
Negara digegerkan dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Koruptor, pengusaha licik sampai beberapa bank sebagai tempat penyimpanan uang gelap terbuka di khalayak umum dimana semua tersangka berterkaitan dengan Folltress si tua bangka mafia incaran Theo.
Good job.
Satu-satunya tempat yang saat ini sedang ramai ingin ditindak lanjuti oleh aparat yang syok dengan berita ini adalah dermaga ujung kota, dimana tempat itulah yang sebagian besar menjadi wadah transaksi utama yang berkaitan dengan Folltress, yang diberitakan di seluruh penjuru melalui videotron.
Tepuk tangan untuk Braga.
Dengan begini, rencana Theo total mulus berjalan dengan lancar.
...****************...
Lima belas menit yang lalu—Bandara Samanta.
Theo bersama team memusatkan pandangan pada salah satu orang—intrukstor pengawas. "Berapa lama lagi?" Theo bertanya.
Instructor berjenis kelamin laki-laki itu mengamati penuh layar besar di depannya. Melihat dimana titik letak pesawat yang sedang membawa tubuh Folltress beserta antek-anteknya. "Lima belas menit lagi Tuan." jawabnya.
Theo mengangguk, pria itu keluar ruangan setelah menoleh ke arah Saga yang sudah bersiap dengan ipad ditangannya. "Bang, terimakasih." ucap Theo dengan senyum tipis.
Sangat tiba-tiba dan kalimat itu membuat Saga menyerana hingga menatap Theo dengan iba. "Tugasku," jawabnnya.
"Theo, apa kau yakin? Masih ada sisa lima belas menit sebelum kau membataklan semua ini?"
"Dan seumur hidup anakku dalam bahaya. Begitu Jord?"
Jordan memegang kepala, pening mendadak melanda. Mungkin benar yang dikatakan Theo, tapi mungkin juga ada cara lain selain ini. Namun satu fakta yang harus pasrah diterima adalah, Jordan tidak mampu memberi masukkan untuk ide selain ini.
"Tolong pastikan saja hal ini tidak bocor ke khalayak ramai." Pinta Theo.
Jordan mengangguk.
Rencananya memang begini. Theo memutar otak. Kenapa Theo memilih bandara Samanta dari pada dermaga ujung kota?
Karena, jika saat ini Theo berada disana, maka keterlibatan Theo dengan Folltress akan terbuka di media massa mengingat betapa banyaknya orang yang sudah berada di dermaga ujung kota akibat berita yang baru saja tersebar.
Disaat orang yang berada diluar rencana sibuk mengurus dermaga ujung kota, Theo memanfaatkan keadaan untuk menangkap Folltress beserta dirinya di bandara Samanta hingga orang-orang yang tak terlibat tidak akan pernah tahu jika Theo pernah mengalami hal tersebut—untuk keamanan masa depan.
“Theo atur posisi.”
"Siap. Aku jalan." Theo menjawab dan segera, meninggalkan Saga dan Jordan yang saling menatap pandang. Sudah waktunya.
Suara Jay mendadak masuk ditelinga Theo melalui alat dengar canggih pemberian Saga. Pria yang berstatus menjadi pemilik bandara Samanta adalah otak dari jalannya rencana, mengatur strategi dan tempat bersembunyi yang apik buat para peringkus kejahatan Negara.
Jay berada ditempat gedung paling tinggi, mengawasi dari kejauhan dengan mata terbuka lebar, sangat serius, biar bagaimanapun, ini semua tentang Braga.
Di sisi kanan, Team Alpha yang sudah bersiap dengan posisi sigap. Sedangkn di sisi kiri, banyak polisi dan berbagai aparat yang tak kalah sigap juga. Untuk posisi yang berlawanan dengan kehadiran Folltress, team AIA lah yang mengisi, tak tanggung, lebih dari 30 orang sudah berjaga-jaga disana.
Bagaimana peran Martinus?
Jay tak habis pikir bagaimana ayahnya yang sudah tua itu mengenal para agen AIA Negara A dan mampu membawa orang-orang penting itu ke Negara ini, jika dibandingkan dengan Jay, ia sungguh sangat malu mengingat tak bisa melakukan hal lebih daripada hanya sekedar mengawasi rencana, seperti pengecut.
