
" Brian mampir rumah dulu ya aku mau ganti baju " pinta roseta menutup helmnya kembali
" Oke ros " jawab brian menambah kecepatan laju motornya membuat roseta berpegang erat, Brian pun tersenyum melirik kearah pegangan roseta " Pegangan yang kecang ya ros, biar gak jatuh " jawab Brian terkekeh
~ Blush
Brian ini apa-apaan sih bikin malu aja
Brian melajukan kendaraan di tengah kepadatan kota sekitar 20 menit mereka akhirnya sampai di rumah roseta
" Masuk dulu, dan tunggu disini dulu ya " ucap roseta menunjuk ke arah kursi
" Hem " jawab brian melihat roseta berlalu meninggalkannya di ruang tamu, brian mengitari ruang tamu melihat album foto roseta dan keluarga yang tertata rapi di dinding, lihatnya lekat anak kecil di foto tersebut seraya tersenyum
Ternyata Roseta dari dulu memang cantik, dari kecil sudah mengemaskan seperti ini
Di pandangi terus foto tersebut sampai suara langkah kaki membuyarkan pandangannya, brianpun segera berbalik
" Yuk brian, gue udah siap " ucap roseta merapikan rambutnya, brian memandang lama roseta terpesona akan kecantikan roseta " Ayo brian ntar gue telat! " pekik roseta membuyarkan lamunan brian
" Oh i-iya iya, ayo! " ucap brian mengalihkan pandangannya karena dia merasa malu menatap roseta seperti itu
Mereka pun berangkat ke kampus di sepanjang perjalanan roseta terus saya berbicara tanpa henti.
----Di Rumah Sakit----
Lebih baik aku telfon Edi terlebih dahulu menanyakan perihal Mia
Pak Wijaya bergegas mengambil ponselnya dan menekan nomor Edi
(" Hallo Ed? bagaimana kelanjutannya? ") tanya pak wijaya
(" Iya tuan, ternyata firasat tuan benar adanya ") jawab Edi
(" Baiklah Ed kita ikuti saja permainan Mia, jangan sampai dia curiga, ikuti rencana yang kita susun, dan kau cepatlah kumpulkan bukti lainnya, bukti yang memberatkan Mia nantinya ") perintah Pak Wijaya
(" Baik tuan ") jawab Edi singkat menandakan pembicaraan lewat telfon telah berakhir
Sial ! Kurang ajar kamu Mia sudah kuturuti semua maumu tapi begini balasanmu batin Pak Wijaya seraya mengengam erat ponselnya
~ceklek (suara pintu terbuka)
" Hai mas, bagaimana kabarmu? " sapa wanita itu, Pak Wijaya pun segera menoleh karena dia tau siapa orang tersebut dan benar saja dia adalah Mia, dipandangnya wanita tersebut " Ini aku bawain buah-buahan, maaf ya mas kemarin aku gak bisa nungguin kamu, soalnya aku ada urusan penting " jawab Mia tersenyum, Pak Wijaya pun tahu senyuman itu hanyalah senyuman palsu
Dasar wanita ular ! aku harus bisa mengelabuhinya seolah-olah aku tak tahu apa rencananya ! batin Pak Wijaya tersenyum ke arah Mia
" Kenapa senyum-senyum mas? Kamu gak marah kan mas kemarin aku gak bisa nemenin kamu disini? " tanya Mia mengengam tangan Pak Wijaya
" Nggak aku nggak marah Mia, aku ngerti kok kamu sibuk, aku juga langsung dibawa kemari sama asep jadi nggak apa-apa " jawab Pak Wijaya dengan senyum seperti biasanya ketika dia bersama Mia
" Yaudah aku kupasin buah ya " ucap Mia seraya mengambil buah dan pisau untuk mengupas buah " Mau buah apa mas? Apel, Pear, atau Jeruk? " tanya Mia
Mia pun mengupaskan buah yang diinginkan Pak Wijaya, diapun tersenyum ke arah Pak Wijaya, senyum yang penuh akan arti
Permainan akan dimulai Wijaya jadi siapkan dirimu batin Mia yang masih mengupaskan buah
Kau lihat saja Mia, aku turuti apa permainanmu, justru kamulah yang nanti akhirnya terjebak akan jebakanmu sendiri batin Pak Wijaya yang tersenyum ke arah Mia
" Mia aku haus " jawab Pak Wijaya sedikit merengek kepada Mia
" Oh iya, ini aku tadi bawa teh dari rumah mas, spesiiial buat suami aku tercinta aku sendiri yang buat " Jawab Mia menuangkan teh kedalam gelas dan meyodorkan ke Pak Wijaya " Di minum ya mas " ucap Mia lagi
" Iya, terimakasih ya " jawab Pak Wijaya
