
"Doain aku." Zaki mengecup pucuk kepala Naima. Minta ijin mau mencari pekerjaan. Kali ini, apapun pekerjaan yang ada, Zaki akan menyambutnya dengan ikhlas meskipun itu hanyalah tukang parkir pun.
Naima tersenyum seraya menarik tangan Zaki untuk di genggamnya yang saat ini dia duduk di kursi roda. "Hati-hati dan terimakasih karena kamu tidak meninggalkan ku di saat titik terendah ku," ungkap Naima. Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah, malainkan di
rumah sederhana. Itupun hasil mengontrak.
Zaki mengangguk. Kaki dia tekuk di hadapan kursi medis itu. "Percayalah, aku ada untukmu." Zaki mengelus pipi itu. Mata mereka saling bersibobrok mesra. "Setelah mendapat pekerjaan, aku akan menikahimu. Aku pamit." Zaki kembali mengecup pucuk kepala Naima dan berlalu pergi.
Naima hanya mampu menatap punggung lebar Pria yang dulunya sering di hinanya, dengan mata berkaca-kaca haru.
"Maafkan segala keselahanku," lirihnya.
...****...
"Apa harus, Bang?"
Di dalam mobil, Naqia tidak henti-hentinya protes ke Yuga yang sedang mengemudi menuju kantor almarhum Nugraha.
"Harus Naqia. Aku sudah lama banget lho mengabaikan surat wasiat yang seharusnya sudah kelar di baca dari dulu-dulu, tapi kamu selalu menolaknya dengan berkata nanti-nanti saja. Aku tidak menyuruh mu bekerja sayang, tapi aku hanya ingin karyawan mu tau, kalau wanita yang sering masuk ke kantor aku itu adalah pemilik perusahaan bukan wanita sembarangan apalagi penggoda."
Raut wajah Yuga mengeras di saat kata penggoda terucap. Dia mendengar gosip sialan para karyawan bahwa Naqia itu merayu jebaknya, agar dia mau menikahi Naqia. Damn! Yuga jelas marah istrinya di cap buruk oleh mereka. Dan si pembuat gosip tentunya sudah di PHK olehnya.
"Bang, berhenti!" pekik Naqia tiba tiba. Yuga pun me-rem dadak mobilnya yang di luar sana banyak pedagang kaki lima karena posisi mereka ada di dekat pasar tradisional.
Naqia sebenarnya tidak mendengarkan kicauan suaminya tentang surat wasiat. Dia lebih tertarik ke makanan yang rupa-rupanya enak di santap selama di jalan.
"Eeeeh... mau kemana?" Yuga menahan tangan Naqia yang ingin keluar.
"Hehehe," Naqia tercengir bodoh. " Mau beli itu, itu dan itu." Dia menunjuk pedagang cilok, es cendol dan gerobak bakso yang mangkal asal asalan.
"Naqia!" panggil Yuga. "Jangan ya," lerainya lembut.
"Bukan tidak boleh, sayang. Tapi kita harus jeli dan cermat memilih makanan. Apalagi buat orang hamil seperti kamu." Yuga mengelus perut Naqia. Istrinya masih dalam raut wajah bingung.
"Jadi seorang Ibu itu sudah harus menjaga dan melindungi anaknya sejak dalam kandungan. Dan dengan itu, kamu tidak boleh main beli makanan sesuka hasrat makan kamu. Bukannya aku suudzon ke para penjual di luaran sana, kalau makanan mereka itu tidak bersih atau apalah itu. Tapi aku hanya tidak mau kedua orang tersayang ku kenapa-kenapa."
Yuga menjelaskan secara pelan-pelan. Sungguh... Dia hanya mau melindungi ke-dua orang tersayangnya yang sebenarnya kandungan Naqia itu masih rentang. Bukannya di berita marak beredar penggunaan pewarna non-makanan agar lebih menyala tuh makanan? Contohnya cendol itu sangat wow kinclong warnanya melebihi hijaunya daun pisang yang berumur tua. Bagaimana kalau ada zat berbahaya?
Naqia masih mengerutkan keningnya, bingung. " Tapi itu bersih kok, Bang!" bela Naqia seraya menunjuk ke arah tukang cendol.
"Yakin?" Yuga tersenyum tipis. Istrinya benar-benar naif.
"Yakin banget." kata Naqia percaya.
Ok, karena Naqia butuh bukti maka Yuga terpaksa menunggu sesaat untuk melihat lebih dalam sang penjual dari kaca mobilnya. Dia ingin mencari celah si penjual untuk di jabarkan ke Naqia. Kalau tak selamanya yang bersih itu benar-benar bisa di makan dengan aman.
"Tunggu sesaat ... nah, itu!" Yuga menunjuk ke penjual es cendol. " Dia sehabis menyeka keringatnya dan main usap di kain bajunya tanpa bercuci tangan, dia langsung melayani pelanggan yang baru pesan. Ok, dia memang tidak menyentuh es-nya langsung menggunakan tangan, tapi melalui benda. Tapi lihatlah, dia mengambil sedotannya pakai tangan yang bekas menyeka keringat. Kan sedotan masuk mulut, otomatis kotor dong." Jelas Yuga yang mudah di mengerti Naqia.
"Jalan," titah Naqia cepat. Dia jadi jijik sendiri. Bibirnya masih cemberut. Yuga tersenyum geli melihat tingkah Naqia yang berubah-ubah.
"Sampai rumah nanti, bi Narsi akan membuat makanan apa pun itu khusus buat kamu. Jadi jangan cemberut dong." rayu Yuga menoel ujung hidung Naqia.
"Iya!" Naqia mengangguk dengan senyum manisnya. Dalam hatinya dia amat bersyukur mempunyai suami yang sabar menjelaskan segala sesuatunya.
Mobil pun berjalan kembali. Tapi baru juga melaju, Naqia kembali terpekik.
"Ada apa lagi?" tanya Yuga seraya mengikuti arah pandang Naqia keluar.
" Itu, Mas Zaki bukan?"
"Iya, itu Zaki!" Yuga membenarkan. Di mata mereka, Zaki kini sedang memanggul sekarung beras untuk di naikkan ke mobil pickup.