Stupid Wife

Stupid Wife
Kecelakaan Naima



Beberapa menit yang lalu, Naima yang mual dan pusing berkeliling mencari keberadaan Zaki dengan kendaraannya, memutuskan untuk berhenti di sebuah cafe.


Namun, Dia tidak sengaja melihat ke tiga orang yang di kenalinya di table sana... yakni Zaki, Naqia dan Yuga. Karena malas bertemu Yuga dan Naqia, akhirnya dia pun hanya memperhatikan dari kejauhan dalam mobilnya karena Yuga itu pernah mengancamnya akan menuntut dirinya ke pengadilan atas nama pencemaran nama baik, bila mana masih mencari gara gara, katanya. Ogah dia di penjara, jadi mungkin dengan cara menjauh sesaat seraya merencanakan sesuatu untuk Naqia terima sebagai balasannya adalah pilihan tepat saat ini.


Tapi di saat Zaki hendak pergi di hadapan Naqia dan Yuga. Dia lekas turun dari dalam mobilnya yang sebelumnya sudah terparkir apik.


"Zaki!" Panggil Naima. Nadanya tersirat ada kelegaan melihat pemuas ranjangnya itu. Mualnya juga seketika hilang, namun hati itu masih saja mengelak kalau dia sebenarnya nyaman berada di sisi Zaki yang pengganguran akut tidak ada gunanya bagi gaya wanita sosialita seperti dirinya, itu lah yang di permasalahkan oleh Naima.


"Naima!" Lirih Zaki dengan mata memicing dari kejauhan yang Naima berdiri di tengah tengah jalan keluar masuk gedung.


"NAIMA! MINGGIR!" Pekik Zaki tiba tiba seraya berlari ke arah Naima yang masih setia berdiri di tengah-tengah jalan. Ada mobil yang melaju kencang ke arah Naima. Dan...


Brakk..


Zaki terlambat. Mobil merah itu sudah menambrak Naima hingga tubuh itu berguling ke aspal. Mata Naima langsung terpejam, gelap tidak sadarkan diri. Zaki tidak memperdulikan siapa yang telah menabrak Naima. Fokusnya hanya tertuju ke tubuh yang tidak berdaya itu. Seluruh tubuh Zaki bergetar ketakutan.


" Astagfirullah!" Pekik Naqia dan Yuga yang melihat itu. Keduanya pun berlari menuju tubuh Naima yang sudah di atas pangkuan Zaki.


"Niama! Bangun! Ku mohon bertahan!" Zaki menepuk pelan pipi Naima dengan perasaan gusar disertai kepanikan.


"Buruan bawah ke rumah sakit, Mas!" Naqia menyadarkan kebodohan Zaki yang malah tidak mengambil tindakan pertolongan pertama.


Tubuh tak berdaya Naima pun di raup masuk kedalam mobil Yuga oleh Zaki di mana dia tidak jijik akan darah Naima yang merembes keluar mengotori kemejanya.


"Ku mohon Yuga, mengebutlah!." Pintanya ke Yuga. Suara Zaki bergetar hebat, apalagi pangkal paha Naima di aliri darah, dia semakin kalut. " Astaga, apakah aku akan kehilangan anak untuk yang kedua kalinya?" Batinnya terenyuh sakit, dia seperti dejavu di saat Naqia pendarahan akan ulahnya.


"Naima akan selamat, Mas! berdoa ya!" Seru Naqia di kabin depan di mana Yuga sudah mengebut menuju rumah sakit dengan tangan itu terus menyalakan klakson mobilnya agar di beri jalan oleh pengguna lain.


"Woi, darurat! Minggir!" Teriakkan hakiki Yuga yang sengaja mencondongkan kepalanya keluar melalui jendela, membuat Naqia terkesiap. Baru menyadari kalau suara tegas Yuga seram pakai banget melebihi suara jahat Zaki di masa lalunya.


"Naima, dengarkan aku...Kamu harus kuat. Aku mencintaimu, Naima! apa kamu dengar? Maafkan aku karena sudah meninggalkan mu satu pekan lebih ini." Zaki berbisik di telinga Naima yang tidak ada respon sama sekali. Dia tidak sadar sudah mengungkapkan isi hatinya.


Bibir itu pun, sesekali mengecup kening Naima.


"Ah Shiitt." Yuga mengeram kesal, di depan lajunya malah lampu merah dengan mobil yang di kendarainya berada di tengah-tengah, mau maju tidak bisa mundur apalagi yang sekat oleh mobil lain.


"Ya Tuhan, selamatkan Naima dan juga janinnya." Doa tulus Naqia tiba-tiba membuat Zaki merakasakan malu luar biasa. Naima itu selama ini sudah banyak menghina Naqia, tapi orang yang di hinanya malah berdoa tulus.


"Terimakasih doa mu, Naqia." Batin Zaki speechless akan kebaikan Naqia yang bodohnya dia baru melihat hati suci mantan istrinya itu.