Stupid Wife

Stupid Wife
Tinggal Di Rumah Naqia



Sebelum tidur, Bi Narsi menelpon Yuga terlebih dahulu, melaporkan segala perbuatan Zaki hari ini, Yuga yang mendapat kabar itu, berpikir keras.


Bagaimana caranya untuk melindungi Naqia lebih siaga lagi ? Bi Narsi sudah tua, tidak selamanya selalu berhasil, jangan kan orang tua, orang yang masih muda pun kadang kala mudah kecolongan dalam hal apapun, bila mana kejahatan sudah terencana dalam niat nan otak, pasti akan ada celah untuk orang jahat itu.


" Apakah aku harus tinggal di sana saja ? Tapi alasan nya apa untuk mendapat ijin Naqia ? Tidak mungkin aku meminta gamblang begitu saja."


Yuga mondar mandir sendiri di balkon nya seraya memikirkan alasan yang tepat untuk bisa tinggal di rumah Naqia.


Sementara Zaki pun telah mondar mandir di dalam kamar nya, Zaki mendumel tidak jelas, mengacak-acak rambut nya sendiri, kesal.


" Arrgh, harus nya aku tuh senang-senang malam ini bersama Naqia."


Zaki mendengus kesal, ia menyalahkan Bi Narsi yang ikut makan, makanan racikan khusus nya.


" Sialan amat sih punya pembantu menyebalkan seperti Bi Narsi."


Zaki membanting tubuhnya naik ke kasur yang terasa dingin hampa itu, Mencoba memejamkan matanya tetapi tidak bisa, suara rintihan sakit Naqia di kala ia menggagahi istrinya masih memenuhi telinganya, Bagi Zaki... Suara rintihan itu sangat menggairahkan libinonya.


" Naqia lagi Naqia lagi, Kenapa begini ? kamu membuat ku gila, Naqia ! Dulu aku begitu jijik hanya melihat cengiran bodoh mu, Tapi sekarang kamu sudah seperti Cinderella yang patut untuk di miliki."


Zaki mendumel, beranjak kasar dari kasur nya dan berlalu masuk ke kamar mandi.


"Pokoknya aku harus mendapatkan lagi kenikmatan tubuh mu, bagaimana pun caranya."


Dan sepanjang malam itu, Zaki hanya mampu menghabiskan waktu nya di dalam kamar mandi, dengan Tante Lux bin sabun bersamanya, seraya otak kotor nya membahayakan Naqia sebagai fantasi liarnya.


***


Matahari pun terbit di ufuk timur, Siang hari begitu cerah, Naqia menggeliat kecil dari tempat tidurnya yang kebetulan hari ini adalah hari libur, sengaja bangun siang sebagai pelipur hari kemarin yang begitu padat jadwal pelajaran yang di terapkan Yuga kepadanya.


"Lelah sekali !" Lesunya yang malas-malasan untuk bangun dari kasurnya.


Ketika hendak kembali memejamkan matanya, ketukan pintu kamar terdengar beriringan suara Bi Narsi yang bersuara kecil memanggil namanya.


Ceklek


"Eh, Maaf, Non. Bibi ganggu ya ?"


Naqia menggeleng dengan mata itu masih terlihat ngantuk, mulutnya pun menguap melengkapi wajah bantalnya yang benar adanya dia masih mengantuk.


" Ada apa, Bi ?"


" Itu, Non. Pak Yuga ada di ruang tamu, ingin bertemu dengan Non Naqia, mau minta tolong katanya."


Naqia masih belum konek, Mata ngantuk nya membuatnya tidak fokus, sehingga Bi Narsi sampai dua kali mengulang perkataannya.


Setelah otaknya sudah tersambung dengan kabel alam sadarnya, Naqia pun masuk ke dalam kamar nya untuk segera bebersih tubuh.


Zaki yang tidak sengaja mendengar itu dari kejauhan, segera saja menghampiri keberadaan Yuga, ia ingin bertindak tegas ke laki laki itu agar sadar diri kalau Naqia adalah wanita bersuami, dan suaminya itu adalah dirinya-Zaki Mahesa.


" Ehem," Zaki berdehem, membuat Yuga mendongak ke arahnya.


Zaki yang tadinya ingin langsung menyindir Yuga, jadi tertahan melihat ada koper di sisi Yuga.


"Mulai saat ini aku akan tinggal di sini." Sahut Yuga santai, padahal belum tentu ia dapat ijin dari Naqia.


"What ?" Air muka Zaki terkejut, Tentu saja ia tidak setuju.


