Stupid Wife

Stupid Wife
Kabar Bahagia Untuk Sang Calon Oma



Yuga baru sampai di pelataran rumah di hari yang sudah gelap. Naqia sudah tertidur di sebelah kemudinya.


"Kamu pasti kelelahan!" Lirih Yuga menatap penuh mesra istrinya yang tidak mungkin di lihat oleh Naqia.


Dia pun keluar dari mobilnya dan berputar cepat ke pintu sisi Naqia.


"Tidurlah yang nyenyak." Katanya dalam hati berharap Naqia tidak terganggu karena pergerakannya yang ingin menggendong Naqia masuk ke rumah.


Kenapa?


Di dalam rumah, Hani segera bertanya kenapa? Namun hanya kode saja tanpa ada suaranya.


"Hanya kelelahan." Lirih Yuga menyahuti Mamanya. Dia pun beranjak ke arah kamarnya tanpa berlama-lama meladeni Hani yang nampak ingin membuka bibirnya mau cerewet kepo.


"Hemm, katanya mau bulan madu besok tapi pulangnya kemalaman, 'kan jadinya kecapean." Dumel Hani seraya memasuki kamarnya mencari kasur oh kasur.


...****...


Di pagi hari buta, Naqia sudah bangun dari tidurnya ulah perutnya yang amat tidak nyaman.


Hoekkk..


Mendengar suara aneh itu, Yuga jadi terganggu. Gegas dia bangkit dari tidurnya dan menyusul Naqia ke kamar mandi yang masih terdengar munta-munta.


Hoekkk


"Kamu kenapa?" Tanya Yuga bodoh seraya memijit tekuk Naqia. Dia belum paham apa itu morning sickness akibat adanya perubahan hormon di dalam tubuh seorang bumil. Sehingga wajah Yuga nampak cemas penuh kekhawatiran.


Hmm, dasar Tata jelek...aku tidak bodoh tapi tidak tahu. Lo pikir gue pernah morning sickness?


'Kan dulu pernah sempat mau punya anak sama mantan almarhuma? hayook!


Mantan gue nggak pernah morning sickness, mau apa lo?


Oh, bilang dong dari awal kalau mantan tercinta Lo hamil kebo'! Gue ngaku kalah deh... kaburrrr.


Mau kabur jangan tinggalin sendal jepit swallow jelek Lo yang beda warna itu. nih...gue lempar.


Plukkk..aww ( ok lanjut, ini tulisan ngantuk otor, hihihi)


"Tunggu ya sayang! tunggu sebentar!" Karena tidak tahu harus bagaimana ngurusin istrinya yang sedang morning sickness, Yuga ngeberit-birit keluar kamar. Tujuannya adalah ke kamar Hani meminta bantuan.


"Ma! Ma! Bangun! Naqia lagi__" Tidak sabaran karena Hani malas untuk bangun yang masih ngantuk. Yuga pun segera menarik selimut yang sengaja Mamanya itu rapatkan hingga ke atas kepala.


"Woiiiii, ini Mama lho! kamu lagi mimpi berjalan ya? lihat wajah keriput Mama, ini bukan Naqia. Ingat! Dosa besar kalau kamu nafs* sama Mama sendiri." Hani meronta di dalam gendongan Yuga. Dia pikir anaknya itu mau memangsanya karena pengaruh jin tak kasat mata.


"Aku nggak mimpi Ma. Tapi itu... tolongin aku, Naqia munta-munta." Jelas Yuga seraya menurunkan Hani dari gendongannya karena sudah tersadar sepenuhnya dari alam tidur.


Tanpa suara lagi, Hani bergegas masuk ke dalam kamar anaknya. Dia belum tahu kalau sebentar lagi akan menjadi Oma karena baik Yuga dan Naqia belum menyampaikan kabar itu ke semua penghuni rumah.


Ceklek...


"Mana? Dasar anak nyebelin!" Hani menarik ujung rambut Yuga yang acak-acakan itu. Di mata Yuga dan Hani, kini Naqia sudah berada di atas kasur dengan selimut terpatri nyaman, juga mata sudah kembali tertidur. Naqia masih mengantuk makanya tidur lemas setelah munta munta.


Hani jelas kesal. "Kamu itu ngigonya macam cicak kepotong ekornya yang mencak-mencak tidak jelas" Hani menatap sinis anaknya yang sedang menggaruk tengkuknya karena bingung akan tingkah Naqia yang sudah ada di atas kasur.


Apakah aku tadi cuma mimpi? Bingungnya bertanya dalam hati.


"Ganggu tidur mama saja!" Ketus Hani namun terdengar pelan suara itu yang tidak mau mengganggu tidur menantunya.


"Tapi Ma__Maksud ku, Katanya orang hamil itu akan mengalami mual 'kan ya?" Yuga masih mau mengubah tuduhan ngingo itu ke Hani kalau dia benar-benar tidak bermimpi.


"Iya betul! Terus apa hubungannya dengan mimpi ngaco kamu dan orang hamil? Behh.. jangan harap Mama percaya kibulan kamu hanya karena tidak mau di tuduh ngingo sehingga membawa kata Ibu hamil, kecuali Naqia hamil baru Mama tidak akan jadi marah ke kamu di pagi hari buta ini___"


"Naqia memang lagi hamil!" Yuga segera berseru cepat agar tangan enteng Mamanya tidak jadi menjewer kupingnya.


"Benarkah?" Tanya Hani seraya menarik lagi tangan entengnya.


Yuga mengangguk. "Kemarin sudah diperiksa oleh Dokter." Terang Yuga. Hani seketika tersenyum lebar.


"Yes...Aku akan menjadi Oma sebentar lagi!" Pekiknya seraya menubruk tubuh tinggi anaknya begitu kasar, hingga pelukan itu hampir membuat Yuga oleng karena tidak siap akan pergerakan tetiba Mamanya.


"Jangan berisik. Nanti tidur Naqia terganggu!" Yuga segara membekap mulut Hani yang ingin terpekik lagi.


"Ok...siap!" Bisik Hani dan sejurus meninggalkan kamar itu menuju dapur menemui Bi Narsi dengan kaki pecicilan.


"Bi Narsi oh Bi Narsi!" Nama itu di buat dendang oleh Hani seraya menarik kedua tangan ARTnya untuk berputar bersama.


"Nyonya... Aaargh nanti pusing!" Pekik Bi Narsi sebisa mungkin menahan diri agar tidak berputar bersama majikan rasa temannya itu.


"Hahahaha, Maaf Bi! Aku lagi senang karena sebentar lagi akan punya cucu. Nah... Sebagai tanda syukur ku. Tolong Bibi pesan catering dan kirim ke panti asuhan yang sering aku kunjungi." Hani menyadari kekonyolannya, dia pun akhirnya melepaskan kedua tangan Bi Narsi.


"Rebes-bes, Nyah!" Sahut Bi Narsi jenaka turut bersuka cita akan kabar baik yang sebenarnya sudah lama di nantikan majikannya.


"Kabar pagi yang indah." Kata Hani seraya menaruh bokongnya di kursi makan. Dia berniat akan membuat masakan lezat untuk Naqia konsumsi setelah bangun nanti.