ROSETA

ROSETA
BAB 6



~drrt drrrt


ditatapnya nama yang tertera di ponselnya "KAK NINDY" ditolaknya panggilan tersebut namun lagi-lagi ponselnya berbunyi dengan nama yang masih tertera


" kok kak nindy telfon terus? ada apa ya? jarang banget dia begini? apa ada masalah penting? " batin roseta


( "kak, kirim chat aja, lagi ada dosen gak bisa angkat!" ) ujar roseta seraya meletakkan kembali ponsel ke dalam saku


( "papa masuk rumah sakit ros, tante mia tadi ngabarin kakak, ini kakak lagi perjalanan ke sana, rumah sakit permata kamar dahlia 302" ) balas nindy roseta yang membaca pesannya pun kaget karena setahunya papanya tak pernah menderita penyakit apapun


( "baiklah kak nanti roseta kesana kalau udah pulang" ) balas roseta lalu memasukkan kembali ponselnya, rosetapun memperhatikan materi yang disampaikan dosen namun tak ada satupun yang masuk ke roseta, sedari tadi dirinya hanya memikirkan tentang papanya, rosetapun memaksakan dirinya untuk fokus terhadap materi yang diberikan


tak terasapun jam kuliah roseta selesai, dia bergegas untuk keluar kelas


" ros, loe mau kemana kok buru-buru gitu?" jawab brian yang sudah menunggu roseta di depan kelasnya, roseta memandang brian dengan mata merah menahan tangis


" loe kenapa ros, kok mata loe merah? loe nangis? ada apa ros? " tanya brian terus menerus


" papa gue, brian " isak roseta


" udah udah ceritanya pelan-pelan biar aku juga nggak ikut panik lihat kamu nangis gini " jawab brian mengusap air mata roseta kemudian beralih mengusap punggung roseta berharap roseta tenang lalu mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi


" papa gue masuk rumah sakit brian " jawab roseta dengan air mata yang terus mengalir


" serius loe? yaudah gue anter! tapi pakai motor, gak apa-apa kan? " jawab brian


" iya gak apa-apa, kita berangkat sekarang aja ya di rumah sakit permata, loe tau kan " tanya roseta


" iya gue tau, yuk cepetan ke sana! " jawab brian, mereka pun berjalan dengan tergesa-gesa keluar kampus, roseta menunggu brian di dekat gerbang kampus, sedangkan brian mengambil motor, tak lamapun roseta melihat brian dan bergegas menaiki motor, mereka pun berlalu meninggalkan kampus menuju ke rumah sakit


----Di Rumah Sakit----


roseta dan brian pun berjalan menuju lift dan menekan angka 3


~ting~ pintu lift terbuka


rosetapun berlari dan diikuti brian dari belakang dia pun menuju kamar no 2 tangannya bergetar membuka pintu kamar


" kak? " menyapa kakaknya yang terduduk di samping tempat tidur papanya dengan wajah cemas


" ros, papa ros " jawab nindy dengan suara menahan tangis " kakak, nggak tau kenapa papa bisa gini, kata dokter papa terkena serangan jantung " jawab nindy menuturkan apa yang dia ketahui


" kok bisa kak? terus kemana tante mia? katanya tante mia tadi yang ngehubungi kakak? " jawab roseta melihat ke arah papanya yang sedang terbaring lemah


" tante mia ... dia hanya menghubungi kakak dan yang membawa ke sini mang asep " jawab nindy


" lha terus tante mia itu sekarang dimana kak, papa sakit malah dia gak ada, aku kira dia ada disini " jawab roseta dengan raut muka bertanya-tanya


" entahlah ros kakak gak tau, dia hanya bilang suruh kakak dan kamu menjaga papa, mang asep kakak tanya, dia bilang tante mia dirumah, terus kakak tanya lagi kenapa tante mia gak disini, asep diem aja terus pamit pulang karena cuma disuruh nganter papa ke rumah sakit habis itu suruh langsung pulang " tutur nindy dengan wajah lemas dan sedih akan keadaan papa nya kini, terlebih lagi mia yang kini menjadi istri papa nya tak peduli dengan keadaan papa nya, rosetapun mengerti apa yang dirasakan kakaknya kini


" ros, maaf ganggu nih, gimana keadaannya om? " tanya brian


" oh iya brian maaf gue ninggalin loe dan buru-buru masuk " jawab roseta


" makasih ya, kamu sudah nganter roseta kesini " ucap nindy " kata dokter papa kami udah mulai stabil mungkin bentar lagi bangun, oh ya kalian udah makan? " jawab nindy menatap brian dan roseta


" oh roseta sama brian tadi udah makan kak, sebelum roseta masuk kelas " jelas roseta, dan suasanapun kembali hening


~drrrttt drrrtt bunyi ponsel brian membuyarkan keheningan


(" assalamualaikum, hallo ma ") jawab brian


(--------------------------------)


( " ini brian lagi jenguk papanya temen ma ") jawab brian


(--------------------------------)


( " iya brian bisa kok ma, bentar lagi brian sampe rumah, assalamualaikum ") jawab brian mengakhiri telfonnya,


" kak nindy, roseta, aku pulang dulu ya soalnya mama minta antar ke rumah tante, semoga om lekas sembuh" jawab brian berpamitan ke roseta dan kak nindy


" iya brian, amin makasih doanya" jawab kak nindy


rosetapun berjalan keluar bersama brian mengantar kepulangan brian


" makasih ya brian, kalau gak ada loe mana mungkin bisa cepet sampai sini " jawab roseta


" iya ros, udah ah makasih mulu dari tadi, gue pulang dulu ya " jawab brian tersenyum ke arah roseta


" iya hati-hati ya, kalau udah sampai kabarin gue " jawab roseta melambaikan tangan dan di jawab dengan anggukan dari brian, setelah brian berlalu roseta bergegas kembali ke kamar


" kak, sebenernya ada apa sih kenapa tante mia gak nungguin papa disini, dan mang asep yang disuruh nganter! " jawab roseta dengan suara menahan amarah


" sepertinya dia gak mau direpotkan dengan keadaan papa yang seperti ini ros " jawab nindy memandang papa nya


" ya gak bisa gitu dong kak, kalau orang lain yang sakit boleh dia begitu. lah ini kan papa suaminya dia bukan orang lain " jawab roseta


" sudah lah ros, biarlah, dengan seperti ini juga kita bisa berbakti kepada papa " jawab nindy dengan mengenggam tangan papanya " nanti kalau papa bangun kamu jangan ngomong yang macem-macem ya, soalnya tadi dokter bilang papa gak boleh syok, kalau syok bisa kambuh lagi " jelas nindy mewanti-wanti adiknya


" iya kak, aku ngerti kok " jawab roseta mereka pun berjaga sampai papa nya bangun


Sementara di kediaman Wijaya


" edi, siapkan obat yang kemarin aku minta, kini saatnya kita beraksi " pinta wanita tersebut


" siap nyonya, saya akan menyiapkannya " jawab lelaki tersebut


" dan satu lagi edi jangan sampai ada jejak bukti mengarah ke kita " pinta wanita itu lagi


" baik nyonya " jawab lelaki tersebut dengan membungkukan badannya


" bagus dengan begini aku dapat dengan mudah melenyapkan wijaya berserta anak-anaknya " batin wanita itu dengan senyum penuh licik dibalik paras cantiknya