Stupid Wife

Stupid Wife
Menaruh obat ke makanan



Happy reading....


Naqia dan Yuga masih di dalam pabrik yang belum ada aktivitas apapun dari buru kerja, Kompayer besar sana sini berada di potret alami Naqia. Tadi nya lesu, tapi melihat secara langsung harta peninggalan Papa nya yang banyak manfaat nya untuk orang banyak sebagai nafkah buru, Naqia jadi berbinar antusias ingin mengetahui proses pembuatan produk nya.


Yuga, Jelas senang melihat wajah binar itu, Tak henti hentinya Yuga menatap bibir ranum Naqia, ingin rasanya mencecap nya, Namun ia sadar diri, Itu bukan lah sifatnya yang kurang ajar.


" Mesin ini fungsinya untuk apa, Pak Yuga ?"


Tangan Naqia menyentuh sebuah mesin kompayer dengan air muka itu penuh keinginan tahuan nya. Dari dulu 'Bintang nya sudah mengabur' So.. Melihat mesin kompayer aja sudah senang sendiri.


" Kompayer ini untuk packing otomatis dengan sistem sudah di atur dari sini."


Banyak nya tombol yang di tunjuk Yuga membuat dahi Naqia berkerut, berpikir keras mencoba menyerapnya.


" Aku boleh pencet satu ?"


Tanpa menunggu sahutan Yuga, Naqia sudah lebih dahulu menekan tombol yang entah fungsinya apa


" Eits." Naqia terperanjat kaget, Kompayer di hadapan nya telah hidup dengan mesin packing berjalan sendiri, reflek tangan itu berpegangan di lengan Yuga.


Senyum terbit di bibir Yuga dengan mata menatap tangan manis Naqia.


" Kok jalan sendiri ?" Tanya Naqia bodoh.


Yuga terkekeh pelan, dan Naqia baru sadar, tangan nya sudah kurang ajar.


" eh, Maaf. hehe." Naqia cengengesan canggung, kurang enak hati.


" Di gelayuti pun tidak masalah." Lirih Yuga bergumam. Naqia tidak mendengar nya karena perhatian nya termakan oleh mesin kompayer yang menurut Naqia sangat canggih.


" Mesin ini berguna untuk mengemas produk kita, dan di sana mesin yang paling penting, Ah... maksud ku mesin untuk mengelola sawit sawit untuk di jadikan minyak. setelah nya......"


Panjang lebar Yuga menjelaskan nama nama mesin berikut fungsi nya yang berbeda beda ke Naqia.


Naqia sampai mengulang nama nama mesin di hadapan nya agar tidak lupa, Banyak lagi ilmu yang di berikan Yuga kepada nya tentang pabrik nya, ada yang langsung menyerap ke otak nya ada juga yang hanya masuk ke telinga kanan keluar ke telinga kiri.


" Paham Naqia ?"


Naqia berpikir dulu baru menjawab, otak nya masih perlu di dongkrak lagi.


" Belum semua."


" Misalnya ?" Tanya Yuga.


" Contoh nya aku lapar, jadinya otak secuil ku ngambek." Cicit Naqia terlalu jujur. Yuga sempat tertawa kecil. Lucu ! Batin nya di buat terhibur akan blak-blakan Naqia.


Di rumah, waktu sore hari. Zaki sudah menunggu nunggu kepulangan Naqia, pesanan lewat online nya pun sudah sampai di antarkan oleh kurir.


Obat ! Bukan pembangkit gairah melainkan hanya membuat orang yang mengkonsumsi nya akan merasa terbang meracau linglung tidak sadarkan diri apa yang akan di perbuat.


Ya...Zaki telah menimang nimang botol kecil berisi obat tersebut, dan obat itu akan ia hadiahkan kepada Naqia yang sudah tidak bodoh lagi, Zaki merindukan kehangatan tubuh Naqia, Ia masih ingat betul rasa tubuh legit istri bodoh nya itu.


Cuma, Dulu...ia telah di butakan cinta nya ke Mayang. Di butakan juga dengan obsesi mempunyai keluarga sempurna dari segimana pun. Sehingga di matanya, Naqia adalah sampah bumi yang harus di hempaskan dari hidup nya karena kedunguan Naqia.


Tetapi.... Seiring waktu perubahan nya Naqia yang sudah tegas tak mudah di tindas, cengiran bodoh Naqia sudah hilang, wajah kumel pun terlihat cerah segar menusuk penglihatan mata laki laki nya, Dan lebih penting, Naqia secara keseluruhan hampir menuju kata 'Sempurna' saat ini.


Adakah orang paling rendah ? Ya, dan itu adalah Zaki Mahesa, Zaki hanya ingin memetik hasilnya tanpa ingin membuang buang tenaga untuk membimbing Naqia menjadi wanita normal pada umumnya.


Toh, Naqia adalah istri nya, Siapa yang berani melarang nya untuk meminta hak nya sebagai suami. Naqia tidak akan berdaya. Pikir Zaki terlalu yakin dalam rencana busuk nya.


" Bi, Malam ini masak apa untuk istri saya ?"


Zaki menyeringai di belakang punggung Bi Narsi yang lagi menyiapkan bahan masakan. Sengaja ia mendekati area dapur untuk mengelabuhi perhatian Bi Narsi, ia ingin mencampurkan obat khusus untuk Naqia konsumsi.


Bi Narsi sebenarnya malas untuk menjawab, tapi ia masih ada rasa profesional dalam bekerja.


Tumben perhatian. Batin nya Bi Narsi.


" Kok, diam ? Aku bertanya baik lho ! Mana tahu Bibi memasak menu yang Naqia tidak sukai, kan Bibi bisa menggantinya dari sekarang mumpung Naqia belum balik."


Zaki berkelit halus dari tatapan curiga mata tua Bi Narsi. Wajah itu di buat sesantai mungkin.


" Non, Naqia request ikan salmon, Pak."


" Oh, Jangan di pedesin ya, Bi. Naqia tidak suka." Zaki ngasal, ia bahkan tidak tahu Naqia punya alergi terhadap makanan tertentu.


Mencurigakan, Non Naqia kan ratu nya makan pedas. Bi Narsi kembali memasang wajah curiga nya.


" Ya sudah, aku ke depan lagi."


Bi Narsi hanya mengangguk, kembali sibuk dengan pekerjaan nya. Mungkin hanya perasaan saja. Batin nya menepis kecurigaan nya.


Setelah berjibaku dengan alat masak, akhirnya makanan pun jadi. Bi Narsi menaruh tiga macam lauk kesukaan Naqia sudah tersusun di bawah tudung saji.


Kesempatan bagi Zaki ! Bi Narsi meninggalkan dapur menuju kamar nya, mungkin ingin bebersih tubuh.


" Kita akan berpesta malam ini, Naqia !"


Zaki meninggalkan dapur setelah makanan khusus Naqia sudah di beri obat.