Stupid Wife

Stupid Wife
Menolak Kesepakatan Bodoh



Brakk...


Sampai di apartemen, Yuga di buat kaget oleh Naqia yang membuka pintu secara kasar, Naqia terlihat kacau balau, wajahnya ketakutan membuat Yuga mendadak cemas, rapat virtualnya segera Yuga hentikan, layar laptopnya ia tutup rapat-rapat dan mengambil minum untuk Naqia yang masih berdiri getar, di depan daun pintu utama itu.


"Minum air ini dulu!" Sodor Yuga, Naqia meminumnya dalam tangan bergetar.


"Pak, di_dia, dia da_tang!" Naqia terbata-bata.


"Atur dahulu nafas mu, ayo sini!" Dengan lembut, Yuga menuntun tangan Naqia ke arah sofa, menekan pelan ke-dua pundak Naqia agar mau duduk.


Keringat segede butiran jagung menetes ke leher putih Naqia, Yuga melihat itu, tapi tidak mau lancang untuk menyekanya.


"Ada apa,eum? berceritalah!" Lembut Yuga bertanya.


"Mas Zaki, tadi dia ingin memperkosa ku lagi di gudang taman, dia__ a_aku takut, hiks_hiks!" saking takutnya, Naqia sudah tidak sadar menangis dengan kaki ia tekuk naik ke sofa, dan memeluk lututnya, sumpah...ia merasa ketakutan, Zaki ibaratkan iblisnya raja iblis.


Rahang Yuga mengeras mendengar itu, tangannya mengepal kuat-kuat, Zaki memang tidak ada jera-nya, memang harus di beri kuburan atau hotel prodeo, pilihannya.


"Naqia dengarkan aku baik-baik! Zaki tidak akan jera sampai kapanpun itu, kamu butuh penjagaan!" Keambiguan pak pengacara telah keluar.


"Pak Yuga sudah ada menjaga ku selama ini!" Polos Naqia.


"Tapi hanya bisa sedikit, belum berhak seutuhnya."


"Apa maksud, anda? aku tidak mengerti." Naqia menghapus air matanya, menatap tanya wajah Yuga di sisi kanannya.


"Maksudku, Zaki pasti akan semena-mena begitu saja, karena menganggap kamu sebagai jandanya tanpa adanya perlindungan secara hukum dan agama atau bisa di bilang tidak mempunyai suami, dan jalan satu-satunya kita harus menikah, Zaki pasti tidak akan menggangu mu lagi."


Bisa di bilang, Yuga si cerdik kancil ini memanfaatkan waktu tepat, tapi eh... jangan bilang mencuri kesempatan dalam kesempitan ya, Yuga mengelak coeg! Authornya ingin mengetuk kepala Yuga (Ck, sama saja woi)


"Kalau begitu, ayo menikah, aku mau! yang penting tidak di ganggu lagi oleh Mas Zaki."


Tanpa berpikir yang lainnya lagi, Naqia langsung setuju, ia ketakutan dengan mata jahat Zaki yang seolah-olah siap menelannya hidup-hidup.


"Tapi menikah dengan kata lain hanya sebagai keuntungan bersama, Pak Yuga! bisa di bilang kesepakatan bersama semata saja." Lanjut Naqia.


Yuga terdiam, mencerna, senyum senangnya luntur.


"Keuntungan bersama? Apa maksudmu?" Yuga benar-benar bingung.


"Maksudku, kita menikah hanya karena lari dari masalah, aku lari dari kegilaan Mas Zaki yang tidak pernah mau berubah kelakuannya, anda terbebas dari perjodohan anda bersama Nona Naima, seperti yang anda inginkan." Jelas Naqia.


"Pernikahan bukan permainan, kamu kebanyakan nonton film atau baca novel-novel halu yang mengandakan tanda tangan kontrak."


Yuga tidak setuju, enak saja menikah tanpa adanya Naqia ingin berusaha membangun mahligai bersama, big No No Ya! Boleh nggak sih mencium pipi Naqia? Kok Yuga geregetan sendiri, tapi sabar...


"Naqia!" Yuga meraih tangan itu, menggenggamnya lembut, Naqia tidak menolaknya.


"kita sudah dewasa, kita sebagai manusia tidak boleh menyerah dalam kehidupan, roda itu berputar, begitu pun kehidupan, kadang di atas atau di bawah, kata kiasan itu memiliki arti bertangkai, kadang kita sukses dalam hal rejeki, begitu pun sebaliknya, dan untuk kebahagiaan... kemarin hari, mungkin kita dalam keterpurukan, tapi hari kedepannya, kita mungkin saja sukses mencapai kebahagiaan itu."


Naqia mencernanya.


"Dalam poros kehidupan yang berputar ini, kita tidak boleh ke masa lalu, tidak boleh juga berhenti di tengah-tengah poros itu, melainkan kita harus maju terus, entah di depan sana ada kebahagiaan atau kesengsaraan yang menantinya, intinya kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dalam takdir, tapi nasib...kita bisa mengubahnya sendiri dengan cara berusaha keras menciptakan apa yang kita mau, jangan tidur terus Naqia, bangunlah dari mimpi bayangan buruk Zaki, ciptakan kebahagiaan mu, buktikan ke Zaki kalau kamu bisa bahagia, buktikan ke Zaki kalau kamu tidak pernah takut oleh apapun lagi."


Saking gemasnya akan pikiran Naqia yang tidak mau menjalankan hidup bahagianya, Yuga sampai mengguncang-guncang kedua bahu Naqia layaknya macam boneka rusak kehabisan baterai, mencoba menyadarkan Naqia.


"Aku akan mencobanya, bimbing aku memahami kebahagiaan itu seperti apa? Aku tidak tahu artinya kebahagiaan dalam hidup, yang aku tau hanya penderitaan!" Katanya mengerti semua penjabaran Yuga yang penuh kata hiperbola itu.


Kini, senyum manis Yuga terlukis lagi, akhirnya.. Naqia mau di ajak maju bersama.


"Dengan senang hati, aku tidak akan memaksamu secara menggebu untuk berjalan di sisi ku, tangan ini akan setia bersama mu, di saat kamu jatuh, tangan ini akan menarik mu untuk berdiri dan berjalan lagi di sisi ku dengan kata kesabaran."


Naqia hanya diam, entah benar atau salah keputusannya ini untuk menikah lagi, yang penting satu...bebas dari mata jahat Zaki.