Stupid Wife

Stupid Wife
Awal Persyaratan



Di sisi Yuga, kaki itu sudah melangkah masuk ke rumah orang tua tunggalnya, rumah besar ini hanya di tinggali dua orang, Mama dan adik perempuannya dan mungkin Art pengganti Bi Narsi, ia memilih tinggal di sebuah apartemen setelah kepergian alamarhuma istri nya.


"Nah, akhirnya kamu datang juga !" Sambut Hani-Mama Yuga di teras itu. Sejurus tangan Yuga segera di tarik ke arah ruang tamu, ada seorang wanita cantik yang duduk anggun di sana.


" Naima ?!" Kaget Yuga dalam hati, tapi wajah itu datar pada sediakalanya.


Naima tersenyum manis, Pujaan hatinya sudah di depan mata, riang nya dalam hati.


" Hai, Pak Yuga, lama tidak jumpa, anda terlalu tega menarik Naqia dari konseling ku !" Naima basa basi menyapa Yuga, pipi itu bersemu sendiri padahal Yuga hanya diam tanpa ekspresi, sangat miskin mimik air muka itu.


Hani di buat heran. " Kalian sudah saling kenal kah ? dan siapa Naqia ?"


"Iya, Nyonya !"


Yuga masih diam, mencoba mengerti keadaan, jadi maksud Mamanya, ia akan di jodohkan bersama Naima ? Oh, tidak, Yuga tidak suka tipe orang yang terlalu frontal menampakkan sisi sukanya terhadap lawannya, Yuga lebih suka tipe wanita yang seperti Naqia yang naif.


"Hanya sebatas urusan formal !" Tepis Yuga sembari menaruh bokongnya ke sofa, memang betul begitu kan ? Hanya sekedar kenal dalam hal konseling semata.


"Oh, konseling ? Siapa__"


" Jadi maksud Mama nyuruh aku ke sini untuk apa ?" Yuga tidak suka basi basi, ia tidak punya banyak waktu, otak nya sedari tadi ada pada Naqia.


Naqia, Naqia, Naqia ! itulah prioritas Yuga sekarang, ia sudah di buat kepayang akan nama itu.


"Kamu itu masih saja becanda, tentu saja Mama ingin membuat kalian dekat, Nona Naima baik lho, Nak ! Tadi siang Nona Naima ini bantuin Mama di supermarket, kartu ATM Mama ketinggalan, eh...di bayarin sama dia, setelahnya kami bertukar cerita dan ternyata dia juga lagi mencari calon pendamping, Bagaimana ?." Hani bercerita kesan baik awal bertemunya bersama Naima. " Dan mungkin jodoh mu sekarang bernama Naima lagi."


Naima tersipu sudah di puji oleh calon mertua, Yuga nampak memperlihat kan wajah dingin nya, Hani menyadari itu, ia rupanya salah ngomong sudah membawa nama Naima-almarhumah.


"Aku tidak suka istri ku di samakan oleh orang lain, nama memang sama, tapi hati dan cara pemikiran itu berbeda-beda, Dan masalah uang, aku akan mengganti nya."


" Tidak usah, Pak Yuga, aku ikhlas kok !" Naima sedikit tersinggung.


"Ikhlas ? kata itu bermakna besar, jadi kalau ikhlas, anda tidak keberatan dong kalau saya menolak keinginan Mama yang ingin membuat kita dekat, Maaf untuk itu, saya tidak mau membuat anda kecewa kedepan nya, anda pasti sudah paham betul sajak hiperbola.. 'Hubungan tidak akan selamanya baik bila mana hubungan itu hanya berdasar paksaan semata', dan saya di sini merasa terpaksa." Tolak Yuga dengan nada lembut bersahabat, jujur....ia bukan sombong, tapi bagaimana pun hati tidak bisa di paksakan.


"Tidak apa apa, saya mengerti kok pak, Saya memang ikhlas menolong Ibu anda tadi, jadi saya tidak berharap apa pun dari anda dan Ibu Hani, lagian ada pepatah mengatakan pun.. Jodoh tidak akan kemana."


Naima berusaha mati matian menahan kekesalan atas penolakan telak dari Yuga. Awas saja ! Batinnya tidak terima.


"Begini lho Yuga, Mama tidak berniat untuk memaksa di sini, mama hanya memperkenalkan kalian, mana tau bisa saling sharing dan berujung nyaman dan..."


"Yugi mana, Ma ?" Yuga mencari adik perempuannya, ia sengaja berkelit untuk mengalihkan pembicaraan.


Sang Mama hanya membuang nafas kasar, ia paham betul, bahwa Yuga tidak akan merubah keputusannya, sampai berbusa pun mulutnya maka tetap saja Yuga setia pada pendiriannya yang tegas.


Naima yang tadi nya merasa akan di bela oleh Hani, jadi down lagi, Hani saja tidak bisa mengendalikan anak nya, bagaimana ia berhasil. Ah... sial. Rutuk nya dalam hati.


" Yugi ada acara party sama teman temannya, dan jangan mengalihkan topik, Mama akan berhenti untuk memaksa mu dekat oleh wanita kenalan Mama, tapi ada syaratnya, yakni....kamu harus membawa calon mantu baru untuk Mama, terserah pilihan kamu modelnya kayak gimana, mama pasti akan setuju saja, mau itu animasi Dora kek, mamanya sincang kek, atau Opa dari animasi kembar botak itu, yang penting bisa memberi cucu untuk Mama."


Yuga mengangguk jumawa, akhirnya Mamanya mengalah juga, bukan apa apa... ini itu pertemuan yang ke lima belas wanita.


Naima ? wajah itu semakin kesal kecewa.


"Eh...Mama belum selesai !"


Yuga tidak jadi berdiri.


" Waktu mu hanya tiga bulan paling lamanya, tepat di hari ulang tahun Mama, kamu sudah harus memperkenalkan calon mu ke Mama, kalau gagal maka kamu harus pasrah di jodohkan oleh Mama, siapa pun wanita pilihan Mama, deal ?!"


"Deal !" Yuga menjawab spontan tanpa sadar, sejurus ia menggigit pelan lidahnya. Bagaimana kalau ia gagal, alamak... Naqia bagaimana, tidak mudah baginya membujuk Naqia untuk menceraikan Zaki karena ingin membalas dendam, bila bercerai pun, ia belum tentu bisa meluluhkan hati Naqia yang sudah dingin karena trauma kepada hal berbau rumah tangga. Yuga mendadak pening di buat kekerasan Mamanya yang ingin sekali mempunyai cucu.


" Hanya Zaki yang bisa membantu ku, aku akan membujuk Zaki untuk tidak melepaskan Naqia sebagai istri nya dalam waktu tiga bulan paling lamanya, Kamu harus membantu ku, Zaki, Harus !" Naima menyeringai licik dalam hati, perasaannya merasa ge'er, kalau Hani akan menunjuk dirinya sebagai calon mantu nya nanti, yang bila mana Yuga gagal membawa calonnya, dan ia yakin....Yuga menargetkan Naqia sebagai calonnya yang notabenenya masih istri orang, Bodoh ! ledek nya ke Yuga dalam hati.


Dan Naima pun akan mati matian membuat pencitraan baik di depan orang tua tunggal Yuga, toh...dari tiga hari lalu, ia sudah menargetkan Hani untuk mengambil hati orang tua itu.