Minum lah minum sampai habis dan segeralah menyusul mantan istrimu itu batin Mia tersenyum sinis namun segera dirubahnya menjadi senyum yang manis, Ya memang benar Mia memang pandai berakting di depan Pak Wijaya layaknya seorang Artis profesional, tanpa disadari Pak Wijaya tengah menyiapkan rencana untuk Mia, setelah dia memastikan Pak Wijaya meminum diapun bergegas bangun menuju kamar mandi
Kau fikir aku bodoh Mia? Tunggulah tanggal mainnya kau akan memakan sendiri jebakanmu batin Pak Wijaya,
Sebenarnya Pak Wijaya tidak meminum teh tersebut namun menumpahkannya di tanaman samping bed, segera dia meletakkan gelas kosong kembali ke meja, Mia pun kembali dan mendapati gelas telah kosong
Bagus tinggal menunggu reaksinya, lebih baik aku pergi dulu daripada nanti dia meninggal di depanku batin Mia yang membayangkan apa yang difikirannya
" Mas aku pulang dulu ya, aku ada urusan setelah ini " ucap Mia meminta ijin Pak Wijaya
" Acara gosip-gosip itu kah? " tanya Pak Wijaya
" Bukan gosip-gosip mas, tapi arisan dan arisannya pun dengan orang yang berkelas " tutur Mia membenarkan
" Sama saja, lebih baik kamu disini saya menemani aku ya " pinta Pak Wijaya
Mia pun mutar bola matanya " Haduh mas nggak bisa, aku udah terlanjur janji untuk datang, mungkin saja nanti aku yang menang undian, lumayan kan " jawab Mia " Lebih baik kamu disini istirahat kalau sepi gak ada orang kan kamu lebih enak istirahatnya " jawab Mia meyakinkan Pak wijaya
Pak Wijaya yang tau akan kebiasaan Mia akhirnya pun menyetujui
Biarlah wanita ini pergi jadi aku bisa menyuruh edi untuk laborat teh tersebut batin Pak Wijaya dan menjawab Mia dengan anggukan.
Mia pun berdiri dan bergegas meninggalkan Pak Wijaya
Nikmatilah kematianmu yang menyedihkan batin Mia
Pak Wijaya pun mengambil ponselnya
(" Hallo Ed, datanglah ke rumah sakit ") Pinta Pak Wijaya mematikan telfon tanpa jawaban dari Edi
Pak Wijaya merasa menyesal dengan keputusan yang dia ambil selama 1 tahun ini, Selama ini Pak Wijaya menuruti semua kemauan Mia mulai dari meminta barang-barang branded sampai permintaan yang membuat anak-anaknya terasa jauh darinya, hatinya sakit jika mengingat tersebut untung putri-putrinya adalah putri yang baik mereka memaafkan sikapnya selama ini
Sebelum Pak Wijaya dilarikan di rumah sakit, Pak Wijaya melihat sendiri perselingkuhan yang dilakukan Mia dan Rendi rekan bisnisnya, memang dia memerintahkan Edi untuk mengikuti Mia dan menjadi orang kepercayaan Mia agar Pak Wijaya tau apa saja yang direncanakan Bu Mia karena sejatinya Pak Wijaya sudah mulai curiga ketika Mia sering pergi lama bahkan pernah sampai 1 minggu dengan alasan pergi bersama teman-temannya. Namun ketika temannya di hubungi Pak Wijaya mereka menjawab tak tahu menahu keberadaan Mia, dan pada hari itu dia mendengar sendiri melalui alat penyadap yang di letakan di tas Mia bahwa dia hanya ingin menguras habis harta Pak Wijaya dan menikah dengan Rendi seketika saat itu pak Wijaya syok akhirnya karena tidak menyangka Mia berfikir sampai seperti itu dikiranya selama ini Mia mencintainya walaupun umurnya terbilang muda dan hampir sebaya dengan putrinya Nindy dan hanya mang asep yang dapat mengantarkan Pak Wijaya
Sebelumnya Mang Asep juga menelfon nyonyanya tersebut namun tanggapan Mia justru hanya menyuruh Mang Asep ke rumah sakit dan dia tidak bisa mengurusi Pak Wijaya karena sibuk, tentunya Pak Wijaya tau apa yang dimaksudkan Mia yaitu sibuk dengan Rendi, setelah itupun Mang Asep disuruh segera pulang oleh Mia dan bilang bahwa nanti yang menunggu biar Nindy dan Roseta saja
Sungguh pilu hati Pak Wijaya dia harus segera menceraikan Mia karena itu dia mengumpulkan bukti perselingkuhannya dan percobaan pembunuhan yang Mia rencanakan.