ROSETA

ROSETA
Kembali



Sarah menarik tangan Liliana yang hendak menerobos kamar Roseta. Pasalnya wanita yang sudah pingsan sejak satu jam yang lalu sama sekali tidak memberikan pergerakkan sedikitpun.


"Jangan masuk dulu, dia sedang menenangkan diri. Aku yakin kamu bakal di diami."


"Tapi dia baik-baik saja 'kan?"


Sarah memijat pangkal hidungnya. Pusing. "Tidak bisa dikatakan baik. Satu-satunya orang yang dibutuhkan hanya Theo."


"Kamu bercanda." Liliana tersungut-sungut. "Theo hanya akan menambah Roseta semakin tertekan."


Roseta memang sering mengatakan jika ingin berpisah, bahkan sudah terealisasiakan. Tapi sebagai Sarah yang tahu sejarah keduanya, beranggapan jika Theo disini, Roseta pasti akan lebih tenang.


Benar saja, secara mendadak sosok Theo menerobos masuk. "Dimana kamar Roseta?"


"Disana." Jawab Sarah tanpa sedikitpun ragu.


Lagi, Sarah menarik tangan Liliana yang akan berlari mengejar Theo, berniat menggagalkan rencana pria itu untuk masuk ke kamar Roseta.


"Sarah. Kamu melarangku masuk tapi mempersilahkan Theo begitu saja."


"Please, Lili, ini urusan mereka. Percaya padaku."


...****************...


Roseta tidak pernah membayangkan berseng**ma dengan orang lain selain Theo. Dalam konteks ini, tubuh Roseta lah yang paham, jika ia terlalu setia hanya disentuh satu orang saja.


Namun.


Kenyataan manipulasi membuatnya menjadi begitu kotor. Ia bersumpah bukan jijik dengan Jay, tapi melihat potongan video itu sungguh membuatnya begitu mual.


Tapi saat memikirkan ulang jika itu hanyalah manipulsi membuat jantungnya memelan untuk berdetak. Kenyataan tak seburuk itu.


Matahari sangat terik dan cahaya yang mengintip lewat jendela begitu terang. Roseta memiringkan badan dengan kedua telapak tangan yang menopang kepala, matanya melihat ke arah nakas dimana photo Bryna dan Braga berada diatasnya.


Napas Roseta memberat saat suara derit pintu membuka terdengar, disusul ketukan sepatu yang semakin lama mendekat. Aroma lavender yang amat Roseta tahu siapa pemiliknya menusuk hidung.


Roseta pura-pura menutup mata.


Namun sia-sia saat matanya mendadak terbuka ketika Theo menyentuh pundaknya, maka setelah itu Roseta menepis tangan Theo dari sana, membalik badan untuk menghindari tatapan pria itu.


Theo melihat punggung Roseta bergetar. "Baik, aku akan keluar kalau kamu sendiri tidak suka dengan kehadiranku. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."


Roseta tidak tahu kenapa dadanya semakin sesak mendengar penuturan lembut beserta niat pria itu untuk pergi.


Theo menatap punggung Roseta dengan sedih. "Maafkan aku, untuk keadaan terakhir kita waktu itu."


Praktis membuat Roseta ingat kejadian saat di Negara A.


"Beserta hari-hari melelahkan akibat ulahku, delapan tahun yang lalu sampai sekarang. Aku minta maaf."


Justru yang diingat Roseta kali ini bukanlah suatu kenangan menyedihkan. Hangat jemari saat menyatu, tawa Theo yang begitu renyah hanya dengan membahas hal yang tak begitu lucu, ungkapan cinta berkali-kali dari pria itu yang begitu tulus. Roseta mengingatnya, semua, kenangan manis yang tak pernah akan bisa ia lupa.


Theo tidak bisa menahan untuk tidak mendekat saat punggung Roseta semakin bergetar hebat. Theo memutari ranjang hingga menemukan Roseta yang sudah berlinang air mata. 


