ROSETA

ROSETA
Miss but Sad



"Daddy."


Bryna semakin melebarkan langkahnya lagi, jarak dari pintu samping menuju sofa tidaklah teramat jauh namun, pekikan yang ia keluarkan begitu memekkakan telinga hingga Roseta yang tengah mencocol pipi tirus penuh lebam milik Theo dengan kapas yang dibasahi alkohol lantas tak sengaja tertekan lebih dalam dan pria itu meringis, sakit, sudah pasti.


"Ups, sorry, beneran nggak sengaja, ulah anakmu itu," ucap Roseta lirih, ia sedikit melunak dari sebelumnya. Mungkin karena keadaan Theo.


Theo tidak marah, malahan ia tersenyum tipis dengan menimpali, "Anak kita, bukan aku doang, kita buatnya barengan kok."


"Aw, sakit sayang."


Roseta menghela napas berat, total mengabaikan sampai menulikan telinga setelah menekan sengaja kapas lebih dalam sampai Theo memekik dengan panggilan sayang. Hello. Pria itu terlalu gamblang dengan ucapannya, pun saat mulut sexynya spontan menyebut kata sayang, ada gelenyar aneh yang mendadak menyerbu hati Roseta.


"Eh mommy, adek lihat ya," Bryna berbicara keras dengan mata menantang ibunya. "Pelanggaran Mom, nggak boleh nyiksa pasien, itu main tekan, daddy kesakitan." protesnya melanjutkan.


Roseta mengubah pandang ke arah Bryna dengan sorot lelah, ada-ada saja pikirnya, ia selalu kalah dengan semua Daddy yang dimiliki Bryna, tidak Jay ataupun Theo, semuanya pasti dibela putrinya. Jujur, Roseta tidak cemburu, malahan ia tersenyum kecil dalam hatinya.


"Bryna sayang, sweetynya daddy, ini sakit banget, mommy kamu jahat," adu Theo kekanakan setelah putrinya berdiri tepat di depannya.


Roseta merotasikan bola matanya, inginnya merotasikan bumi berlawanan dengan arahnya, namun ia sadar tidak bisa melakukannya. Memilih diam daripada ocehan Bryna berlanjut sampai tahun depan. Theo juga begitu, main adu kepada putrinya, membuat Bryna seketika membinarkan matanya.


"Daddy, inginnya Bryna tadi nolongin, tapi Liliana auntie serem." ungkap Bryna beserta duduk disamping Theo.


"Adek nonton!" Seru Roseta tidak percaya.


Bryna mengangguk lalu melihat iba ke arah ayahnya. Sedangkan Theo sontak membolakan matanya. Malu. Sudah pasti. Tidak tahu juga jika putrinya menonton pemandangan yang seolah menunjukkan jika Theo lemah. Pria itu bersumpah. Ia tidak lemah, hanya menerima apa yang seharusnya didapatkan. Bahkan jika Liliana membunuhnya, ia bersedia.


"Bryna bangga, karena daddy hanya diam," Bryna menjeda ucapannya sampai bokongnya menyentuh sofa empuk di samping Daddy-nya. "Bryna tidak tahu alasan kenapa Liliana auntie mukulin daddy, tapi yang jelas, mommy harus jawab rasa penasaran Bryna, daddy pasti juga penasaran 'kan?" lanjutnya diakhiri dengan memandang Roseta yang ada di depannya.


Roseta sontak termanung. Seperti di interogasi penyidik yang baru saja menemukan pelaku kejahatan. Lihat saja, raut muka Theo yang mendadak berubah drastis dengan kepala ditengadahkan tanda mendesak, juga, putrinya itu lho mukanya sok polos, rasanya Roseta ingin memasukkan kedalam perutnya lagi.


Roseta menghembuskan napas berat, menundukkan kepala, seakan mengumpulkan tenaga sampai ia benar-benar siap dengan jawabannya, Roseta menatap Theo pun Bryna lagi dengan keyakinan yang sudah ia kumpulkan.


"Theo, apa kau ingat dulu aku pernah bercerita  tentang sahabatku dari Thailand?"


Theo, orang dengan otak encer dan daya ingat tajam yang sayangnya bodohnya kebangetan untuk urusan percintaannya sendiri itu langsung saja cepat tanggap. "Jadi, Liliana, dia sahabat kamu?" tanyanya tanpa ragu.


