Stupid Wife

Stupid Wife
Perasaan Naqia



Di perjalanan pulang, di dalam mobil Yuga. Naqia kebanyakan diam membuat Yuga berpikir negatif kalau istrinya itu sedang marah terhadapnya.


"Kamu masih marah?" Tanya Yuga sejenak menoleh ke Naqia dan kembali memperhatikan jalan yang sedang lancar jaya jauh dari kata macet.


"Maafkan aku karena menemui Naima tanpa ijin mu terlebih dahulu, aku hanya berniat menyelesaikan masalah tuduhan Naima agar tidak beranak jauh." Terang Yuga bersungguh sungguh dengan suara amat terdengar lembut penuh kehati-hatian.


Naqia menoleh ke arah wajah Yuga, matanya nampak memerah seperti sedang menahan tangis.


Yuga menyadari itu hingga dia menepikkan mobilnya di tempat aman yang jauh dari kata larangan lalu lintas.


"Kamu menangis? maafkan aku!" pinta Yuga merasa bersalah.


Naqia menggeleng-geleng, dia berkaca-kaca sebenarnya bukan karena marah tapi dia terharu, ternyata ada juga orang yang amat menyayanginya dengan rasa ketulusan hati. Yuga selalu memperlakukannya lembut dan penuh kesabaran akan otak seonsnya.


"Aku hanya merasakan haru!" Seru Naqia dengan mata itu bersibobrok iris hitam pekat Yuga. "Sepeninggalan orang tua ku, ternyata masih ada orang yang mau menyayangi ku."


Yuga masih diam tanpa menjeda, membiarkan Naqia mengeluarkan apa yang ingin di ungkapkan bibir mungil itu, tapi tangan itu menghapus air bening di sudut mata Naqia.


"Apakah aku salah menyimpulkan kalau aku saat ini merasa di cintai? aku tidak mau Bang Yuga di ambil oleh wanita lain, saat ini hanya Bang Yuga yang aku punya. Hidup hampa nan hambarku terasah enyah karena kehadiran Bang Yuga yang berbaik hati memberikan semangat untuk ku di saat aku berada di titik terendah. Jujur...aku tidak suka melihat Bang Yuga dekat dengan Naima tadi, dan apakah keegoisan ku salah yang saat ini aku tidak mau Bang Yuga di ambil orang apalagi itu Naima? Aku tidak mau...aku tidak mau!"


Uneg-uneg Naqia keluar sudah dengan kepala itu terus menggeleng-geleng pelan di saat untaiannya.... aku tidak mau.


Mendengar itu, Yuga tersenyum manis dengan tangan itu reflek menyelipkan anak rambut Naqia ke belakang telinga.


"Kamu cemburu?" Goda Yuga dengan kepala dia dekat kan ke wajah Naqia sehingga jarak hanya sejengkal saja.


Naqia berpikir keras dengan wajah datarnya, mata itu berkedip-kedip menatap wajah suami baik hatinya dengan posisi itu masih amat dekat. Nafas Yuga juga menerpa wajahnya.


"Cemburu? rasanya seperti apa cemburu itu? coba jabarkan ke otak stupid ku." Katanya dengan wajah serius, Naqia tidak bercanda. Dia hanya tidak mau salah prediksi tentang rasa.


Yuga tersenyum lagi dengan tangan itu mencubit manja ujung hidung Naqia, gemas.


"Apakah di dada mu ada rasa sesak melihatku bersama Naima tadi?" Yuga menunjuk dada Naqia. Istrinya itu mengangguk mengakuinya.


"Kata kamu tadi, kamu tidak mau aku di ambil oleh wanita lain?"


"Iya!" sahut Naqia lirih, menarik tangannya untuk menempuh dagu itu dengan mata tak mau lepas dari wajah Yuga yang tersenyum semberinga sedari tadi.


Hati Yuga berbunga-bunga coeg. Dia seperti ada di kebun bunga yang sedang bermekaran indah nan harum yang mampu memancing kupu-kupu berdatangan untuk memproses polinator pada bunga itu, itulah yang di rasakan Yuga saat ini. Sesungguhnya, istrinya itu sudah mencintainya namun tidak bisa mengungkapkan secara lisan, hanya perasaan takut kehilanganlah yang Naqia bisa simpulkan di hatinya yang kepekaan rasa itu sangat minim.


