal rangka jodoh-menjodohkan. Kayak anak baru dewasa saja main perjodohan, ck., kesalnya ogah ogahan mengangkat panggilan telpon itu.