Roseta mengangguk, "Aku bertemu dia lagi di Negara A, dan, ya, aku cerita semuanya, semua yang aku alami, kecuali tentangmu yang masih aku rahasiakan. Aku juga tidak tahu kalau akhirnya malah kau sendiri yang mengumbar kepada Jeko, ngundang kesini pula, cari mati memang, sudah tahu Liliana itu kalau ngamuk kayak apa."


"Ya, aku kan nggak tahu, coba kamu kasih tahu dulu."


"Harusnya apa-apa ngomong dulu, jangan seenaknya."


Theo tidak terima dituduh. "Mananya yang seenaknya, aku cuma ngasih berita bagus ke Jeko, cuma dia."


"Gimana mau bahas kalau kamu ngehindarin aku terus, aku ngasih tahu Jeko dan Liliana biar kamu ngerasa nyaman, karena aku tahu kalian saling kenal, kita sama-sama kenal."


Bryna diam menyimak, sedikit banyak paham, tidak mau masuk dalam obrolan, karena ia juga sadar belum dewasa. Bryna hanya ingin tahu alasan saja, sampai disini ia ingin menyudahi.


"Oke, Bryna keatas dulu, dad, mom. Bryna udah paham. Jangan berantem terus, nanti cepet tua," ucapnya mendadak menghentikan Theo dan Roseta yang sedang berdebat.


Roseta lagi-lagi menghembuskan napas lelah, kali ini lebih harus meningkatkan rasa sabar. Sedangkan Theo hanya tersenyum tipis, tengilnya Bryna sangat menggemaskan dimatanya, seandainya, sejak dulu Theo tahu. Ah, lupakan soal itu, Theo benar-benar merasa bodoh.


Sepeninggal Bryna, Roseta melanjutkan untuk mengobati sikut Theo yang ternyata tergores lantai saat jatuh. Sedikit ada darah. Roseta terlalu fokus sampai-sampai tidak sadar jika Theo memandangnya dengan penuh kekaguman dan kerinduan. Pria itu sangat merindukan Roseta.


"Aku rindu kamu," ucap Theo lirih.


Jantung Roseta rasanya ingin berhenti saja. Meskipun sangat pelan, ia tetep bisa mendengar, jarak keduanya sangat dekat. Roseta berdehem tanpa niat menimpali. Benci masih mendominasi meskipun setiap hari yang ia rindu hanya Theo.


"Aku rindu kamu," ucap Theo mengulang.


"Aku membencimu."


Roseta mengatakan tanpa memandang Theo, sengaja, karena memang tidak mau melihat bagaimana ekspresi diwajah pria itu. Roseta tetap mati-matian membangun dinding kokoh untuk pertahanan. Mungkin memang semua berawal dari kesalah pahaman, tapi Roseta sudah terlalu banyak kehilangan, termasuk Braga. Ego begitu menguasai, Roseta takut terlena dengan Theo, trauma juga. Bagi Roseta mencintai itu sangat menyakitkan.


"Maaf."


"Aku disini karena Bryna. Aku tidak mau mencari kebahagiaan dimana aku dulu dihancurkan."


Ucapan Roseta barusan membuat Theo tertekan. Ingin Theo memperbaiki, semua sudah dijelaskan, bukan serta merta karena penghianatan. Sebegitu sulitnya Roseta memaafkan.


"Aku harus bagaimana biar kamu bisa kembali?"


Roseta tersenyum kecut dalam tunduknya. Tangannya perlahan turun untuk saling meremat jari, matanya memanas. Pertanyaan Theo terasa sangat hangat dengan nada lirih. Roseta tidak ingin terenyuh, tapi hatinya seperti dipeluk.


"Bisa hidupkan Braga lagi? Kau bisa?"


Mungkin pertanyaan itu begitu konyol. Menghidupkan orang mati. Apa ia pikir Theo adalah Dewa kehidupan. Bahkan jika ia seorang Dewa, tetap saja tidak bisa mengalahkan takdir Tuhan.


"Tidak bisa bukan? Jadi berhenti bertanya!" imbuh Roseta.


"Kamu sengaja menyulitkanku Roseta. Egomu sangat besar." cerca Theo yang merasa dipermainkan. Emosi, pria itu sedikit tersinggung.


Roseta berani mendongak, menatap tajam manik mata jelangga milik pria didepannya. "Anggaplah begitu, aku tidak perduli." ucapnya tenang.


Selepasnya, Roseta membereskan peralatan kesehatan untuk ditempatkan ke tempat semula, membiarkan Theo yang masih termanung sendiri di sofa. Roseta tidak perduli walau bagaimanapun hatinya begitu nyeri.