"Kamu pikir ini hotel ?"


"Kamu tidak berhak melarang ku__"


"Aku suami Naqia di sini, jadi tentu aku berhak mengusir mu dari rumah ini, paham ?" Zaki menahan emosi.


"Tidak dan tidak mau paham !" Begitulah seorang Yuga Pratama, menyebalkan untuk di jadikan lawan. Zaki sampai ingin menonjok wajah datar Yuga, tetapi derap langkah Naqia sudah terdengar dari arah belakang.


Zaki dan Yuga pun kompak untuk melihat sang empu derap langkah yang semakin mendekat.


"Selamat Pagi__eh Siang, Pak Yuga."


Naqia main duduk di sofa dengan anggun tanpa menyapa suami biadabnya, matanya hanya tertuju ke Yuga, Zaki semakin meradang dalam hati, dengan kasar pun ia main duduk di antara mereka yang saat ini posisi Naqia ada di tengah-tengah namun jarak memisahkan.


"Wah, Pak Yuga mau ke mana ? Kon bawah koper ? mau keluar negeri ya ?" cerca Naqia seraya tersenyum lembut, dua laki laki di hadapan Naqia kompak tidak berkedip.


"Yuga minta perang ke tiga, awas saja Naqia kalau sampai mengijinkan Yuga tinggal di sini." Batin Zaki, ia tidak mau rencananya gagal untuk kembali 'menikmati' Naqia, Tidak ada Yuga saja ia susah merayu atau memaksa Naqia lagi yang sudah menjadi pembangkang menyebalkan belakangan ini, Alamak Gatot lagi nanti, tapi tidak ! Zaki belum menyerah untuk mendapatkan Naqia.


"Bukan, Naqia. Tapi aku mau minta izin untuk tinggal di rumah mu untuk sementara waktu, Rumah ku dalam rangka di renovasi, bagaimana, boleh ?"


"Tidak boleh, rumah di renovasi bukan alasan tepat untuk nebeng di sini, noh...di luar sana ada banyak apartemen atau hotel, kalau tidak mampu menyewa, di kolong jembatan masih kosong untuk di tempati." Sahut Zaki sinis.


Naqia seketika menoleh dengan netra memicing.


"Maaf, Pak Yuga, anggap saja tadi ada suara kentut lewat," Zaki memutar matanya kesal, suara nya hanya di harga samakan dengan kentut, Damn ! umpat nya dalam hati.


"Tentu saja boleh, sangat boleh karena aku suka ada orang baik di sekeliling ku."


Orang baik ? Naqia menyindir keras Zaki agar mengartikan makna orang baik itu seperti apa.


"Tidak ada orang baik di dunia ini, Naqia, asal kamu tahu aja, Yuga di sini pasti ada niat buruknya, percaya deh." Cicit Zaki ingin meyakinkan Naqia, seperti biasa...si datar kaku Yuga hanya diam, suaranya sangat mahal, biarkan Naqia yang memutuskan, ia hanya pasrah, niat nya baik kok tanpa pamrih, ia benar-benar tulus menjaga Naqia dari kelicikan Zaki yang 'pasti' Zaki bertahan diri di rumah ini karena hanya perubahan Naqia semata, tidak tulus.


Tapi.... kalau ada embel-embel hadiah yakni cinta Naqia terpatri untuknya, mana mau menolak, auto Yuga merasa jumawa, biarkan ia di cap 'pebinor' oleh Zaki atau pun orang lain di luaran sana, Toh Zaki sudah pernah menyia-nyiakan istri macam Naqia.


"Kalau begitu, Mas di sini juga pasti ada niat buruk dong." tandas Naqia sangat mengena sindir Zaki, ucapan nya malah berbalik menyerang nya.


Yuga menyunggingkan senyum miringnya, meledek Zaki.


Damn it !!! Zaki semakin kesal melihat senyum ledek Yuga yang benar benar menabuh genderang peperangan dengan-nya, oke ! Siapa takut !


" Jadi Naqia ?" Tanya Yuga.


"Tentu boleh, dengan senang hati, anggap saja rumah ini adalah rumah anda juga, mau berapa lama pun terserah pak Yuga mau tinggal di sini, mari...aku antar anda kekamar tamu."


Rasa kesal Zaki semakin menjadi-jadi, wajah ia usap kasar setelah kepergian Naqia yang ingin mengantar Yuga ke kamar tamu.


"Kamu keterlaluan Naqia, Dasar istri durhaka, pendosa."