"Maaf.." Theo mengulurkan jemari untuk mengusap pipi Roseta lalu meraih tangan wanita itu untuk dielus sebentar, bahkan Theo harus menunduk di depan bibir ranjang. "Berhenti menangis, semua baik-baik saja. Percaya padaku. Aku pergi."


Namun. Sebelum Theo berhasil berdiri dengan penuh, Roseta lebih dulu mencengkram lengan berbalut kemeja milik pria itu. "Jangan."


Roseta menggelengkan kepala dengan derai air mata yang lagi-lagi tumpah tanpa ia paksa, membilu dengan sedihnya, bingkaian kepiluan yang dapat dengan cepat meruntuhkan hati Theo, untuk kesekian kali.


Berjalan menggunakan lutut untuk mendekat, tanpa Theo duga, satu kehangatan muncul di leher saat Roseta menyembunyikan isak disana, mengalungkan kedua lengan di belakang kepala si pria. "Ku mohon, jangan pergi, aku ingin bersamamu, Theo."


Maka Theo tak mau membuang kesempatan, membalas pelukan, lebih erat.


"Temani aku tidur."


Maka setelah kalimat ajakan tersampaikan, Theo menggiring Roseta yang masih menempel penuh dibadannya untuk dibaringkan di atas ranjang. Benar-benar tidur, menutup mata, Roseta sudah mau berjalan di alam mimpinya.


"Theo, mulai sekarang kamu milikku, jangan pergi, lagi." bagi Roseta, Theo adalah rumah, tempat dimana ia pulang. Seharusnya, sedari dulu.


Sumpah demi Tuhan. Theo tidak pernah dapat pernyataan seperti ini. Dari Roseta.


...****************...


Kecewa. Satu kata dengan definisi yang berbeda-beda. Kebanyakan orang beranggapan jika rasa amarah dan emosi yang terlampau besar tidak bisa dibandingkan dengan rasa kecewa. Keduanya memiliki arti yang tidak sama.


Diamnya adalah kekecewaan, mengalahnya adalah kekecewaan, acuhnya adalah kekecewaan. Ia bisa marah, sangat bisa, tapi itu tidak cukup. Pergi membawa kekecewaan jauh lebih baik.


Mana bisa Roseta memutar waktu. Ia tahu jika ia dulu masih sangat muda. Harusnya ia bisa memilih langkah yang tepat untuk masa depannya. Bukan malah membumbung ego dengan meninggalkan Theo begitu saja atas dalih rasa kecewa.


Menyesal?


Sudah pasti. Tapi Roseta hanya manusia. Rasa sakitnya terasa sampai ke tulang, meremat jantung dan organ dalam lainnya, hingga ia memilih untuk lari saja.


Pengalaman apa saja yang sudah dilewati wanita itu?


Banyak.


Mulai dari hatinya yang lebam akibat pukulan, goresan luka yang menganga lebar, ditambah ia memilih untuk meneteskan jeruk nipis di setiap borok yang bersarang disekujur tubuhnya, cari penyakit, jelas bukan jika luka semakin terasa perih dengan cairan itu. Yasudah, semua telah berlalu, sampai fase dimana Roseta bisa seperti ini.


Memaafkan segalanya.


Semua sudah dilewatinya. Sungguh. Hatinya sudah sembuh. Roseta tertawa, menertawai dirinya sendiri jika mengingat lagi bagaimana ia menaruh hati tanpa tahu caranya kembali.


Hanya kepada Theo.


"Bagaimana keadaan diluar. Katamu baik-baik saja bukan? Tapi aku penasaran." Masih dalam rengkuhan Theo semenjak dua jam yang lalu. Roseta akhirnya bersuara.


Roseta memang masih bersamanya. Semenjak dua jam yang lalu, setelah Theo memasuki kamarnya, wanita itu betah berada dan bersembunyi di dekapan si pria.


Jam menunjukkan pukul dua belas.


Suasana diluar cukup panas.


Dan waktunya anak-anak hampir pulang.


Roseta praktis memberi jarak, alisnya menyatu. "Apa maksudnya?"


"Sebentar," Theo merogoh ponsel dalam kantung celana. "Ayo duduk dulu." ajaknya.