Yuga senang luar biasa sudah mengetahui perasaan istrinya.


"Itulah arti cemburu, dan cemburu itu tandanya cinta. Kamu...." Yuga menangkup ke-dua pipi Naqia. Seperti biasa, Naqia tidak mengelak. " Kamu sudah mencintai ku juga seperti aku mencintaimu, terimakasih!"


Kening, kedua pipi, pokoknya seluruh wajah Naqia sudah lembab dapat kecupan bertubi-tubi dari Yuga.


Naqia sampai memejamkan matanya karena ke-dua sumber penglihatannya juga di kecup Yuga yang belum berhenti.


"ish!" desis Naqia masih di belenggu wajahnya.


"Hahahaha."Yuga tertawa lepas, istrinya itu mendelik bulat-bulat menatapnya dengan bibir mengerucut.


"Lebih manyun lagi." Pinta Yuga gemas. Rasanya, dia ingin memakan madu istrinya yang sudah candu baginya.


"Hehehe, aku tahu Abang mau mudus kan." Naqia tertawa seraya menarik dasi Yuga hingga suaminya itu mau tercekik. Yuga tidak mempermasalahkan penampilannya sudah berantakan, mau di lepas kainnya oleh tangan Naqia pun pasrah dia, boleh pakai bingit.


"Ini jalan raya lho, sayang!" Kata Yuga, ambigu.


"Aku tahu!" sahut Naqia polos, dengan duduknya sudah dia tegakkan. Siap meluncur pulang.


"Kamu mau di sini?" Goda Yuga ambigu lagi. Setiap laki-laki pasti mempunyai otak mesum, Yuga pun sama. Bukan karena perangai pria itu cuek dan dingin seperti gunung Fuji yang di selimuti salju maka tidak bisa mesum. Salah besar! Pria tetap lah pria yang mempunyai hormon testosteron tinggi, begitu pun Yuga yang sudah di buat kepayang oleh Naqia. Istilahnya....Yuga itu macam kulkas rusak, dingin ke orang lain dan akan menghangat ke orang tercintanya, bahkan Yuga siap di jadikan budak oleh Naqia, tapi eits...budak cinta maksudnya.


"Naqia!" Panggil Yuga, istrinya tidak tahu maksudnya 'di sini'. Ok... Tidak masalah, istrinya kan wanita spesial, kekurangan Naqialah yang membuatnya tertarik dari awal hingga berujung mencintai kekurangan itu.


"Eum!" Sahut Naqia seraya berupaya memasang kembali seat beltnya yang terlepas.


"Aku mencintaimu, coba katakan perasaan mu itu ke aku. Sungguh, aku ingin mendengar dua kata manis itu dari bibir mu." Pinta Yuga berharap. Bukan dia lebay seperti anak abege labil yang kalau jatuh cinta berkoar-koar ke pasangan dengan berkata I love you atau semacamnya dan akhirnya berujung putus , tapi...Yuga hanya ingin memanjahkan hati dan telinganya. Biar adem adem gimana gitu.


Naqia menaikkan alisnya, sejurus dia tidak jadi memasang seat belt-nya yang memang belum terkait sempurna, karena suaminya itu menginginkan hal manis maka sebagai istri yang baik dia akan memberikannya.


"Sini mendekat!" pinta Naqia melambai kecil agar wajah Yuga di condongkan ke arahnya.


Yuga menurut patuh.


Dan sekonyong-konyongnya bibir itu bertaut ulah Naqia yang menyosor (teet sensor, bulan puasa)


Lima menit kemudian. Jantung Yuga masih deg deg suer. Menyentuh bibirnya yang masih basah ulah Naqia.


"Apa itu sudah cukup dari kata aku mencintaimu?" Tanya Naqia dengan alis naik turun menggoda suaminya.


Yuga mengangguk sedetik menggeleng.


"Lanjut di rumah, di sini bahaya jalan raya." Yuga tersenyum jumawa, pokoknya hari ini Naqia tidak akan dia lepas walaupun sekedar mau keluar kamar... karantina penyaluran kecebong.