Membawa teropong untuk mengintai sekitar, Jay menemukan Folltress membawa antek-antek 25 orang yang sudah turun dari pesawat, disana sudah berdiri Theo yang bersiap menerima barang terlarang.
Barang terlarang?
Berpuluh-puluh peti berisikan barang kebutuhan dasar elektronik KW sudah tergeletak dan berjejer, siap untuk dimiliki oleh Theo.
Ya, satu hal lagi yang tak bisa dipikir oleh akal sehat Jay. Theo mempertaruhkan hidupnya untuk mempermainkan Folltress. Menerima penawaran kerja sama dengan mengganti barang-barang kualitas rendah untuk membuat produk elektronik di pabrik dengan merk milik Theo. Jay juga baru tahu salah satu merk terkenal barang-barang kebutuhan game itu adalah milik Theo.
Entahlah.
Yang pasti, Jay merasa sangat ciut untuk keberanian Thei.
Disaat Folltress dan Theo sudah akan berjabat tangan, semua team penyergap menyerbu dan menodongkan senjata.
"Angkat tangan." Salah satu orang berseru keras.
"Put your hands behind your head, interlock your fingers." Bisa dipastikan salah satu agen AIA yang mengatakan hal tersebut.
Theo yang berada disana lantas mengangkat tangannya dan membalik badan, di depannya sudah ada team Alpha yang mengelilingi satu kaptennya beserta petinggi aparat Negara.
"Tuan Matheo Ranu Pandega, anda diduga bersekongkol dengan Folltress untuk memalsukan barang dagangan merk Vante. Mengganti produk asli menggunakan bahan dasar palsu. Dengan pasal yang ditetapkam, kami mendapat surat perintah untuk menahan anda. Silahkan ikut kami dan beri penjelasan."
Dengan begitu, Theo mengikuti kawanan petugas yang mengintrupsinya.
Sedangkan Folltress. Tua bangka itu sudah diseret oleh AIA dengan arah berlawanan dari Theo, otomasit keduanya terpisah oleh aparat masing-masing Negara.
Folltress sudah tidak heran juga jika ia tertangkap basah, karena ini bukan untuk pertama kalinya.
Bisa lolos?
Tentu saja.
Kerena uang berbicara.
Lalu? Bagaimana setelah ini.
Theo sudah memastikan jika Folltress tidak akan pernah keluar dari buih. Hal itu juga dipertegas oleh Martinus yang siap pasang badan untuk memastikan hal itu terwujud.
Theo tersenyum, dalam sela berjalan mengikuti intruksi, pria itu merogoh ponsel, menghubungi seseorang. "Robert. Kau bisa keluar, dengan wujud aslimu. Kepura-puraan sudah berakhir. Maaf dan terimakasih."
“How about you?”
"Aku?" Theo tersenyum. "Aku hanya akan berpisah sebentar dengan anak-anakku, harga yang tak setimpal daripada kehilanhan Alenso. Maafkan aku."
Panggilan Theo tutup dengan sepihak. Di depan sana sudah ada Saga, Jordan, Jay beserta Martinus.
"Kau benar-benar gila!!"
"Braga? Kau sudah menghubunginya?"
"Sudah, Rose juga."
Jordan menangis, hal ini membuat pria itu nampak konyol, apa-apaan, wajahnya tak imut sama sekali, membuat Theo bergidik ngeri. "Jord."
"Jika kau berpikir aku menangis karenamau, maka jawabannya salah, aku menagis karena akan direpotkan Bryna untuk waktu yang begitu lama sampai kau kembali bodoh."
Theo tersenyum setelah menepuk bahu Jordan. "Terimakasih, tapi tolong, jangan jatuh cinta pada putriku."
Semua yang ada disana tertawa tanpa tahu jika Theo memendam rasa sedih yang sangat luar biasa. Bahkan bukan hanya Theo saja, nyatanya tangisan Jordan adalah ulah dari temannya ini yang akan pergi beberapa saat lagi dan kembali jika kesepakatan sudah dijanali.
Tidak ada yang tahu nasib seseorang akan bagaimana dimasa depan.
Theo tidak pernah bermimpi akan berurusan dengan hal besar dan mengerikan seperti hari ini. Namun jika bukan karena ini, mungkin Braga yang saat ini sedang menuju untuk menemui Theo tidak akan merasa sesak di dada akibat menangis keras hanya karena kehilangan ayahnya, untuk kedua kali.