Roseta yang diminta begitu akhirnya duduk. Keduanya sedikit mundur hingga kedua punggung menyandar di dashboard ranjang.


"Aku yakin, beritanya sudah sangat ramai. Siapkan jantungmu."


Memang tak menunggu waktu begitu lama. Setelah Theo memberikan ponselnya, Roseta dengan konsentrasi penuh menyimak apa yang terjadi tanpa sepengetahuannya.


Theo lamat-lamat mengamati Roseta yang sama sekali tidak bisa dibaca, wanita itu diam, tidak eskpresif, padahal, setahu Theo, apa yang berputar dalam video itu sudah mampu membuat geger se-penjuru Negara ini.


"Kamu tidak apa-apa?" Takut-takut Roseta merasa tertekan lagi, makanya Theo berani bertaya.


Roseta menaruh benda persegi itu di balik telapak tangannya. Menggeleng pelan, lalu menoleh presensi Theo yang masih menunggu jawaban darinya.


"Sudah sangat terlambat untuk terkejut. Aku tidak benar tahu dengan anak-anakku, kenapa mereka seberani itu. Seingatku, aku tidak pernah memberi makanan aneh-aneh kepada mereka, Theo. Porsi makan sehat lima sempurnapun aku sajikan dengan pas. Tidak lebih dan kurang, masih sama dengan anak-anak lainnya."


Theo terpengarah dengan penjelasan terlampau melebar kemana-mana sampai membawa asupan makanan segala, bahkan tak ada ekspresi dari raut wanita disampingnya. Alih-alih mendengar dengan serius, Theo justru lebih gemas daripada itu.


"Keadaan yang membuat mereka berani."


"Aku tidak tahu, Theo. Aku benar-benar tidak tahu harus takut atau bersyukur."


Dahi Theo praktis mengerut. "Takut?"


Menarik bantal untuk dipeluk, Roseta merasa harus berbicara banyak dengan Theo mengenai keadaan saat ini.


"Jangan seret Yura ke penjara." 


"Aku berharap, kali ini saja, biarkan aku melakukan hal benar." Theo menolak.


"Theo. Dengarkan aku. Aku yang membuat situasi ini. Aku yang membuat Yura sampai marah dan akhirnya melakukan tindakan ini. Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Aku tahu, dia sangat marah."


Roseta jelas tahu serangannya itu membuat Yura semakin berang. Contohnya saja sudah jelas. Tapi disaat emosi akibat berita tidak benar mulai dilayangkan, lantas apa yang bisa Roseta lakukan selain menunjukkan posisi sebenarnya. Dimana hanya ia yang selalu ada di hati Theo, kondisi saat itu sangat tepat untuk dibuat ajang pamer tanpa tahu akhirnya semakin membuat Yura semakin tempramen. 


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Aku cuma pamer, kalau kamu hanya mencintaiku. Itu saja. Tapi dia sangat marah. Bayangkan jadi aku, mana ada aku marah padahal kamu sudah berumah tangga dengan Yura, bahkan selama itu."


Manusia memang paling ahli dalam menyembunyikan perasaan, membohongi lewat tutur terlewat tenang bahkan dengan ekspresi dan gelagat yang tak bisa dibaca keresahannya. Roseta contohnya, wanita itu diberi kelebihan dalam hal mengelabuhi, menyembunyikan kepedihan dibalik tembok baja, tak bisa ditembus.


Theo tahu betul tentang itu.


Theo mengenal Roseta sangat lama. Bahkan masih begitu sulit mana yang benar, antara Roseta benar-benar marah atau pura-pura biasa saat mengatakan hal barusan.


Masih dengan hal yang sama. Tidak terbuka, padahal Theo sudah meluapkan segalanya. Perasaannya, kesalahannya, bahkan semua.


Tapi satu fakta memberikan jawaban, tanpa Theo harus menerka-nerka, kenyataan Roseta tumbang sampai pingsan adalah bentuk dari rasa frustasi begitu besar, wanita itu dalam keadaan terburuk.


"Maafkan aku."


