Stupid Wife

Stupid Wife
Badai Berujung Kenikmatan II



Yuga dan Naqia sampai di teras homestay yang amat sepi, ke-duanya sudah basah kuyup, bahkan bibir Naqia menggigil hebat yang sudah pucat.


Yuga yang melihat itu jadi kasihan dan merasa bersalah, dia pun sebenarnya kedinginan.


"Dingin ya? Maaf ya?"


"eum, tapi kenapa pak Yuga meminta maaf, anda tidak salah bukan?" Naqia memaksakan bibirnya tersenyum. Yuga membalas senyum itu seraya lebih erat menggenggam tangan istrinya di hadapan pintu yang di ketuknya.


Sejurus rumah yang di ketuk Yuga sedari tadi telah terbuka, menampilkan sepasang suami istri yang sudah tua beruban.


"Malam, Apa di sini masih ada kamar kosong, Pak, Bu?" Yuga segera saja to the point, ia tidak tega melihat Naqia lama-lama berdiri kedinginan.


"Ada, Tapi hanya satu kamar, Nak!" Sahut sang bapak tua, dengan menekan satu kamar, Ambigu. Sang bapak tidak mau tempatnya menjadi ternodai karena membiarkan dua insan yang bukan muhrimnya ada di ruangan yang sama, pikirnya orang kota itu pendosa.


"Kami suami istri," Yuga tentu saja paham ke ambiguan penuh selidik sang bapak.


"Masuk saja, Nak! Kami percaya." Sang ibu yang tadinya diam, akhirnya tidak neko-neko, karena melihat keadaan Naqia yang sudah menggigil.


Yuga dan Naqia akhirnya di antar ke satu kamar oleh wanita paruh baya itu.


"Tapi maaf lho, kami tidak punya pakaian ganti untuk kalian, Hanya selimut inilah, tidak apa apa kan? dan ah...ada dua sarung untuk kalian gunakan sesaat dari pada pakai baju basah sampai pagi." Sang Ibu tersenyum ramah, menampilkan gigi ompongnya.


"Terimakasih, Bu! ini sudah lebih dari cukup." Yuga menerimanya dengan cepat di depan pintu kamar yang belum di buka, Naqia hanya diam kedinginan dengan tangan itu menyilang mendekap dadanya sendiri.


"Selamat beristirahat, semoga nyenyak ya, dan mungkin hujan tidak akan redah sampai pagi, musim hujan enak pelukan" Goda-nya, Yuga tersenyum harap pakai mau di peluk, Naqia yang mendengar godaan itu, terbatuk kecil.


Sang empu rumah pun beranjak, tidak mau lebih lama menahan orang yang sedang kedinginan.


"Ayo, ganti baju mu di dalam kamar mandi, biar aku belakangan saja." Yuga memberi satu sarung bercorak batik coklat ke Naqia sebagai baju tidurnya malam ini, mereka sudah di dalam kamar, Naqia yang memang sudah kedinginan, tanpa suara menerima sarung itu, lebih cepat lebih baik kan? bodo amat hanya sarung semata.


Nyatanya, Yuga tidak menunggu kamar mandi lagi yang di gunakan Naqia, ia juga kedinginan, dengan itu, Yuga segera saja meloloskan seluruh benang nya di kamar itu, dan hanya memakai sarung saat ini, sarung itu di ikat kenceng di bagian pinggang agar ikan koi nya tidak mencelat keluar jaring, dada bidang serta perut kotak-kotaknya ia ekspos begitu saja karena memang tidak punya baju.


Yuga duduk di sisi kasur, menunggu Naqia keluar dari kamar.


Ceklek


Dan... Glek...Glek...Glek...


Jakung Yuga naik turun, istrinya sangat menggoda di hadapannya ini, Rambut basah meneteskan air kecil dari leher turun ke dada itu yang hanya di balut sarung tanpa ada pengaman kain kacamata, alhasil dua biji boba itu menonjol terlihat dong... Duh, pengin minum tutu. Yuga berfantasi liar, tutu sapi di peruntukkan bagi bayi kecil, tapi tutu indukan sapi berkaki dua, hanya di peruntukkan bagi bayi berjenggot.


Duh... teori nakal Yuga membuat tangan otor gatal pengin nabok!


"Aku mau tidur, dingin!" Wajah Naqia bersemu merah, malu tingkat dewi di perhatikan oleh Yuga, apalagi melihat dada nan perut Yuga yang polos punya, bulu betis Yuga pun menjadi sasaran mata Naqia.


"Ah, i_iya!" Sebatas kata itu saja Yuga jadi kelu, Pikiran nakalnya sudah melalang buana "Aku juga dingin, tidak apakan kita tidur dalam satu selimut." Mata Yuga menuding selimut di kasur itu yang memang hanya satu.


Yuga sampai terkekeh kecil, membuat Naqia menjungkitkan alisnya, ia kan tidak bercanda.


"Ada yang lucu?" Cemberutnya bertanya, Naqia masih enggan untuk menyusul Yuga yang sudah menarik selimut di kasur itu.


"Tidak akan, tenang saja, kecuali kamu sendiri yang mengijinkannya." Yuga meyakinkan Naqia lewat wajah seriusnya.


"Janji ya, Awas lho melanggar, aku tidak akan mau lagi berteman dan mengenal nama pak Yuga." Ancamnya, Naqia pun duduk ragu-ragu di sisi kasur sebelah Yuga, kasurnya seimprit upil pula. beehh.. Untung bagi Yuga, buntungnya untuk Naqia yang masih tahu arti kata trauma di sentuh tak berperasaan oleh laki-laki.


Tapi kalau kamu yang mulai, janjinya di umpetin lagi.


"Pak! Janji ya?" Ulang Naqia membuat Yuga terhentak dari suara batinya.


"Iya, janji." Padat nan jelas suara itu membuat Naqia tersenyum lega, percaya.


Naqia masuk ke dalam selimut dan berbaring, memberi punggung eksposnya untuk Yuga.


Yeakh..Punggung dapatnya, semoga ada gerumuh hebat lagi di badai hujan di luaran sana.


Yuga berkomat-kamit mantra tidak jelas, berharap Naqia kaget akan suara alam itu dan berbalik memeluknya, semoga...semoga....dan semoga saja!


Sejurus..


geudamdum..... (Halu saja itu suara guruh ya readers, hahah)


Apa yang terjadi?


Tentu Naqia berbalik brutal, dan cepat-cepat masuk ke dalam pelukan Yuga, lebih tepatnya... Naqia lah yang memeluk brutal tubuh besar Yuga yang terpekik riang dalam hati.


Suami soleh mah, doanya pasti di jabah... begini saja nikmat banget, kenyal-kenyal gimana gitu.


"Jangan di lepas ya, Nanti suara seram itu bisa kembali lagi."


Naqia yang polos-polos stupid...main percaya saja kemodusan Yuga, tubuhnya sudah tidak ada jarak lagi di antara mereka, bahkan... Naqia bisa mendengar degup jantung Yuga yang bekerja dua kali memompa itu.


Badai yang indah! Yuga tersenyum tipis nan mesum di atas kepala Naqia yang bersembunyi di dadanya dengan lengan bicepnya itu jadi bantalan wanitanya.


*****


spoiler the next chapter....


Bocil di larang baca ya.. warning keras itu kalau ada kata bocilnya🙈 paham kan... karena otornya mau gendeng pamungkas dulu, tunggu Yo...