
Naqia duduk di sisi Yuga di depan ruang tunggu UGD dengan kepala itu menyender lesu di bahu Yuga seraya menatap punggung tangannya yang di perban kecil karena habis transfusi darah. Kata dokter, Naima kehilangan banyak darah. Kebetulan darahnya sama dengan darah Naima sehingga dia rela menyumbangkan darahnya.
Zaki sendiri sibuk mondar-mandir di hadapan Yuga dan Naqia, menunggu pintu itu terbuka dan memberikan kabar baik tentang kondisi Naima. Dia berharap kedua nyawa itu selamat.
"Kenapa lesu begitu? kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Yuga yang memperhatikan wajah pucat Naqia.
Lantas, pertanyaan Yuga menarik perhatian Zaki. "Apa karena gara-gara darahmu di ambil satu kantong?" Tanya Zaki tidak enak hati.
Naqia menggeleng-geleng. "Ini hanya efek ngantuk." katanya berbohong padahal kepala itu sangat berat sekali.
"Kita pulang!" Seru Yuga. Naqia menggeleng keras kepala.
"Tunggu kabar dokter dulu, boleh?" pintanya. Yuga mengangguk kecil padahal dia tahu Naqia pasti dalam tubuh tidak stabil.
"Pulang saja Naqia." Zaki tidak mau merepotkan Naqia dan Yuga terlalu lama lagi, dengan itu dia menyuruh mereka pergi. "Dan terimakasih banyak bantuan kalian." Tulus Zaki.
"Jangan berterima kasih terus." Sahut Naqia seraya menarik kepalanya yang bersandar di bahu Yuga tapi kembali bersandar lagi yang kian bertambah pusing. "Apa kalian menyadari atau melihat siapa orang yang menambrak Naima yang menggunakan mobil merah itu?" Naqia bertanya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan suara penglihatan matanya. Dia takut salah juga.
"Tidak!" Dua pria di hadapan Naqia menggeleng cepat dengan suara pun sama.
"Apa kamu melihatnya?" Tanya Zaki penasaran.
"Sempat sih, cuma__"Naqia menjeda karena takut salah.
"Cuma?" Yuga tidak sabar. Zaki pun sama.
"Cuma...aku takut salah orang kalau perempuan di balik kaca mobil sedikit gelap itu adalah Mayang." Lanjutnya sedikit ragu dalam berucap, takut-takut salah bicara dan berujung bomerang baginya.
"Mayang?" kaget ulang Zaki menyebut mantan nama istri sirinya dengan tangan itu langsung mengepal.
Yuga hanya diam seraya menatap Naqia yang tidak mungkin istrinya yang notabenenya otak polos itu berbohong.
Naqia mengangguk kecil ke Zaki yang sudah mengeraskan rahangnya.
"Jangan berbuat nekat untuk melakukan kekerasan, semua ada hukumnya."
Zaki terhenti akan suara tegas Yuga yang memperingatkannya. "Tapi, Yuga__"
Ceklek...
Seruan Zaki terhenti akan pintu ruangan terbuka. "Keluarga Ibu Naima?" Panggil sang Dokter perempuan itu.
"Saya Dok!" Sahut Zaki cepat melebihi angin karena sudah tidak sabar menunggu sedari tadi tentang kabar Naima.
"Maaf Pak, dengan terpaksa saya mengatakan kalau janin Ibu Naima tidak bisa di selamatkan karena pandarahan hebat."
Nyesss....Jantung Zaki teramat ngenes sakit, semua syaraf-syarafnya terasa lemah mendengar kenyataan ke-dua kalinya dia kehilangan sosok calon penerusnya.Aku baru merasakan arti kehilangan seperti Naqia di waktu itu. Sesalnya dalam hati seraya menatap wajah Naqia yang amat polos. Sejenak...rasanya, dunia Zaki berhenti di detik itu. Dia baru tahu arti sebuah karma lewat tangan seseorang, kalau tak selamanya karma datang ke orang yang kita sakiti, ada saatnya karma perbuatan kita di masa lampau di balas oleh orang lain bukan orang yang kita aniaya.
"Dan dua kefatalan kecelakaan itu adalah kaki ibu Naima dalam tahap tidak baik-baik atau kata kasarnya... Lumpuh!" Sang Dokter kembali bersuara dengan suara hati-hatinya. Tidak ada respon dari Zaki yang semakin hancur. Sang Dokter pun undur diri.
Naqia dan Yugalah yang menyahut kepamitan Dokter tersebut.
Pasangan suami istri itu menatap iba wajah Zaki yang amat terpukul.
"Mayang!" Geram Zaki dengan tangan itu mengepal erat sekali, ingin rasanya dia men-jab Mayang saat ini juga tapi dia juga ingin melihat Naima terlebih dahulu.
"Sabar ya!" Kata Yuga dalam duduknya yang masih menopang kepala Naqia yang sebenarnya Naqia bertambah pening kepala itu, makanya Naqia tidak banyak bicara. "Biarkan petugas polisi yang bertindak, jangan gegabah!" Warning Yuga. Zaki hanya mengangguk tapi dalam hatinya dia ingin memberi pelajaran ke wanita yang menjadi penyebab kehilangan janinnya.
"Aku akan menjenguk Naima dulu." Ijin Zaki undur diri, dan secepat kilat punggung itu sudah di makan daun pintu.
"Ayo Bang! kita juga jenguk Naima terus pulang." Naqia menarik kepalanya dari sisi bahu Yuga dan berdiri cepat, tapi bruukk..tubuh lemah itu pingsan yang untungnya Yuga begitu sigap menangkap Naqia.
" Naqia!"