Theo tetaplah orang yang salah. Jika tahu Roseta begini, Theo tidak akan menunjukkan video tadi. Sepertinya ponsel itu lebih menarik daripada Theo karena detik ini Roseta kembali fokus untuk melihat durasi yang masih tersisa, karena Roseta mengulang dari awal.


Theo menarik lembut ponsel miliknya. "Nonton apa lagi? Sudah sini."


Roseta melirik sejenak, memberi tatapan datarnya. "Kamu tidak akan paham dengan isi kepalaku, aku masih ingin menonton ulang."


Theo jelas tidak tahu isi kepala Roseta. Jika saja Tuhan bisa melibatkan manusia lain untuk bisa mengetahui isi kepala sesama, mungkin Theo tidak akan berbasa-basi untuk bertanya. Tapi jika itu benar terjadi, maka manusia tidak akan bisa memiliki berbagai rasa, mungkin dunia tidak akan semenarik ini.


Tapi Theo tetap mengangguk setuju. Ya mau bagaimana lagi. "Apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini?" Tanyanya disela jemari yang mengelus surai wanitanya.


Roseta berdecak, tentu, sangat sebal jika mengingat. "Mau apa lagi, aku menjadi pengangguran. Aku tidak di ijinkan kemana-mana, jujur aku bosan."


"Ceritakan kepadaku, aku ingin dengar, apapun, apa yang kamu lakukan."


Akhirnya Roseta menaruh ponsel. "Aku membuat kue kering untuk anak-anak. Aku mulai berpikir, mungkin membuka usaha roti bukan ide buruk jika aku tetap tidak boleh bekerja di rumah sakit. Aku hanya akan tinggal di dapur."


Roseta berpikir sejauh itu ternyata. Theo mengulum senyum tertahan. Cerocosan wanitanya sangat ia rindu, dengan dalam. Usahanya untuk membuat Roseta berhenti fokus dengan ponsel membuahkan hasil.


"Terus apa lagi?" Masih dengan posisi yang sama, jemari Theo tak berhenti memberikan elusan, kadang berpindah diujung kepala, atau juga mengukur rambut Roseta dengan telapak tangannya.


"Akhir-akhir ini aku tidak tahan dengan Sarah, Maria dan Liliana. Mereka membuatku pusing. Aku benar-benar dipenjara. Ajak aku keluar, aku ingin merasakan udara luar, berjalan-jalan ditaman, bergandengan tangan. Aku tidak ingin melihat mereka bertiga, terutama Liliana."


Lucunya, menggemaskan. Ujar Theo dalam hati.


"Ada apa dengan Liliana?"


"Dia mempengaruhi otakku."


"Dalam hal apa?"


Roseta diam sejenak.


Sebelum Roseta menjawab, wanita itu menunduk, menyembunyikan seyum malu-malu. "Liliana menyuruhku untuk melupakanmu. Mana bisa. Aku tidak bisa."


Nah. Kan.


Theo tertawa seketika itu juga.


Jadi Roseta merasa marah saat orang lain memaksa ia melupakan Theo sedangkan beberapa kali dengan mulutnya sendiri mengatakan ingin berhenti. Benar bukan jika Roseta ini sangat menggemaskan.


"Lalu?"


Roseta tampak ragu sebelum ia memberanikan diri mendekat kepada Theo. "Jadi Tuan Pandega. Apakah anda berjanji tidak akan meninggalkan saya lagi?"


Theo tampak berpikir, bertindak seperti bermain-main. "Maunya bagaimana?"


Roseta menyibik sebal. "Kamu ingat Kristian? Teman kita SMA. Dia sekarang jadi pilot, kamu tahu 'kan aku sangat menyukai pria seperti itu, jadi.."


Sebelum Roseta bisa menuntaskan ancaman untuk lari ke pria lain, Theo dengan cepat membungkam mulut wanita itu, praktis membuat Roseta terkejut, lapisan kulit di bibirnya menghangat, di campur basah. Theo tidak hanya menempelkan, tapi memakannya sekaligus.


"Mommy, Daddy."